Berita, Nasional

Hilmi Firdausi Sentil Prabowo: Sama Rakyat Sendiri yang Kritis Kok Dimusuhin Sih Pak

Repelita.net

24 July 2026 20:50 WIB • 694 view

Hilmi Firdausi Sentil Prabowo: Sama Rakyat Sendiri yang Kritis Kok Dimusuhin Sih Pak
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Tanggapan keras dilayangkan oleh ustaz hilmi firdausi menanggapi sebutan kontroversial kepala negara terhadap elemen masyarakat yang gemar melontarkan kritik.

Penceramah tersebut merespons lebel londo ireng yang dialamatkan kepada kalangan jurnalis, analis independen, hingga pekerja lembaga swadaya masyarakat melalui akun media sosial X pada jumat, 24 juli 2026.

ADVERTISEMENT

“Rakyat yg mengkritisi diusir ke luar negeri. Wartawan dan pengamat yang mengkritisi dibilang Londo Ireng,” kata Hilmi dikutip dari unggahannya di X, Jumat (24/7/2026).

Tokoh agama tersebut keheranan melihat sikap pemerintah yang justru menempatkan warga negara sendiri sebagai pihak lawan hanya karena menyampaikan koreksi kebijakan.

“Sama rakyat sendiri yang kritis kok dimusuhin sih pak?!” ujarnya.

Pernyataan panglima tertinggi yang memicu polemik tersebut sebelumnya diucapkan ketika menghadiri hajatan politik partai pendukung di ibu kota pada kamis, 23 juli 2026.

Agenda perbaikan fasilitas ruang kelas menjadi pembuka pidato sebelum sang presiden menyoroti pemberitaan miring media massa.

“Tahun 2027, saya instruksikan harus lebih 100.000 sekolah yang sekian belas tahun tidak disentuh,” kata Prabowo.

Pemerintah menyayangkan sikap institusi pemberitaan yang lebih gemar mengekspos bangunan terbengkalai ketimbang mengapresiasi puluhan ribu gedung yang tuntas direnovasi.

“Ada juga media yang walaupun kita sudah perbaiki 67.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki. Dia foto besar, taruh di halaman pertama,” ujarnya.

Identitas media massa yang dituding sengaja mencari-cari keburukan tersebut sengaja disimpan dan baru akan dibuka pada waktu yang tepat.

“Aduh. Dia kita kita nggak ngerti. Saya nggak sebut lah media mana itu, pada saatnya akan saya sebut,” imbuhnya.

Meskipun mengecam pemberitaan negatif, sang kepala pemerintahan mengeklaim bahwa iklim kebebasan berpendapat di tanah air senantiasa dijaga.

“Kalian sudah tahu lah kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik, tapi kita bukan anak kecil,” ujarnya.

Analogi masa kolonial lantas disematkan kepada kelompok yang dianggap gemar mendedikasikan diri untuk kepentingan pihak asing.

“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng ya,” ungkapnya.

Kelompok penentang penjajah tempo dulu kini dinilai telah bermetamorfosis ke dalam bentuk profesi modern pengawas kebijakan publik.

“Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan, wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, apa itu LSM,” papar Prabowo.

Pertanyaan menohok turut dilontarkan untuk menyelidiki sumber dana yang membiayai kehidupan sehari-hari para penggiat kritik tersebut.

“Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah. Kita tahu kan,” ujarnya.

Menutup arahannya, sang kepala negara menyoroti narasi kebangkrutan nasional yang secara konsisten diembuskan setiap bulan tanpa bukti nyata.

“Jadi saudara-saudara, kita paham ada kampanye besa untuk kita goyah. Indonesia collabs. Bulan April lewat nggak colabs, mei lewat nggak colabs, bulan Juli akan collabs. Tiap bulan akan collabs,” ucapnya (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung