Berita, Timur Tengah

AS Proyeksikan Operasi ke Iran Rampung dalam Hitungan Minggu, Ribuan Marinir dan Pasukan Lintas Udara Dikerahkan

Repelita.net

28 March 2026 10:24 WIB • 1,040 view

AS Proyeksikan Operasi ke Iran Rampung dalam Hitungan Minggu, Ribuan Marinir dan Pasukan Lintas Udara Dikerahkan
Foto: Istimewa

Repelita Paris - Pemerintah Amerika Serikat memproyeksikan bahwa operasi militer terhadap Iran akan rampung dalam hitungan minggu, bukan bulan, sebuah pernyataan yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio usai pertemuan tingkat menteri luar negeri G7 di Prancis pada Jumat, 27 Maret 2026.

Rubio menegaskan bahwa Washington optimistis dapat mencapai seluruh target strategisnya tanpa perlu melancarkan invasi darat berskala besar ke wilayah Republik Islam Iran.

ADVERTISEMENT

Melalui keterangannya kepada pers usai pertemuan Paris tersebut, Rubio menyatakan bahwa operasi militer di Iran telah berjalan sesuai jadwal, bahkan lebih cepat dari rencana semula yang telah disusun oleh pemerintah Amerika Serikat.

Washington berharap dapat menyelesaikan operasi di Iran dalam kurun waktu hitungan minggu, bukan bulan, demikian pernyataan Rubio yang dikutip dari laporan Reuters mengenai proyeksi waktu penyelesaian konflik.

Meskipun Rubio meyakini tujuan militer dapat tercapai melalui serangan udara dan presisi jarak jauh, ia mengakui adanya pengerahan personel militer langsung ke kawasan Timur Tengah untuk memberikan fleksibilitas maksimal bagi Presiden Donald Trump.

Saat ini, Washington telah mengirimkan dua kontingen yang terdiri atas ribuan personel Marinir, dengan gelombang pertama dijadwalkan tiba pada akhir Maret menggunakan kapal serbu amfibi raksasa.

Pentagon juga diperkirakan akan menerjunkan ribuan prajurit lintas udara elite ke kawasan, sebuah langkah yang memicu kekhawatiran global bahwa konflik akan berubah menjadi perang darat yang berkepanjangan.

Konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu melalui serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memicu respons balasan Teheran yang menyasar target Amerika Serikat, Israel, serta fasilitas sipil di negara-negara Teluk.

Gangguan di Selat Hormuz yang merupakan jalur bagi sekitar dua puluh persen pasokan minyak dunia telah memicu lonjakan harga yang signifikan dan menimbulkan ancaman resesi global akibat tingginya ketergantungan energi dunia.

Jika harga minyak mentah melonjak sebesar 10 dolar Amerika Serikat per barel, dampaknya akan langsung terasa pada biaya produksi industri dan inflasi di seluruh dunia yang semakin membebani pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Dari segi korban jiwa, Maria Martinez dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah melaporkan bahwa lebih dari 1.900 jiwa telah melayang dan sedikitnya 20.000 orang mengalami luka-luka di Iran.

Di tengah upaya Presiden Donald Trump yang tampak ingin segera mengakhiri perang yang tidak populer ini, eskalasi justru terus meningkat dengan laporan media Iran bahwa aliansi AS-Israel kembali melancarkan serangan terbaru.

Serangan terbaru tersebut dikabarkan menyasar reaktor riset nuklir air berat dan pabrik pengolahan yellowcake atau uranium pekat pada Jumat malam, menambah daftar panjang target strategis yang telah diserang.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam keras serangan tersebut melalui media sosial dan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap tenggat diplomasi yang ditawarkan Amerika Serikat.

Araqchi menegaskan bahwa serangan tersebut bertentangan dengan perpanjangan tenggat waktu diplomasi oleh presiden Amerika Serikat, dan Iran akan menuntut harga yang mahal atas kejahatan Israel.

Pihak Teheran saat ini dilaporkan sedang mempertimbangkan lima belas poin proposal perdamaian yang dikirimkan Amerika Serikat melalui Pakistan dua hari lalu sebagai upaya mengakhiri konflik.

Proposal tersebut dikabarkan mencakup tuntutan yang sangat berat, mulai dari pembongkaran program nuklir dan rudal Iran hingga penyerahan kendali atas rute perdagangan energi paling penting di dunia.

Namun seorang pejabat senior Iran menyatakan kepada Reuters bahwa melakukan serangan berkelanjutan di saat Amerika Serikat sedang mengupayakan pembicaraan diplomasi adalah hal yang tidak dapat ditoleransi.

Sementara itu, konflik ini juga telah merembet ke Lebanon, di mana serangan balasan Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran telah menyebabkan seperlima penduduk Lebanon terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung