Repelita [Jakarta] - Masyarakat adat Sekappung Limo Migo di Desa Pugung Raharjo, Lampung Timur, secara tegas menolak jika kunjungan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, ditunggangi agenda politik praktis.
Komunitas adat setempat menekankan bahwa prosesi festival budaya merupakan kegiatan sakral yang tidak boleh dicampuradukkan dengan kepentingan pihak tertentu, termasuk Partai Solidaritas Indonesia.
ADVERTISEMENT
Ketua Pelaksana Festival Budaya, Ibrahim Restusaka, menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup pintu bagi kedatangan Jokowi, namun dengan syarat ketat agar tidak mengganggu ritual adat.
Kami tidak mau acara sakral adat budaya Sekappung Limo disusupi agenda politik. Boleh hadir asalkan acara sakral sudah selesai, di atas pukul 11.00, ujar Ibrahim, Minggu (28/6/2026).
Akibat adanya polemik tersebut, Jokowi memutuskan untuk membatalkan kunjungannya ke kawasan Taman Purbakala Pugung Raharjo secara mendadak.
Pembatalan sepihak ini memicu kekecewaan besar bagi ribuan warga yang telah menantikan kehadiran tokoh tersebut sejak pagi hari.
Bentuk kekecewaan warga terlihat dari penolakan mereka terhadap paket sembako yang disiapkan tim kepresidenan, serta aksi penurunan spanduk bergambar Jokowi di lokasi acara.
Tokoh Adat Pugung Raharjo, Ahmad Kausar p.n. Pagar Alam, mengungkapkan bahwa warga sejatinya lebih mengharapkan kehadiran fisik Jokowi dibandingkan pemberian bantuan materi.
Kami telah mempersiapkan acara ini satu demi satu tahapan sesuai standar dan SOP yang diberikan oleh tim Bapak Jokowi dari pusat, katanya.
Warga tidak mau sembako. Yang mereka inginkan Bapak Jokowi hadir di tengah-tengah kami, tambahnya.
Setelah batal menyambangi Pugung Raharjo, agenda kunjungan Jokowi di Lampung dialihkan ke Kabupaten Lampung Tengah untuk menemui pelaku UMKM serta bersilaturahmi dengan santri di pondok pesantren setempat.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Jokowi terkait alasan di balik pembatalan kunjungan maupun tanggapan atas tuntutan masyarakat adat setempat. (*)
Editor: 91224 R-ID ElokRepelita [Jakarta] - Masyarakat adat Sekappung Limo Migo di Desa Pugung Raharjo, Lampung Timur, secara tegas menolak jika kunjungan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, ditunggangi agenda politik praktis.
Komunitas adat setempat menekankan bahwa prosesi festival budaya merupakan kegiatan sakral yang tidak boleh dicampuradukkan dengan kepentingan pihak tertentu, termasuk Partai Solidaritas Indonesia.
Ketua Pelaksana Festival Budaya, Ibrahim Restusaka, menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup pintu bagi kedatangan Jokowi, namun dengan syarat ketat agar tidak mengganggu ritual adat.
Kami tidak mau acara sakral adat budaya Sekappung Limo disusupi agenda politik. Boleh hadir asalkan acara sakral sudah selesai, di atas pukul 11.00, ujar Ibrahim, Minggu (28/6/2026).
Akibat adanya polemik tersebut, Jokowi memutuskan untuk membatalkan kunjungannya ke kawasan Taman Purbakala Pugung Raharjo secara mendadak.
Pembatalan sepihak ini memicu kekecewaan besar bagi ribuan warga yang telah menantikan kehadiran tokoh tersebut sejak pagi hari.
Bentuk kekecewaan warga terlihat dari penolakan mereka terhadap paket sembako yang disiapkan tim kepresidenan, serta aksi penurunan spanduk bergambar Jokowi di lokasi acara.
Tokoh Adat Pugung Raharjo, Ahmad Kausar p.n. Pagar Alam, mengungkapkan bahwa warga sejatinya lebih mengharapkan kehadiran fisik Jokowi dibandingkan pemberian bantuan materi.
Kami telah mempersiapkan acara ini satu demi satu tahapan sesuai standar dan SOP yang diberikan oleh tim Bapak Jokowi dari pusat, katanya.
Warga tidak mau sembako. Yang mereka inginkan Bapak Jokowi hadir di tengah-tengah kami, tambahnya.
Setelah batal menyambangi Pugung Raharjo, agenda kunjungan Jokowi di Lampung dialihkan ke Kabupaten Lampung Tengah untuk menemui pelaku UMKM serta bersilaturahmi dengan santri di pondok pesantren setempat.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Jokowi terkait alasan di balik pembatalan kunjungan maupun tanggapan atas tuntutan masyarakat adat setempat. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok