Berita, Internasional

AS Jeda Project Freedom di Selat Hormuz Usai Diluncurkan, Trump Sebut Desakan Pakistan

Repelita.net

06 May 2026 12:09 WIB • 815 view

AS Jeda Project Freedom di Selat Hormuz Usai Diluncurkan, Trump Sebut Desakan Pakistan
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Pemerintah Amerika Serikat secara mengejutkan mengumumkan penundaan operasi pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz yang bertajuk Project Freedom, hanya dua hari setelah diluncurkan.

Keputusan ini disampaikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social pada Rabu (6/5/2026), dengan alasan adanya permintaan dari Pakistan dan sejumlah negara lain.

ADVERTISEMENT

Trump menegaskan bahwa meskipun operasi militer terhadap Iran telah mencapai keberhasilan besar, kemajuan signifikan dalam negosiasi menuju kesepakatan damai mendorong jeda ini.

“Berdasarkan permintaan Pakistan dan negara-negara lain, keberhasilan militer luar biasa yang telah kami capai selama operasi militer terhadap negara Iran dan, selain itu, fakta bahwa kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan final dengan perwakilan Iran,” tulis Trump dalam cuitannya yang diposting pada 6 Mei 2026.

“Kami telah sepakat bersama bahwa, sementara blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, Project Freedom (pergerakan kapal melalui Selat Hormuz) akan dijeda untuk waktu singkat guna melihat apakah kesepakatan (damai dengan Iran) itu dapat difinalisasi dan ditandatangani,” lanjut pernyataan pemimpin AS tersebut.

Sebelumnya, Washington dilaporkan telah menyampaikan pesan tertutup kepada Teheran pada Ahad (3/5/2026) bahwa Pentagon akan memulai operasi pengawalan di selat strategis tersebut.

Portal berita Axios pada Selasa (5/5/2026) mengutip pejabat AS menyebutkan bahwa Gedung Putih berupaya mencegah eskalasi dengan meminta Iran tidak mengganggu operasi yang kemudian diumumkan sebagai Project Freedom.

Namun, laporan itu juga menyebut adanya dugaan serangan Iran terhadap kapal Angkatan Laut AS, meskipun Menteri Perang AS Pete Hegseth menyatakan komunikasi terbuka dan tertutup dengan Teheran terus berlangsung.

Project Freedom sendiri diumumkan Trump pada 3 Mei dan mulai beroperasi Senin (4/5/2026) pagi dengan kekuatan besar, termasuk kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat, platform nirawak, serta 15.000 personel dari Komando Pusat AS (CENTCOM).

Tak lama setelah pengumuman operasi tersebut, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Senin merilis peta baru Selat Hormuz yang menunjukkan klaim kontrol penuh atas jalur tersebut.

Media setempat melaporkan bahwa dalam peta baru itu, batas barat selat membentang dari ujung barat Pulau Qeshm hingga Umm al Quwain di Uni Emirat Arab, sementara batas timur dari Gunung Mobarak hingga Fujairah.

Iran juga memperkenalkan mekanisme baru yang mewajibkan kapal mendapat izin transit melalui email dari otoritas yang disebut Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA), sebagai balasan atas serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.

Di tengah ketegangan ini, Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan kesiapan Berlin untuk berpartisipasi dalam misi keamanan maritim, termasuk melalui cara militer.

Stasiun televisi Jerman NDR melaporkan bahwa kapal penyapu ranjau FGS Fulda telah meninggalkan pangkalan di Kiel menuju Laut Mediterania untuk kemungkinan dikerahkan kembali ke Selat Hormuz.

“Dalam kondisi yang tepat, Jerman siap untuk mengambil bagian dalam memastikan kebebasan jalur laut, termasuk melalui cara-cara militer,” ujar Merz seperti dilansir pada Selasa.

Ia juga memperbarui seruan untuk meningkatkan tekanan sanksi terhadap Iran jika negara itu menolak membuka blokade, serta menegaskan bahwa Iran harus duduk di meja perundingan.

Berbeda dengan Jerman, Spanyol justru menolak segala bentuk partisipasi dalam operasi militer di Selat Hormuz karena khawatir memicu eskalasi lebih lanjut.

Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, dalam wawancara dengan TVE pada Senin menyatakan bahwa tindakan militer apa pun dapat memicu perang yang risikonya masih terus ada.

Albares menambahkan bahwa situasi di sekitar selat saat ini berada dalam kondisi blokade ganda oleh Iran dan Amerika Serikat, dan status quo tersebut jelas tidak berkelanjutan.

Madrid terus mendukung proses negosiasi dan meyakini tidak ada solusi militer bagi krisis ini, baik bagi Washington maupun Teheran.

Albares mengungkapkan bahwa Pakistan, dengan dukungan penuh Spanyol, terus melakukan upaya mediasi, sementara informasi kontak diplomatik di Oman dinilai cukup menggembirakan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung