Berita, Nasional

Harga Minyak Tembus 120 Dolar AS, Subsidi Energi Berpotensi Membengkak dan Mengancam APBN

Repelita.net

05 April 2026 19:53 WIB • 1,082 view

Harga Minyak Tembus 120 Dolar AS, Subsidi Energi Berpotensi Membengkak dan Mengancam APBN
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Kenaikan harga energi global yang terus berlanjut kini mulai memicu kekhawatiran serius terhadap anggaran subsidi energi dalam negeri yang berpotensi membengkak secara signifikan jika tren kenaikan berlangsung dalam waktu yang panjang.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa pemerintah sebenarnya masih memiliki ruang fiskal untuk menahan kenaikan harga energi selama harga minyak mentah dunia belum menembus batas kritis dalam periode yang berkepanjangan.

ADVERTISEMENT

Menurut analisisnya, skenario penyesuaian harga energi baru akan mulai mengemuka apabila harga minyak Brent mampu bertahan di kisaran 120 hingga 130 dolar Amerika Serikat per barel dalam kurun waktu yang cukup lama.

Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga pada level tersebut dapat membuat beban kompensasi subsidi membengkak hingga mencapai ratusan triliun rupiah, mengingat asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara saat ini masih berada di kisaran 60 hingga 80 dolar AS per barel.

Apabila realisasi harga di pasar global jauh melampaui asumsi yang telah ditetapkan pemerintah, maka tekanan terhadap kondisi fiskal negara akan semakin besar dan sulit dikendalikan.

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah dihadapkan pada dilema yang sangat berat antara menjaga stabilitas harga energi bagi masyarakat luas atau mempertahankan kesehatan fiskal negara untuk jangka panjang.

Pasalnya, jika subsidi energi terus dipertahankan pada saat harga minyak dunia sedang tinggi, maka anggaran untuk sektor-sektor lain seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan berisiko terpangkas secara drastis.

Yannes juga memperkirakan bahwa opsi penyesuaian harga energi tetap terbuka lebar, namun pelaksanaannya akan dilakukan secara sangat hati-hati agar tidak menimbulkan gejolak sosial di masyarakat.

Ia menyebut kemungkinan penyesuaian harga baru akan mulai dipertimbangkan pada periode Mei hingga Juni 2026 dan akan dilakukan secara bertahap而非 serta-merta.

Selain itu, pemerintah dinilai perlu untuk mempercepat langkah-langkah mitigasi, termasuk mendorong transisi energi melalui pemanfaatan sumber energi domestik yang melimpah.

Pengembangan kendaraan listrik dan kendaraan hybrid juga menjadi salah satu prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor yang sangat rentan terhadap fluktuasi harga global.

Upaya-upaya strategis ini dinilai sangat penting untuk melindungi perekonomian nasional dari guncangan harga energi dunia yang tidak dapat diprediksi.

Pada akhirnya, pergerakan harga minyak dunia akan terus menjadi faktor utama yang menentukan arah kebijakan energi nasional ke depan.

Pemerintah dituntut untuk mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan daya beli masyarakat dan keberlanjutan fiskal negara dalam jangka panjang.

Di saat yang sama, percepatan transformasi menuju sistem energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan harus terus digalakkan sebagai solusi jangka panjang.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung