Repelita Merauke - Pengamat sosial sekaligus aktivis kemanusiaan Humberto Verbita melalui akun media sosial pribadinya menyoroti fenomena militerisasi berkepanjangan dan dampak ekologis masif di wilayah Papua Raya yang berimplikasi buruk terhadap aspek kesehatan, kondisi psikologis, serta kelangsungan hidup anak-anak asli bumi cenderawasih.
Berdasarkan kajian antropologi lingkungan dan hak asasi manusia, kehadiran jajaran pos operasional keamanan serta perluasan kawasan Proyek Strategis Nasional di wilayah Kabupaten Nduga, Intan Jaya, Puncak, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Maybrat, Tambrauw, hingga Merauke disinyalir telah memicu kemiskinan struktural.
ADVERTISEMENT
Kondisi konflik bersenjata dan penggusuran lahan adat secara langsung menghambat distribusi pasokan pangan serta merusak tatanan sanitasi lingkungan pedalaman, sehingga mengakibatkan lonjakan kasus balita pengungsi yang menderita wasting, infeksi saluran pernapasan akut, hingga ancaman stunting kronis yang mengganggu perkembangan kognitif.
Sementara itu di wilayah Papua Selatan, ekspansi berskala besar untuk program lumbung pangan nasional yang menggusur sekitar 2,5 juta hektare kawasan hutan primer berakibat pada hilangnya sumber karbohidrat alami berupa sagu, satwa buruan, serta komoditas ikan rawa tradisional yang menjadi penopang gizi anak-anak suku asli setempat.
Hilangnya kedaulatan pangan lokal memaksa generasi muda mengonsumsi makanan instan rendah nutrisi yang memicu anemia, sedangkan di wilayah Papua Barat daya seperti kawasan Maybrat, penampakan pos darurat pengungsian yang minim fasilitas air bersih berujung pada tingginya angka penularan penyakit malaria endemik serta diare akut.
Sektor pelayanan dasar juga dilaporkan mengalami kelumpuhan total akibat faktor isolasi geografis dan ketakutan para tenaga medis untuk bertugas di zona rawan, yang pada akhirnya memicu lonjakan angka kematian ibu melahirkan, kegagalan program imunisasi nasional wajib, serta tidak tertanganinya trauma fisik korban kekerasan.
Dari sisi psikologis lintas generasi, paparan ketakutan berupa suara desingan peluru, pembakaran pemukiman warga, serta intrik patroli aparat bersenjata melahirkan gangguan kesehatan mental berupa depresi, hiperwaspada, mimpi buruk, hingga tingginya produksi hormon kortisol yang merusak sistem kekebalan tubuh balita secara permanen.
Kehilangan tanah ulayat sebagai ruang bermain alami dan sekolah kebudayaan adat dinilai melahirkan fenomena keterputusan peradaban, di mana anak-anak Papua tumbuh di zona transisi yang gamang karena terasing dari adat istiadat leluhur namun di sisi lain tidak mendapatkan pemerataan asas manfaat dari program modernisasi.
Esensi mendasar dari peluncuran karya film dokumenter bertajuk Pesta Babi dinilai bukan sekadar simbol ritual budaya biasa, melainkan refleksi jujur mengenai nasib tragis masa depan ekologis generasi penerus papua yang kini terhimpit di tengah ancaman penggusuran korporasi serta egoisme target pembangunan ekonomi makro pusat.
Pemerintah pusat dituntut untuk membuka dokumen analisis dampak lingkungan serta kajian psikologi sosial secara transparan kepada publik akademik, guna memastikan bahwa proyek strategis nasional tidak menjelma menjadi instrumen kekerasan struktural yang mengorbankan hak hidup bermartabat anak-anak asli Papua demi kepentingan investasi semata.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok