Berita, Timur Tengah

Geser Isu Nuklir, Iran Kini Cuma Mau Bahas Uang dan Selat Hormuz, AS Kena PHP?

Repelita.net

27 April 2026 21:03 WIB • 967 view

Geser Isu Nuklir, Iran Kini Cuma Mau Bahas Uang dan Selat Hormuz, AS Kena PHP?
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Iran secara mengejutkan mengubah strategi negosiasi dengan Amerika Serikat dengan menggeser isu nuklir ke urutan belakang, sementara dua hal utama yang kini menjadi prioritas utama Teheran adalah masalah uang dan status Selat Hormuz .

Berdasarkan laporan media semi-resmi Iran Tasnim News serta sejumlah sumber diplomatik, delegasi Iran dalam negosiasi yang dimediasi Pakistan hanya fokus membahas empat poin besar yaitu masa depan Selat Hormuz, kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan sanksi, dan penghapusan blokade laut AS .

ADVERTISEMENT

"Isu nuklir mungkin bisa dibahas kemudian dalam kesepakatan terpisah, tapi negosiasi saat ini tidak akan lagi mencakup program nuklir," demikian pernyataan yang dikutip dari sumber yang mengetahui jalannya pembicaraan .

Langkah ini membuat Amerika Serikat seolah terkena "PHP" karena selama ini Washington bersikukuh bahwa penghentian program pengayaan uranium Iran adalah syarat utama perdamaian .

Amerika bahkan menuntut Teheran menghentikan aktivitas nuklirnya selama 20 tahun, sementara Iran hanya mau membahasnya setelah semua tuntutan ekonomi dan maritim mereka terpenuhi .

Alih-alih membahas sentrifugal dan kadar pengayaan, Iran justru lebih tertarik membicarakan pendapatan dari Selat Hormuz yang kini mulai menghasilkan uang .

Untuk pertama kalinya, Iran telah menerima pendapatan dari penerapan tarif tol terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, dengan pembayaran dilakukan dalam bentuk yuan China atau mata uang kripto .

Para pejabat Iran menyebut Selat Hormuz sebagai "aset emas dan tak ternilai" yang tidak akan mereka lepaskan begitu saja demi kesepakatan soal nuklir .

Seorang sumber keamanan senior Iran bahkan menggambarkan Selat Hormuz sebagai senjata strategis yang berakar pada geografi Iran dan tidak bisa diambil oleh siapa pun .

Iran mengajukan proposal tiga tahap kepada AS di mana tahap pertama membahas gencatan senjata permanen, tahap kedua membahas status Selat Hormuz, dan nuklir baru dibahas di tahap terakhir .

Tahap pertama dan kedua harus disepakati terlebih dahulu sebelum Iran bersedia duduk membahas soal program pengayaan uranium yang selama ini menjadi momok dunia .

Dengan kata lain, Iran seolah berkata "lupakan bom atom kami, bicarakan saja tentang uang Anda dan kapal kami" kepada Washington .

Sikap ini membuat negosiasi yang dimediasi Pakistan semakin terjal karena AS ingin pembahasan nuklir menjadi prioritas utama .

Presiden Donald Trump bahkan membatalkan rencana pengiriman utusannya ke Islamabad karena menilai tawaran Iran belum memadai .

Meskipun demikian Iran terus memperkuat posisinya dengan menjalin komunikasi intensif dengan Rusia, di mana Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dijadwalkan bertemu Presiden Vladimir Putin di Moskow .

Para analis menilai Iran sedang memanfaatkan posisi tawar tertinggi mereka setelah berhasil membuktikan mampu mengendalikan jalur 20 persen minyak dunia .

Strategi ini dianggap cerdik namun berisiko karena bisa membuat AS meninggalkan meja negosiasi jika merasa tawarannya tidak dihargai .

Namun bagi Iran, Selat Hormuz telah menjadi sumber pendapatan baru yang sangat berarti di tengah tekanan sanksi ekonomi .

Professor Azmi Hassan dari Malaysia mengatakan kepada media Rusia Sputnik bahwa dunia tidak mampu menahan penutupan total Selat Hormuz karena dampak ekonominya, dan hal ini memberikan Iran alat tawar yang sangat kuat .

Kini publik dunia menanti apakah AS bersedia membayar "harga damai" yang diminta Iran atau justru meninggalkan meja negosiasi dengan tangan hampa .(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung