Berita, Nasional

Adaptasi atau Mati! Saat Iran Tahan Selat Hormuz, Prabowo Cari Minyak, Denny Siregar: Jangan Gengsi!

Repelita.net

27 March 2026 12:48 WIB • 1,279 view

Adaptasi atau Mati! Saat Iran Tahan Selat Hormuz, Prabowo Cari Minyak, Denny Siregar: Jangan Gengsi!
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam akses Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia, memaksa Indonesia untuk bergerak cepat dalam mengamankan pasokan energi nasional dari risiko gangguan impor.

Presiden Prabowo Subianto langsung memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM, Bahlil Lahadalia, untuk mencari sumber minyak alternatif dari luar kawasan Timur Tengah guna menghindari ketergantungan pada jalur yang kini dikuasai Iran.

ADVERTISEMENT

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa saat ini stok minyak Indonesia masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 20 hari ke depan, meskipun ia mengakui adanya tekanan harga yang mulai terasa akibat situasi global yang tidak menentu.

Masih cukup, 20 hari, sampai hari ini tidak ada masalah, demikian pernyataan Bahlil saat ditemui oleh awak media di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terkait ketahanan energi nasional.

Lebih lanjut, Bahlil menambahkan bahwa perlahan-lahan sebagian sudah ada perubahan harga naik, sembari mengingatkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak dengan volume sekitar 1 juta barel per hari.

Prabowo menginstruksikan jajarannya untuk mencari alternatif pasokan minyak dari negara-negara di luar Timur Tengah seperti Amerika Serikat, Afrika, dan Amerika Latin, sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz yang dikuasai Iran.

Di tengah situasi genting ini, pegiat media sosial Denny Siregar memberikan kritik tajam yang langsung viral dengan menyoroti sikap Indonesia yang dianggap terlalu gengsi untuk menjalin kerja sama dengan Iran.

Ayolah, pak, tidak usah gengsi berteman sama Iran, Malaysia sama Thailand sudah dapat izin tuh, China, Rusia, India, Bangladesh malah lebih dulu, kita butuh nih, demikian pernyataan Denny yang mengkritisi kebijakan energi nasional.

Denny juga memperingatkan risiko besar jika Indonesia gagal beradaptasi dengan peta dunia yang berubah cepat, dengan menyatakan bahwa jika perang lebih lama dan Indonesia tidak mendapatkan akses, maka kondisi negara akan amburadul.

Peta dunia sudah berubah, adaptasi atau mati, begitu tegas Denny Siregar dalam kritiknya yang menyoroti urgensi penyesuaian strategi energi nasional terhadap dinamika geopolitik global saat Iran menahan akses Selat Hormuz.

Gangguan di Selat Hormuz tidak hanya berpotensi menghambat distribusi minyak tetapi juga menaikkan harga minyak dunia, yang akan meningkatkan biaya impor bagi Indonesia dan berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak dalam negeri.

Dengan masih tingginya ketergantungan pada impor minyak, kondisi ini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas harga dan pasokan energi nasional yang langsung berdampak pada kehidupan masyarakat.

Krisis ini menjadi ujian besar bagi strategi energi nasional Indonesia, di mana di satu sisi pemerintah bergerak cepat mencari solusi untuk menjaga pasokan energi, namun di sisi lain tekanan global terus meningkat.

Jika situasi memburuk, dampaknya bukan lagi bersifat global tetapi akan langsung dirasakan hingga ke kantong rakyat melalui kenaikan harga bahan bakar minyak dan komoditas lainnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung