Repelita [Jakarta] - Ketua Majelis Syura Partai Ummat Amien Rais melontarkan kritik keras menyoroti eskalasi praktik rasuah yang kian merajalela di tanah air.
Gejala penyimpangan anggaran negara dinilai mengalami perluasan luar biasa dan kini telah merambah institusi resmi pemerintahan.
ADVERTISEMENT
Pola kejahatan luar biasa tersebut tidak lagi dijalankan secara perorangan melainkan bertransformasi menjadi kejahatan terstruktur berskala raksasa.
Sorotan tajam diarahkan kepada era kepemimpinan masa lalu yang dianggap menjadi titik tolak meroketnya penyalahgunaan kekuasaan tanpa kendali.
"Tidak berlebihan bila saya katakan 10 tahun Jokowi alias Mukidi berkuasa, korupsi di Indonesia semakin membuncah lepas kendali," ujar Amien Rais melalui akun X @amienrais pada Rabu (29/7/2026).
Gerakan penyelewengan dana publik disebut berlangsung masif di berbagai sektor tanpa menemui hambatan berarti dari penegak hukum.
"Para penjabat yang ada di hulu maupun di hirir melakukan kejahatan korupsi tanpa ada gangguan yang berarti," ucapnya.
Lembaga antirasuah turut disinggung mengalami pelemahan struktural demi mengamankan kepentingan kelompok penguasa saat itu.
"Kemudian kita ingat KPK dilemahkan oleh Mukidi sebagai presiden terkorup nomor 3 menurut OCCRP yang bermarkas di Amsterdam, Belanda," katanya.
Upaya membangun dinasti kekuasaan diyakini sebagai perisai pelindung diri dari jerat pertanggungjawaban hukum di masa depan.
"Di benak Mukidi satu-satunya jalan untuk menghindari terekaman hukum, dia harus punya kekuatan politik yang bisa melindungi dia sekeluarga," imbuhnya.
Memasuki masa pemerintahan transisi kepemimpinan nasional saat ini, bentuk kejahatan finansial dinilai semakin bergeser haluan.
Aktor intelektual di balik skandal keuangan negara bukan lagi sekadar oknum mandiri melainkan melibatkan institusi formal negara.
"Nah di bawah Prabowo sekarang pemain-permulaan korupsi besar, bukan lagi perorangan tetapi lembaga-lembaga resmi negara yang mengingkari fungsinya sebagai lembaga yang bekerja untuk mengabdi pada kepentingan bangsa dan negara," sesalnya.
Transformasi kejahatan tersebut dikategorikan sebagai bentuk megakorupsi yang mengancam stabilitas fondasi ekonomi nasional.
"Sudah berubah sekarang ini menjadi pelaku-pelaku korupsi berskala mega, berskala raksasa," tegasnya.
Hilangnya nurani serta pudarnya budaya risih di kalangan elite penguasa menutup pandangan kritis tersebut secara telak.
"Saya jadi bingung mencoba memahami tokoh-tokoh yang berlomba atau berkompetisi dalam perlombaan mengembangkan sikap edan-edanan tanpa rasa malu, tanpa ewuh-pokewuh," tandasnya.(*).
Editor: 91224 R-ID Elok