Berita, Nasional

Guntur Romli Ingatkan Istilah Londo Ireng Tidak Boleh Digunakan Sebagai Stigma Politik Instan

Repelita.net

29 July 2026 18:11 WIB • 661 view

Guntur Romli Ingatkan Istilah Londo Ireng Tidak Boleh Digunakan Sebagai Stigma Politik Instan
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Mohamad Guntur Romli turut memberikan tanggapan terkait polemik penyebutan istilah sejarah kolonial.

Pemberian frasa tersebut dinilai memerlukan pemahaman historis mendalam agar tidak digunakan secara serampangan untuk menyudutkan kelompok tertentu.

ADVERTISEMENT

Penjelasan etimologis mengenai istilah masa lampau itu disampaikan untuk mendudukkan persoalan sesuai konteks aslinya di tengah masyarakat.

"Secara harfiah Londo-Ireng berarti Londo atau Belanda Hitam. Istilah Jawa yang dulu disematkan pada pribumi yang bekerja untuk kolonial," kata Guntur Romli melalui akun X @gunturromli pada Rabu (29/7/2026).

Penerapan sebutan tersebut pada masa penjajahan dahulu ditujukan bagi aparatur lokal yang mengabdikan diri kepada penguasa asing demi kepentingan pribadi.

"Mandor, Opas, Priayi yang mengabdi pada penjajah demi posisi dan kenyamanan," ujarnya.

Penggunaan frasa itu secara sosiolinguistik dipandang merepresentasikan bentuk kecaman terselubung terhadap tindakan pengabdian kepada kekuatan asing.

"Secara linguistik istilah ini adalah oksimoron sosial. Menempelkan identitas penjajah pada tubuh pribumi menandai pengkhianatan tanpa harus mengucap kata pengkhianat," katanya.

Kehadiran ungkapan tersebut di tengah publik lahir dari akumulasi rasa kecewa masyarakat terhadap pihak yang memihak penindas.

"Secara sosial istilah ini hidup karena masyarakat butuh kosa kata untuk menamai kegelisahan kolektif," ucapnya.

Transformasi makna dalam panggung politik kontemporer kerap dialamatkan kepada para pengambil kebijakan yang dinilai mementingkan modal asing.

"Contohnya muncul di media sosial, pejabat Londo Ireng, Menteri Londo Ireng, disematkan pada siapapun yang kebijakannya dianggap merugikan rakyat demi investor atau kekuatan luar," ujarnya.

Kendati demikian, peringatan keras disampaikan agar penyematan label tersebut tidak dijadikan alat penghakiman instan tanpa dasar valid.

"Ia sering menjadi cap politis instan, bukan analisis, melainkan stigma. Ia menuduh tanpa bukti, menghakimi tanpa proses, menyederhanakan yang kompleks menjadi label yang menempel seumur hidup," katanya.

Refleksi moral menutup pandangan tersebut agar setiap individu senantiasa mawas diri sebelum melemparkan tuduhan negatif kepada sesama.

"Maka sebelum menuding, ingatlah, saat jari telunjukmu mengarah pada orang yang kau sebut Londo Ireng itu, empat jari lainnya justru mengarah kembali kepada dirimu sendiri," ujarnya.(*).

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung