Berita, Timur Tengah

Gencatan Senjata Dinilai Kekalahan Strategis AS, Iran Kini Kuasai Selat Hormuz

Repelita.net

08 April 2026 14:37 WIB • 1,093 view

Gencatan Senjata Dinilai Kekalahan Strategis AS, Iran Kini Kuasai Selat Hormuz
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang disampaikan Presiden Donald Trump disertai sejumlah kondisi yang dinilai merugikan Amerika Serikat.

Para pengamat menilai hal ini menunjukkan kekalahan strategis AS atas perlawanan Iran terkait serangan ilegal yang diluncurkan sejak 28 Februari lalu.

ADVERTISEMENT

Media pemerintah Iran menyebutkan bahwa perjanjian gencatan senjata dibangun berdasarkan sepuluh poin rencana yang mereka serahkan ke AS, mencakup tuntutan maksimal yang sebelumnya ditolak oleh pemerintahan Trump.

Danny Citrinowicz, seorang peneliti non-residen di Dewan Atlantik, memberikan penilaian menohok mengenai hasil perang lima minggu yang dijalani Amerika.

Ia mengingatkan bahwa serangan kala itu diluncurkan dengan janji-janji besar seperti perubahan rezim di Iran, penghentian program rudal dan nuklirnya, serta mencegah Iran mengancam Selat Hormuz.

"Dan di mana kita sekarang?" tanya Citrinowicz seraya menyebut rezim Iran masih berkuasa dan kemampuan misilnya meskipun rusak tetap utuh.

"Rezim ini masih berkuasa. Kemampuan misilnya meskipun rusak masih utuh. Negara ini masih menyimpan sekitar 440 kg uranium yang diperkaya hingga 60 persen," kata Citrinowicz.

Sebelum serangan AS-Israel dilancarkan, Selat Hormuz merupakan jalur terbuka bagi semua pelayaran internasional tanpa hambatan berarti.

Saat ini, selat tersebut berada dalam penguasaan penuh Iran yang mengondisikan kendali dan tarif bersama dengan Oman sebagai negara yang sama-sama mengapit jalur air strategis itu.

"Jujur saja: ini bukanlah kemenangan strategis," tegas Citrinowicz dalam evaluasinya terhadap hasil akhir konflik militer tersebut.

Iran dan Oman akan diizinkan mengenakan biaya pada kapal yang transit melalui Selat Hormuz sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan.

Seorang pejabat regional yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Associated Press bahwa Iran akan menggunakan uang yang dikumpulkannya untuk rekonstruksi negaranya pasca-serangan.

Merujuk pada pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, sepuluh poin proposal yang dikirim ke AS mencakup syarat bahwa semua pihak harus mengakui hak Iran melanjutkan program pengayaan uraniumnya.

Dewan Keamanan Iran mengklaim bahwa negaranya telah menang dan AS telah menerima seluruh sepuluh poin rencana tersebut, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pihak Gedung Putih.

Senator Partai Demokrat Chris Murphy menanggapi klaim Iran tersebut dengan mengatakan kepada CNN bahwa jika benar, maka perjanjian ini memberi Iran hak untuk mengendalikan selat itu.

"Sungguh menakjubkan bahwa kita sampai di sana, bahwa Donald Trump mengambil tindakan militer yang tampaknya, setidaknya untuk saat ini, memberi Iran kendali atas jalur air penting yang tidak mereka kendalikan sebelum perang dimulai," ujar Murphy.

"Benar-benar sebuah kesalahan, sungguh salah perhitungan," pungkas senator Demokrat tersebut mengecam kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Trump.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung