Repelita Jakarta - Sebanyak empat kapal kargo berbendera Iran yang dikenai sanksi Barat dilaporkan secara diam-diam telah tiba di pelabuhan-pelabuhan strategis Iran di tengah memanasnya ketegangan antara Teheran dan Amerika Serikat serta Israel.
Berdasarkan data pelacakan maritim yang dirilis pada awal April 2026, keempat kapal tersebut diketahui mengangkut bahan kimia natrium perklorat (sodium perchlorate) dari Pelabuhan Gaolan di Zhuhai, China, yang merupakan pusat penyimpanan bahan kimia cair terbesar di negara itu.
ADVERTISEMENT
Para ahli meyakini muatan kimia tersebut merupakan prekursor penting yang digunakan untuk memproduksi bahan bakar roket padat bagi program misil balistik Iran.
Keempat kapal yang diidentifikasi bernama Hamouna, Barzin, Shabdis, dan Rayen itu seluruhnya dioperasikan oleh Islamic Republic of Iran Shipping Lines (IRISL), perusahaan pelayaran milik negara Iran yang telah masuk daftar hitam sanksi Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa.
Satu kapal tambahan bernama Zardis juga dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju perairan teritorial Iran dengan muatan serupa.
Pengiriman bahan strategis ini terjadi hanya beberapa saat setelah serangan udara gabungan AS dan Israel yang menyasar fasilitas produksi misil dan infrastruktur militer Iran di berbagai lokasi.
Para analis menilai bahwa kerusakan akibat serangan tersebut kemungkinan besar telah meningkatkan kebutuhan Iran secara drastis akan komponen bahan bakar roket untuk memulihkan kemampuan tempurnya.
Isaac Kardon, peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, menyatakan bahwa kebutuhan Teheran akan prekursor propelan telah berubah dari yang semula mendesak menjadi bersifat eksistensial pascaserangan tersebut.
Menurut laporan The Telegraph, pasokan material ini diperkirakan dapat memungkinkan Iran untuk mempertahankan kapasitas meluncurkan antara 10 hingga 30 rudal balistik per hari setidaknya selama satu bulan ke depan.
China sendiri hingga saat ini belum memberikan respons resmi terkait pengiriman keempat kapal tersebut, meskipun Washington selama bertahun-tahun menuduh Beijing membiarkan transfer material terkait misil ke Iran.
Pemerintah China sebelumnya membantah tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat melebih-lebihkan perdagangan komersial atau barang yang memiliki penggunaan ganda (dual-use goods).
Sejak awal tahun 2026, setidaknya belasan kapal IRISL lainnya juga tercatat mengunjungi Pelabuhan Gaolan, dengan data kedalaman kapal menunjukkan sebagian besar berangkat dengan membawa muatan penuh menuju Iran.
Sementara itu, seorang pejabat intelijen AS yang dikutip oleh media 19FortyFive mengungkapkan bahwa jika pengiriman tersebut benar-benar terjadi, Teheran dapat memulihkan produksi rudal barunya dengan relatif cepat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok