Berita, Nasional

Aktivis Kesehatan Zulkifli Ragu Keaslian Ijazah Jokowi Dan Sebut Foto Di Dokumen Bukan Wajah Asli

Repelita.net

29 July 2026 17:44 WIB • 616 view

Aktivis Kesehatan Zulkifli Ragu Keaslian Ijazah Jokowi Dan Sebut Foto Di Dokumen Bukan Wajah Asli
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Perdebatan panjang seputar keabsahan dokumen akademik mantan Presiden ketujuh Republik Indonesia kembali memantik atensi berbagai kalangan publik.

Pandangan kritis kali ini dilontarkan seorang praktisi medis sekaligus aktivis kesehatan menyoroti kejanggalan foto pada berkas kelulusan yang dipersoalkan.

ADVERTISEMENT

Analisis berbasis ilmu kedokteran diklaim membuktikan adanya perbedaan struktural yang nyata pada bagian wajah dalam lembar ijazah tersebut.

"Ijazah yang diributkan itu, yang ada kumisnya, ada kacamatanya, itu bukan fotonya Jokowi presiden itu," ujar Zulkifli.

Penerapan ilmu anatomi tulang tengkorak atau osteologi dijadikan landasan ilmiah untuk memperkuat argumen perbedaan bentuk fisik seseorang.

"Kalau tadi ngomong osteologi, kranium itu istilahnya, tengkorak itu kan jarak mata, tidak bisa itu dirubah-rubah," ucapnya.

Tindakan bedah estetika dinilai memiliki batasan medis dan tidak mungkin sanggup mengubah kerangka struktur tulang wajah secara permanen.

"Pakai operasi apa, kalau operasi plastik hanya untuk ini ya bisa, tapi kalau posisi jarak mata, terus rahang, tidak mungkin," lanjutnya.

Riwayat perjalanan pendidikan tinggi tokoh bersangkutan semasa menjabat kepala daerah turut dipertanyakan kejelasan administratifnya secara terbuka.

"Teologi ini ilmu tentang tulang, jadi dia sebetulnya, saya meragukan dia punya ijazah," Zulkifli menuturkan.

"Saya meragukan, saya juga nggak tahu perjalanan akademiknya dia ketika di Solo jadi wali kota dia pakai Drs," tambahnya.

Keterlibatan penyelenggara pemilu tingkat daerah masa lalu dinilai krusial guna memberikan kesaksian autentik di hadapan hukum.

"Saya juga nggak tahu dia pakai universitas mana, makanya harus jadi saksi itu justru Ketua KPUD Solo, Eko Sulistyo," terangnya.

Pihaknya turut menyambut baik putusan sela peradilan yang memenangkan rekan sejawat sesama profesi medis dalam pusaran perkara hukum serupa.

"Saya sih tetap senang ya, eksepsi Tifa diterima. Maaf karena sebagai teman sesama sejawat, apalagi sama-sama dokter," terangnya.

"Saya senang lah dia bebas, jadi tersangka gitu kan. Tapi di sisi lain ini permainan dari mana ini ya, kira-kira ya, sampai Jokowi pasti nggak bisa datang ke pengadilan," sambung dia.

Kehadiran fisik subjek hukum di ruang sidang diyakini bakal memicu gelombang pertanyaan kritis yang sulit dihindari jawabannya.

"Saya bisa bayangin kalau dia sampai datang di pengadilan, banyak pertanyaan-pertanyaan yang pasti dia nggak bisa jawab," tandasnya.

Perbandingan memori masa perkuliahan turut disematkan guna menggambarkan dinamika sapaan akrab di lingkungan kampus kedokteran.

"Contohnya sederhana gini, saya, mahasiswa kedokteran, saya di waktu kuliah dipanggil Kiply. Jokowi kan ada yang ngomong Jack segala itu," kuncinya.(*).

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung