Repelita Filipina - Publik dikejutkan oleh fakta bahwa seorang presiden negara Asia Tenggara nyatanya tidak pernah merampungkan pendidikan tingginya di universitas bergengsi meskipun telah mencantumkan gelar selama puluhan tahun.
Tokoh yang dimaksud adalah Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr., putra dari mantan diktator Filipina Ferdinand Marcos, yang kini menjabat sebagai presiden Filipina.
ADVERTISEMENT
Ia tercatat pernah terdaftar sebagai mahasiswa di Oxford University pada tahun 1975, kemudian pada 1978 ia kembali ke Filipina dengan membawa Special Diploma in Social Studies.
Keluarga istana pun berbangga hati, seorang anak presiden dinilai cerdas luar biasa karena berhasil menyelesaikan kuliah di Oxford hanya dalam tempo tiga tahun.
Setibanya di tanah air, Bongbong langsung dilantik menjadi Special Assistant, dan dengan lantang menyebut dirinya sebagai lulusan Oxford di berbagai kesempatan.
Seiring berjalannya waktu, ia semakin percaya diri mencantumkan gelar Bachelor of Arts dalam bidang PPE dari Oxford pada setiap dokumen resminya.
Bahkan yang lebih mencengangkan, ia pun menambahkan gelar Master's in Business Administration dari Wharton School, University of Pennsylvania, tanpa ada yang berani mempertanyakannya.
Bertahun-tahun tidak ada kegaduhan karena keterbatasan akses informasi publik pada zamannya dan ketidakpedulian lingkungan sekitar.
Namun pada tahun 2015, publik Filipina yang mulai melek pendidikan mulai mengkritisi fakta-fakta janggal tersebut hingga memicu perdebatan sengit di mana-mana.
Puncaknya pada tahun 2022, Oxford University secara resmi mengeluarkan pernyataan bahwa Bongbong Marcos memang pernah menjadi mahasiswa mereka, tetapi ia tidak pernah lulus.
Rektor Oxford yang bukan bagian dari kabinet Filipina pun tidak bisa diintervensi oleh kekuasaan istana, sehingga fakta telanjang itu terbuka lebar.
Begitu pula dengan Wharton School yang dengan tegas menyatakan bahwa Bongbong juga tidak pernah menyelesaikan studinya di sana, apalagi mendapat ijazah.
Dalam posisi terdesak, Bongbong Marcos akhirnya mengakui kebenaran tersebut, namun dengan gaya mengelak yang khas: "Tapi kan saya memang pernah kuliah di sana."
Penulis dan aktivis media sosial Tere Liye ikut menyoroti fenomena ini dengan pernyataan tajamnya.
"Hampir semua anak bangsa bisa dikadalin oleh elit politiknya," tulis Tere Liye dalam unggahan yang viral tersebut.
Luar biasanya, rakyat Filipina yang dinilai pemaaf tidak ambil pusing dengan kebohongan besar itu, dan tetap memilih anak diktator tersebut menjadi presiden.
Hasil pemilu mencatat bahwa 58 persen rakyat Filipina tetap setia mencoblos namanya meskipun fakta ijazah palsu sudah terang benderang.
"Baik-baik saja, dia tetap bisa jadi Presiden. Karena rakyatnya begitulah, bisa dikadalin oleh elit politiknya," ujar Tere Liye mengomentari ironi ini.
Konsekuensi logis dari kepemimpinan semacam ini kini mulai terlihat, di mana Filipina justru menjadi eksportir Asisten Rumah Tangga terbesar di dunia.
Lebih mencengangkan lagi, 10 persen Produk Domestik Bruto Filipina disokong oleh para pekerja buruh migran yang terpaksa mencari nafkah di luar negeri.
Tidak ada lapangan pekerjaan yang memadai di negerinya sendiri, sehingga rakyat pun kabur ke luar negeri demi menyambung hidup, namun mereka tetap mendukung dinasti politik yang telah berbohong soal pendidikan, demikian sindiran Tere Liye.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok