Berita, Timur Tengah

Iran Buka Akses Selat Hormuz untuk Negara Sahabat, Indonesia Wajib Lobi Diplomasi Agar Kapal Tanker Bisa Melintas

Repelita.net

07 April 2026 17:05 WIB • 1,099 view

Iran Buka Akses Selat Hormuz untuk Negara Sahabat, Indonesia Wajib Lobi Diplomasi Agar Kapal Tanker Bisa Melintas
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran global, terutama terhadap distribusi energi dunia yang bergantung pada jalur strategis Selat Hormuz.

Pemerintah Iran memastikan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup sepenuhnya di tengah konflik yang memanas, namun akses untuk melintasi jalur sempit tersebut kini diberlakukan dengan persyaratan yang lebih ketat.

ADVERTISEMENT

Iran menegaskan bahwa hanya negara-negara tertentu yang diizinkan melintas, terutama mereka yang dinilai tidak melanggar dan bersedia mematuhi protokol keamanan yang diterapkan selama masa konflik berlangsung.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, yang menekankan bahwa faktor keamanan menjadi prioritas utama bagi Teheran dalam mengatur lalu lintas maritim.

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai urat nadi perdagangan minyak dunia, di mana hampir sebagian besar pengiriman minyak global melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Namun di tengah meningkatnya konflik di kawasan, Iran memilih untuk melakukan kontrol ketat terhadap kapal-kapal yang ingin berlayar melewati wilayah perairannya.

Akses tetap diberikan, tetapi hanya kepada negara-negara yang tidak bersekutu dengan pihak yang dianggap musuh Iran, seperti Amerika Serikat dan Israel.

Selain itu, negara pemohon juga harus mematuhi protokol keamanan selama konflik berlangsung, menjalin hubungan diplomatik yang baik dengan Teheran, serta melakukan koordinasi bilateral secara aktif.

Sejumlah negara telah disebutkan secara terbuka oleh pemerintah Iran sebagai pihak yang diizinkan melintas, di antaranya Rusia, Tiongkok, India, Pakistan, dan Irak.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa kapal dari negara-negara sahabat tersebut diizinkan melintas karena tidak bekerja sama dengan pihak yang dianggap sebagai musuh Iran.

Malaysia juga dilaporkan mendapatkan izin melintas, dan Perdana Menteri Anwar Ibrahim secara terbuka menyampaikan penghargaan kepada pemerintah Iran atas izin tersebut.

Thailand menjadi negara Asia Tenggara lainnya yang mendapat izin, dengan pemerintah Thailand memastikan koordinasi bilateral langsung dengan Iran untuk keamanan kapal tanker mereka.

Salah satu kapal tanker Thailand bahkan dilaporkan telah berhasil melewati Selat Hormuz tanpa insiden berarti.

Bangladesh juga masuk dalam daftar negara yang kapal tankernya dapat berlayar tanpa hambatan, karena negara ini dinilai tidak memiliki posisi politik yang merugikan Iran.

Sementara itu, Indonesia tidak termasuk dalam daftar negara yang secara eksplisit disebut mendapatkan izin bebas melintasi Selat Hormuz.

Faktanya, dua kapal tanker milik Pertamina sempat tertahan di kawasan tersebut akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar di Teheran langsung melakukan diplomasi secara intensif untuk membebaskan kapal-kapal tersebut.

Hasilnya, Iran memberikan respons positif terhadap permintaan Indonesia agar kapal tanker tersebut dapat melintas dengan aman.

Namun prosesnya tidak otomatis dan tetap memerlukan negosiasi serta sejumlah persyaratan teknis yang harus dipenuhi.

Beberapa faktor yang membuat Indonesia belum masuk dalam daftar prioritas adalah karena tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai negara sahabat utama dalam konteks geopolitik Iran.

Akses Indonesia pun harus melalui jalur diplomasi terlebih dahulu, sementara situasi konflik yang dinamis membuat izin diberikan secara kasus per kasus.

Meskipun demikian, posisi Indonesia tidak dianggap sebagai pihak yang bermusuhan, terbukti dari adanya komunikasi intelijen yang berjalan cukup positif antara kedua negara.

Situasi di Selat Hormuz menunjukkan bahwa jalur distribusi energi dunia tidak hanya mempengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga dinamika politik internasional yang kompleks.

Di tengah konflik global yang terus berkembang, akses terhadap jalur strategis ini semakin ditentukan oleh hubungan persahabatan antarnegara dan kemampuan diplomasi masing-masing.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung