Berita, Internasional

Harga Bensin AS Tembus 4 Dolar per Galon Akibat Perang Iran, Warga Lansia Keluhkan Dana Pensiun Ludes dan Pekerja Muda Mulai Batasi Berkendara

Repelita.net

01 April 2026 12:58 WIB • 1,142 view

Harga Bensin AS Tembus 4 Dolar per Galon Akibat Perang Iran, Warga Lansia Keluhkan Dana Pensiun Ludes dan Pekerja Muda Mulai Batasi Berkendara
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Kondisi ekonomi Amerika Serikat memasuki fase yang sangat menegangkan bagi warga sipil akibat perang Timur Tengah, dengan kenaikan harga BBM secara mendadak memicu gelombang kekecewaan di berbagai lapisan masyarakat setempat.

Berdasarkan laporan terkini pada Selasa (31/3/2026), tarif bensin di banyak wilayah terpantau merangkak naik hingga menyentuh angka 35 persen tepat setelah eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

ADVERTISEMENT

Pada penghujung Maret, harga bahan bakar bahkan telah melewati ambang batas psikologis sebesar 4 dolar AS per galon di sejumlah titik pengisian.

Jeanne Williams yang kini berusia 83 tahun merasa sangat terpukul saat melihat angka di papan pom bensin dengan mengatakan bahwa itu mengerikan dan ia hanya merasa bingung, kacau, serta tidak senang.

Keresahan Jeanne mencerminkan kondisi batin banyak lansia yang harus berhadapan dengan biaya operasional kendaraan yang mahal di tengah keterbatasan dana pensiun yang semakin tergerus.

Di kawasan Falls Church, para pengemudi harus merogoh kocek minimal 3,7 dolar AS per galon jika membayar tunai, sementara biaya tersebut akan menjadi jauh lebih mahal apabila konsumen memilih melakukan transaksi melalui kartu debit atau kredit.

Beberapa titik pengisian bahan bakar yang lebih jauh bahkan sudah mematok harga hingga 4,25 dolar AS per galonnya, memaksa warga seperti Jeanne yang sedang berjuang melawan kanker untuk mulai menyentuh simpanan tabungannya.

Luis Ramos yang berdomisili di New York City merasa biaya hidup saat ini sudah benar-benar tidak masuk akal, dengan pemuda berusia 26 tahun tersebut menyuarakan keberatannya saat mengisi bahan bakar di wilayah New Jersey.

David Lee yang berprofesi sebagai dokter anestesi memperkirakan adanya pengeluaran ekstra sebesar 10 dolar setiap kali ia mampir ke pom, meskipun gajinya cukup ia melihat rekan-rekannya mulai membatasi intensitas berkendara.

Kritik tajam juga datang dari Joseph Crouch yang menganggap pemerintah tidak memiliki arah kebijakan energi yang jelas, dengan pria berusia 77 tahun tersebut kini jarang mengemudi karena merasa tarif bensin sudah berada di luar logika.

“Ini konyol. Harganya sangat tinggi. Saya rasa pemerintah tidak tahu apa yang mereka lakukan,” gerutu Joseph Crouch.

Fred Koester yang sudah berumur 78 tahun secara terang-terangan melabeli konflik tersebut sebagai peperangan yang bodoh dan tidak diperlukan yang hanya mendatangkan kesialan bagi rakyat Amerika Serikat sendiri.

Sejak meletus pada akhir Februari 2026, perseteruan ini telah mengacaukan jalur distribusi energi secara global dengan harga minyak mentah internasional terpantau sudah beberapa kali menembus level di atas 100 dolar AS per barel.

Dampak domino dari krisis ini tidak hanya dirasakan di Amerika melainkan telah menjalar hingga ke wilayah Asia dan Eropa, dengan banyak pemerintahan di dunia kini mulai menerapkan protokol darurat untuk menekan konsumsi bahan bakar di tingkat domestik.

Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home kembali dipopulerkan sebagai solusi untuk mengurangi pergerakan kendaraan pribadi, sementara otoritas di berbagai negara juga gencar mendorong penduduknya untuk beralih menggunakan moda transportasi publik massal.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung