Repelita Teheran - Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Majid Mousavi, mengumumkan bahwa pihaknya telah berhasil mengalahkan militer Zionis Israel dalam konflik yang sedang berlangsung.
Jenderal Mousavi menyebut bahwa pasukan Zionis Israel telah meninggalkan kota-kota di wilayah utara akibat serangan masif yang dilancarkan oleh Iran, sementara rudal-rudal Iran juga membuat kekacauan di kota pelabuhan Haifa.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, secara tidak langsung rezim Zionis telah mengakui bahwa kekuatan militer mereka tidak seimbang dengan Republik Islam Iran.
"Dengan meninggalkan kota-kota utara di wilayah pendudukan, rezim (Zionis Israel) praktis telah menerima kekalahan dalam keseimbangan (kekuatan)," kata Brigadir Jenderal Majid Mousavi dalam sebuah unggahan di akun X miliknya yang dikutip dari Tasnim News pada Selasa (7/4/2026).
IRGC juga mengklaim telah membombardir sejumlah aset penting lainnya milik Israel dalam 24 jam terakhir.
“Dalam 24 jam terakhir, kilang minyak, instalasi listrik, pelabuhan, dan jalur kereta api di Teluk Haifa telah dihantam rudal Iran, dan belum ada kabar tentang pencegatan rudal,” bebernya.
Sementara itu, Juru Bicara Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menekankan pentingnya membuat AS dan Israel mengakui penyesalan yang tulus karena telah memicu perang.
Menurutnya, langkah ini penting untuk memastikan perdamaian dan stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah, khususnya bagi Iran.
"Membawa musuh pada penyesalan yang tulus diperlukan untuk mencegah terulangnya perang di masa depan," tegasnya.
Atas dasar itulah, pihaknya akan terus meningkatkan serangan agar musuh tidak akan berani bertindak melawan negara Iran lagi.
Ia juga menegaskan bahwa Republik Islam Iran telah berdiri teguh melawan agresi, menanggapi ancaman, dan dalam beberapa kasus mampu menangkal ancaman musuh.
"Kami dengan tegas menyatakan bahwa musuh telah gagal dalam fase perang ini untuk mencapai tujuannya dan telah mengalami kekalahan," tuturnya.
Baru-baru ini IRGC mengumumkan bahwa mereka telah melakukan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat dan mengusir paksa kapal amfibi AS pada Senin (6/4/2026).
Serangan rudal IRGC menargetkan sejumlah aset penting militer Amerika Serikat dan Zionis Israel, termasuk pangkalan komando, operasional, dan logistik industri militer serta memaksa kapal serbu amfibi LHA-7 Angkatan Laut AS untuk mundur.
IRGC juga mengumumkan bahwa unit Angkatan Laut dan Angkatan Udara mereka telah melakukan serangkaian operasi gabungan selama gelombang ke-98 Operasi Janji Sejati 4.
Pada fase pertama operasi ini, pasukan angkatan laut IRGC mengklaim secara tepat menargetkan kapal kargo Israel SDN7 dengan rudal jelajah hingga menyebabkan kapal tersebut terbakar hebat.
IRGC juga mencatat bahwa pusat-pusat strategis di Haifa, perusahaan kimia dan pabrik-pabrik di Be'er Sheva, serta lokasi pasukan militer Israel di Petah Tikva terkena serangan rudal balistik Iran secara akurat.
"Karena sistem pertahanan udara canggih rezim Zionis tidak mampu mencegat rudal-rudal tersebut," bunyi keterangan dalam kanal berita tersebut dikutip pada Selasa (7/4/2026).
Lebih lanjut IRGC menyatakan bahwa kapal serbu amfibi militer Amerika LHA-7 yang membawa lebih dari 5.000 marinir serta helikopter juga terkena serangan rudal Iran yang cepat, memaksa kapal tersebut mundur jauh ke Samudra Hindia selatan.
"Di bagian lain dari operasi ofensif, pusat produksi drone gabungan UEA dan rezim Zionis bersama dengan sejumlah pesawat yang ditempatkan di Pangkalan Udara Ali Al-Salem menjadi sasaran tepat oleh drone dan rudal," kata IRGC.
Pernyataan tersebut memperjelas bahwa operasi ofensif Angkatan Bersenjata Republik Islam dan kelompok-kelompok perlawanan di kawasan terhadap target musuh akan terus berlanjut.
Republik Islam secara tegas telah menolak tawaran gencatan senjata dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel, dengan keputusan itu disampaikan melalui Pakistan yang berperan sebagai mediator.
Dalam respons yang dituangkan dalam sepuluh poin, Teheran secara tegas menolak gencatan senjata sementara karena dinilai tidak cukup untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok