Berita, Nasional

Gus Nur Sentil Nadiem Makarim: Jangan Nangis, Blak-blakan Saja Jika Jokowi Memang Terlibat Korupsi?

Repelita.net

05 July 2026 14:50 WIB • 803 view

Gus Nur Sentil Nadiem Makarim: Jangan Nangis, Blak-blakan Saja Jika Jokowi Memang Terlibat Korupsi?
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook yang menjerat mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, menarik perhatian Sugi Nur Raharja atau Gus Nur.

Nadiem dijatuhi hukuman kurungan 10 tahun penjara serta diwajibkan membayar denda sebesar Rp1 miliar atas perbuatannya.

ADVERTISEMENT

Gus Nur mengaku tidak memiliki sentimen pribadi terkait perkara yang sedang dihadapi oleh mantan bos Gojek tersebut.

Namun, ia melontarkan kritik mengenai keputusan Nadiem yang memilih terjun ke dalam lingkaran kekuasaan di bawah pemerintahan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

“Cuman komentar saya begini, kenapa harus kenal Jokowi? bukankah sudah enak-enak jadi pebisnis ya kan? Jadi usahawan, jadi wira usahawan,” ujar Gus Nur dikutip Minggu (5/7/2026).

Dirinya memasukkan motif di balik kesediaan Nadiem untuk menerima pinangan ke kabinet depan.

"Punya keluarga yang baik-baik ya. Bahagia, nggak ada masalah. Terus kenapa harus kenal sama Jokowi? Kenapa mau dirayu-rayu Jokowi? Rezim Jokowi," ucapnya.

Terkait sikap Nadiem yang sempat terlihat emosional di depan publik, Gus Nur menganggap hal tersebut sebagai respons yang wajar bagi manusia.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tangisan tersebut tidak akan memberikan pengaruh apa pun terhadap vonis hukum yang telah dijatuhkan.

"Ya ini, nasi sudah jadi bubur. Ya nggak usah disesali. Lalu kenapa harus nangis? Ya nggak apa-apa lah harus nangis lah. Nggak apa-apa manusiawi," sebutnya.

"Saya tidak menyalahkan anda. Silahkan nangis sepuas-puasnya ya. Tapi tangisanmu kan tidak akan menyelesaikan apa-apa ya kan?," imbuhnya.

Gus Nur juga menyoroti pembelaan Nadiem yang berdalih bahwa dirinya hanya menjalankan kebijakan dari Presiden Jokowi.

"Cuman begini, Nadiem Makarim ini kan dalam satu pembelaannya ya, kan sekilas saya pernah dengar bahwa saya hanya menjalankan kebijakan dari Presiden Jokowi. Kan gitu ya intinya ya," tukasnya.

Ia mengaku tidak terkesan dengan gaya bicara Nadiem yang dianggapnya terlalu lemah lembut dan penuh kehati-hatian.

“Nah aku agak nggak telaten ya, dengar orang yang ngomongnya yang lembek-lembek, lemah-lembut gini aku nggak telaten,” jelasnya.

Gus Nur menyarankan agar Nadiem menyampaikan lebih terbuka dan berterus terang jika memang memiliki fakta penting yang ingin disampaikan.

"Dalam posisi dia kalau saya jadi dia, sudah nggak usah lagi tata kerama, sopan santun, sudah nggak perlu. Blak-blakan blokosuto gitu loh," bebernya.

Ia mendesak agar Nadiem tidak ragu menyebut pihak lain jika memang terdapat keterlibatan dalam kasus korupsi tersebut.

Jadi kalau memang Jokowi terlibat, kalau Jokowi terima setoran dananya, sebut terima setoran dananya, ucap dia.

Menurutnya, dalih menjalankan perintah presiden hanya menimbulkan ambiguitas dan tidak menjawab pokok masalah korupsi.

Nggak usah nangis, nggak usah lembek, nggak usah ngerengek, nggak usah, saya menjalankan kebijakan Jokowi Ah ya, menuturkan Gus Nur.

"Kan masih melahirkan beberapa tafsir. Lah kan perintah Jokowi untuk laksanakan kebijakannya Jokowi, bukan untuk korupsi. Kenapa kamu korupsi? Masih banyak melahirkan tafsir," imbuhnya.

Gus Nur juga menyatakan keyakinannya bahwa nasib mereka yang mendekati rezim Jokowi akan berakhir dengan kehinaan.

"Imanku sudah mengatakan siapa pun memang yang merapat ke rezim Jokowi pasti hina hidupnya," timpalnya.

Dirinya kemudian mendoakan agar Nadiem diberikan ketabahan dan hikmah selama menjalani hukuman di dalam penjara.

“Jadi insyaallah Pak Nadiem sebagai sesama muslim saya doakan nanti di dalam penjara Anda akan menemukan banyak hikmah,” kata Gus Nur.

Ia kembali menegaskan agar Nadiem lebih lugas dalam berkomunikasi terkait pengungkapan kasus tersebut di masa mendatang.

"Besok lagi kalau ngomong gak usah lembek-lembek gitu lah ya, hantam gitu sudah. ​​Kalau Jokowi nerima, berapa? Nerima? Bagaimana? Jangan retorika-retorika," tandasnya.

"Bangsa ini sudah terlalu bobrok. Sistem hukum ini terlalu bobrok. Jadi jangan pakai retorika ya kan? Pakai kapalnya Ibrahim, celuritnya Sakerah, serulingnya Daud, tongkatnya Musa. Begitu," kuncinya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung