Repelita Jakarta - Ketegangan politik kembali mencuat setelah relawan pendukung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melayangkan kritik pedas terhadap PDI Perjuangan terkait evaluasi jalannya roda pemerintahan.
Ketua Umum Relawan Militan Gibran 08 Nusantara, Andi Azwan, menilai partai berlambang banteng moncong putih itu masih menyimpan dendam politik akibat kekalahan pada kontestasi Pilpres 2024 lalu.
ADVERTISEMENT
"Ya kan sejarahnya ini kan kita bicara ini bukan dikatakan bahwa itu oleh Presiden. Ini kan paslon, pasangan, paket. Dia mesti paham juga. Janganlah menggiring opini publik untuk menyesatkan hal tersebut," ujar Andi Azwan pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Ia menambahkan bahwa penilaian PDIP mengenai polemik yang berpotensi menjadi beban bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dianggap keliru dan tidak berdasar.
"Kita paham kalau kita bicara PDIP pasti sangat membenci Pak Jokowi dan Mas Gibran, karena kan mereka kalah dalam kontestasi pilpres kemarin. Jadi kalau dikatakan selama ini bahwa itu akan memberikan beban kepada pemerintahan Pak Prabowo, dia salah besar ini, gitu," katanya.
Pernyataan tudingan tersebut langsung mendapat tanggapan keras dari Ketua DPP PDI Perjuangan Deddy Sitorus yang menegaskan bahwa partainya telah lama beralih fokus politik.
"Pilpres sudah lama berlalu, pilpres berikutnya sudah di depan mata, sementara mereka masih membeku di tahun 2024," kata Deddy Sitorus pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Deddy menyampaikan bahwa mantan presiden beserta keluarganya sudah bukan lagi bagian dari keanggotaan partai dan perihalnya tidak pernah masuk dalam agenda pembahasan internal.
"PDI Perjuangan sudah lama move on dari urusan pilpres. Jokowi dan keluarganya sudah lama dipecat dari keanggotaan PDI Perjuangan. Jokowi dan keluarganya tidak pernah sekalipun jadi bahan diskusi internal PDI Perjuangan, kecuali dalam sekolah partai di mana kasus pengkhianatan mereka dijadikan bahan case study bagi kader-kader muda," ujar Deddy Sitorus.
Selain itu, Deddy memberikan kritikan menohok kepada pihak relawan yang dianggapnya hanya mencari keuntungan di lingkar kekuasaan.
"Andi Azwan itu adalah contoh paling gamblang ketika seorang pemimpin dikelilingi para penjilat dan kaum medioker. Orang-orang seperti mereka banyak dipelihara selama masa kekuasaan Jokowi. Mereka para petualang dan parasit kekuasaan yang buta hati, buta nalar, dan hanya mementingkan interest pribadi untuk berbiak di ketiak kekuasaan," kata Deddy Sitorus.
Ia pun menutup sanggahannya dengan menegaskan bahwa partainya tidak bermaksud mencampuri urusan internal keluarga mantan presiden tersebut.
"Saya tegaskan bahwa PDIP tak pernah turut campur urusan Jokowi dan keluarga. Kalau kita melakukan itu, mungkin mereka sudah terpuruk lebih jauh dan lebih cepat! Berdoa saja agar tetap seperti itu karena kami tidak suka berurusan dengan barang bekas. Jokowi dan PDI Perjuangan sudah lama end, jadi tidak usah dikait-kaitkan," pungkas Deddy Sitorus.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok