Repelita Jakarta - Prancis dilaporkan kehilangan kendali atas sekolah-sekolahnya setelah tuntutan siswa berkembang menjadi krisis nasional dalam hitungan hari.
Siswa sekolah menengah memprotes kekurangan guru, kelas yang penuh sesak, bangunan yang memburuk, kurangnya sumber daya, serta jam sekolah panjang dari pukul 8 pagi hingga 6 sore.
ADVERTISEMENT
Mereka juga mengeluhkan istirahat makan siang satu jam yang dinilai tidak cukup untuk semua orang.
Informasi tersebut sebelumnya diunggah oleh akun @pbb_8o pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Unggahan itu menyebut, "PRANCIS KEHILANGAN KONTROL ATAS SEKOLAH-SEKOLAHNYA".
Unggahan itu juga menulis, "735 sekolah terdampak, kerusuhan kekerasan dilaporkan di dekat 158 di antaranya, dan lebih dari 5.000 orang telah ditahan sejak protes dimulai, sebagian besar di antaranya adalah remaja di bawah umur."
Pemerintah menyatakan protes telah berubah menjadi kekerasan, sementara siswa dan serikat pekerja menilai akar krisis adalah tahun-tahun penganggaran yang kurang dan kekurangan staf.
Situasi itu disebut telah berkembang menjadi krisis yang lebih luas antara generasi muda dan negara Prancis.
Akun @afuzib8 berkomentar, "Persis seperti prediksi Ray Dalio...".
Akun @rufiazlinafadillamarzoeki menulis, "Apa tu bunyi nya".
Akun @herypyp menyebut, "meta.ai cek dan ricek utas ini".
Akun meta.ai kemudian merespons, "Hasil cek: utasnya akurat secara garis besar."
Menurut catatan tersebut, data resmi Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez per Jumat menyebut aksi di 735 sekolah, kerusuhan di 158 di antaranya, dan lebih dari 5.000 penangkapan sejak Senin dengan 85 persen di antaranya di bawah umur.
Akar protesnya juga disebut benar, yakni siswa memprotes kelas penuh, kekurangan guru, gedung rusak, dan jam 8 pagi hingga 6 sore, yang kemudian disebut pemerintah berubah jadi kekerasan urban dan diambil alih kelompok ultra-violent.
Saat ditanya soal pengaruh sayap kiri, meta.ai menyebut hal itu menjadi narasi resmi pemerintah.
Kantor PM Sébastien Lecornu setelah rapat krisis Kamis menyebut ada "constat partagé par les services de renseignement" bahwa ini adalah "manœuvre organisée par LFI et ses proxys de l'ultra gauche".
Catatan intelijen DRPP dan sumber keamanan yang dikutip Le Figaro merinci kehadiran di lapangan sejak 18 September di Créteil, yakni élus LFI plus kolektif sayap kiri radikal seperti Poing Levé, Révolution Permanente, dan NPA yang "memobilisasi dan memprovokasi" blokade.
LFI melalui Manuel Bompard membantah dan menyebut tuduhan itu konspirasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pemerintah Prancis mengenai perkembangan terbaru.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads