Repelita Kuwait City - Fakta terbaru dari perang antara Iran dan Amerika Serikat mengungkap bahwa pesawat-pesawat tua buatan era 1960-an berhasil menghajar Pangkalan Buehring di Kuwait, pangkalan militer AS yang dijaga super ketat.
Pesawat Northrop F-5 Tiger yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu terbukti mampu menembus sistem pertahanan rudal MIM-104 Patriot yang menjadi andalan Amerika.
ADVERTISEMENT
Bocoran data dari NBC News pada Sabtu, 25 April 2026, menyebutkan bahwa pangkalan di Kuwait tersebut mengalami kerusakan parah setelah diserang gelomb demi gelombang.
Selain pangkalan di Kuwait, total serangan Iran menyasar lebih dari seratus titik di sebelas pangkalan militer AS yang tersebar di tujuh negara Timur Tengah.
Negara-negara yang menjadi sasaran meliputi Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, Irak, dan Arab Saudi, selain Kuwait sendiri.
Kerusakan yang ditimbulkan sangat masif meliputi hangar pesawat rata dengan tanah, landasan pacu berlubang, dan sistem radar canggih mati total.
Biaya perbaikan infrastruktur yang hancur diperkirakan mencapai lebih dari 5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp85 triliun.
Yang lebih memalukan bagi Amerika, sistem Patriot yang seharusnya menjadi tameng utama gagal total mendeteksi ancaman dari ketinggian rendah.
Analis militer dari American Enterprise Institute (AEI) mengungkap tiga faktor kunci mengapa pesawat tua ini bisa sukses menyerang pangkalan AS.
Pertama, jet F-5 diterbangkan sangat rendah, hanya beberapa puluh meter di atas permukaan tanah, sehingga radar Patriot kesulitan membedakannya dari derau.
Kedua, Iran melakukan serangan saturasi dengan mengirim gelombang drone dan rudal terlebih dahulu untuk menguras kapasitas radar AS.
Ketiga, serangan ini mengekspos celah fatal dalam sistem pertahanan udara berlapis AS terhadap ancaman dari ketinggian rendah.
Ironisnya, pesawat F-5 yang dipakai menyerang itu adalah buatan AS sendiri yang dikirim ke Iran pada era Shah antara tahun 1965 hingga 1976.
Setelah revolusi 1979, Iran terkena embargo total suku cadang pesawat dari Amerika, namun Teheran bertahan dengan strategi kanibal komponen dari pesawat rusak.
Strategi darurat yang dipandang sebelah mata oleh Pentagon ini puluhan tahun kemudian terbukti mampu menyerang balik pembuatnya sendiri.
Selain infrastruktur, AS juga kehilangan aset mahal seperti satu pesawat E-3 Sentry (AWACS) yang sudah tidak diproduksi lagi di Pangkalan Pangeran Sultan.
Dua sistem radar AN/TPY-2 yang merupakan bagian dari pertahanan THAAD juga rusak berat di Yordania dan Qatar.
Satu jet tempur F-15 senilai 100 juta dolar AS juga dilaporkan hilang dalam serangan balasan Iran.
Tiga belas personel militer AS tewas dan hampir 400 lainnya luka-luka akibat serangan gabungan jet tua, drone, dan rudal Iran.
Di tengah situasi sulit ini, pertanyaan besar muncul: apakah Rusia siap membantu Iran menghadapi tekanan AS?
Jawabannya datang dari pertemuan delegasi Iran dengan Presiden Vladimir Putin di St. Petersburg pada Senin, 27 April 2026.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan pesan dari Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Mojtaba Khamenei.
Putin menyatakan bahwa Moskow akan melakukan "segala sesuatu" untuk melayani kepentingan Republik Islam di kawasan.
"Dari pihak kami, kami akan melakukan segala sesuatu yang melayani kepentingan Anda, kepentingan semua rakyat di kawasan ini, untuk mencapai perdamaian ini secepat mungkin," kata Putin seperti dilaporkan RIA Novosti.
Sikap Putin ini adalah sinyal jelas bahwa Rusia secara resmi menempatkan diri di belakang Iran dalam konflik melawan AS.
Mikhail Ulyanov, utusan Rusia untuk organisasi internasional di Wina, ikut mengecam pendekatan AS yang dinilai seperti pemerasan.
"Washington selama ini terlalu mengandalkan ultimatum dan tekanan. Iran bukan pihak yang bisa dipaksa tunduk lewat ancaman," tegas Ulyanov.
"Amerika Serikat seharusnya meninggalkan pendekatan yang menyerupai pemerasan tenggat waktu sepihak dan ancaman penggunaan kekuatan militer," katanya.
Upaya negosiasi damai juga kian suram setelah Presiden Trump membatalkan rencana pengiriman utusannya ke Pakistan.
"Saya bilang ke tim saya, jangan. Kalian tidak akan melakukan perjalanan 18 jam hanya untuk duduk membicarakan hal yang tidak jelas. Kami pegang semua kartu," ujar Trump.
Pertanyaan tentang kesiapan Rusia membantu Iran kini sudah terjawab sudah, meninggalkan Amerika yang harus berpikir ulang strateginya di Timur Tengah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok