Berita, Nasional

Dua Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz di Tengah Jeda Perang yang Rapuh

Repelita.net

08 April 2026 17:22 WIB • 1,011 view

Dua Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz di Tengah Jeda Perang yang Rapuh
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Langit Teluk Persia belum benar-benar tenang ketika dua raksasa baja milik Indonesia masih tertahan di simpul paling krusial jalur energi dunia.

Di tengah jeda perang yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran, dua tanker milik PT Pertamina International Shipping masih menunggu kepastian kapan Selat Hormuz benar-benar aman dilintasi.

ADVERTISEMENT

Pertamina Pride dan Gamsunoro bukan sekadar kapal biasa karena mereka adalah nadi pasokan energi yang mengangkut jutaan barel minyak yang seharusnya sudah mengalir ke tujuan masing-masing.

Namun realitas di lapangan terbukti lebih keras dari jadwal pelayaran karena Selat Hormuz sempat nyaris lumpuh akibat eskalasi konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.

Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menegaskan bahwa upaya diplomasi terus digencarkan dengan koordinasi intensif bersama Kementerian Luar Negeri yang dilakukan tanpa henti selama 24 jam penuh.

Jalur komunikasi dibuka, protokol keamanan disusun, dan setiap skenario teknis dipertimbangkan secara matang demi satu hal yaitu memastikan kapal bisa melintas tanpa mengorbankan keselamatan awak.

Di balik angka-angka kargo dan strategi geopolitik, ada ribuan pelaut termasuk awak kapal Indonesia yang terjebak di perairan yang kini berubah menjadi zona abu-abu.

Tekanan psikologis, keterbatasan logistik, dan bayang-bayang ancaman menjadi keseharian yang tak terlihat di permukaan bagi para pelaut yang menunggu kepastian.

Pertamina Pride sendiri membawa hampir dua juta barel minyak mentah dengan tujuan akhir Cilacap yang seharusnya tiba awal April namun kini tertahan oleh situasi yang tak bisa dikendalikan mesin atau navigasi.

Sementara Gamsunoro yang melayani pihak ketiga juga masih menanti celah aman untuk melanjutkan pelayaran di tengah ketidakpastian keamanan jalur laut.

Sebelumnya, empat kapal PIS sempat berada di kawasan konflik dan dua di antaranya yaitu PIS Paragon dan PIS Rinjani berhasil keluar dari zona panas dan kini kembali beroperasi normal.

Namun dua kapal lainnya masih harus bertahan menunggu diplomasi menemukan jalannya di tengah situasi yang belum sepenuhnya kondusif.

Gencatan senjata memang membuka peluang karena Iran menyebut jalur aman akan diberikan dengan batasan teknis, sementara Presiden AS Donald Trump mengklaim pembukaan penuh dan segera.

Namun di laut, klaim politik tak selalu berbanding lurus dengan rasa aman, dan di sanalah dua tanker Indonesia kini berada di antara janji damai dan risiko nyata.

Mesin siap menyala dan peta sudah terbentang, tetapi keputusan akhir bukan lagi soal arah melainkan tentang waktu, keselamatan, dan seberapa jauh diplomasi mampu menembus ketegangan yang belum benar-benar usai.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung