Berita, Peristiwa

Gempa NTT Guncang Pariwisata, PHRI Hitung Kerugian Sektor Perhotelan Flores

Repelita.net

15 August 2026 19:50 WIB • 604 view

Gempa NTT Guncang Pariwisata, PHRI Hitung Kerugian Sektor Perhotelan Flores
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Asosiasi pengusaha pariwisata daerah saat ini masih berfokus mengumpulkan data guna mengukur kerugian finansial sektor perhotelan akibat guncangan gempa bumi berkekuatan besar di kawasan Nusa Tenggara Timur.

Pimpinan Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Nusa Tenggara Timur Hansel Liyanto menyebutkan kalkulasi kerugian belum bisa dipastikan karena musibah alam tersebut baru saja terjadi.

ADVERTISEMENT

“Karena kejadiannya masih sangat baru, kami belum dapat memperkirakan secara pasti berapa besar potensi penurunan pendapatan atau perputaran ekonomi industri hotel. Saat ini kami masih melakukan koordinasi dan pendataan dengan BPC PHRI di wilayah Flores,” ucap Hansel.

Dampak lanjutan terhadap industri pelesir dikhawatirkan muncul apabila proses pemulihan kawasan pascabencana memakan durasi yang cukup lama.

“Yang menjadi perhatian kami, apabila kondisi pascagempa berlangsung cukup lama, tentu dapat berpengaruh terhadap pergerakan wisatawan, perjalanan dinas, kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE), maupun tingkat hunian hotel,” ungkapnya.

Kendala komunikasi turut dialami pengurus daerah lantaran sambungan telepon dengan wilayah Nagekeo sebagai salah satu zona terdampak parah masih terputus.

“Sampai saat ini komunikasi dengan Ketua BPC PHRI Nagekeo masih agak sulit, sehingga kami masih menunggu informasi lebih lengkap mengenai kondisi anggota hotel dan restoran di sana,” lanjut dia.

Sebaliknya, beberapa cabang di daratan Flores seperti Manggarai Barat, Ngada, serta Sikka menyampaikan laporan kondisi bangunan penginapan relatif aman meski mendapati kerusakan kecil.

Kawasan Labuan Bajo yang berstatus sebagai pusat kunjungan pelancong utama dilaporkan sudah pulih dari pembatasan transportasi sebelumnya.

“Tadi memang sempat ada pembatasan terkait aktivitas penerbangan dan pelayaran, namun saat ini pembatasan tersebut sudah dicabut sehingga aktivitas penerbangan, pelayaran, dan kegiatan pariwisata kembali berjalan,” terangnya.

Pihak asosiasi penginapan belum mencatat adanya tren pembatalan kamar secara massal karena evaluasi tingkat keterisian masih terus berjalan.

“Untuk okupansi dan reservasi, kami masih memantau perkembangannya karena kejadian baru berlangsung hari ini. Kami belum mendapatkan data yang cukup untuk menyimpulkan adanya penurunan okupansi atau pembatalan reservasi secara signifikan,” tutupnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung