Repelita Jakarta - Hasil uji laboratorium terkait sampel makanan dari program Makan Bergizi Gratis yang diduga menjadi pemicu insiden keracunan massal di Kabupaten Sidoarjo akhirnya keluar.
Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo yaitu M Ainur Rahman memberikan konfirmasi resmi mengenai adanya satu sampel yang dinyatakan positif terkontaminasi.
ADVERTISEMENT
Sudah dilaporkan kepada Bupati. Dari beberapa sampel yang diperiksa, ada yang negatif dan ada satu yang positif terkontaminasi, kata Ainur di Sidoarjo, Jumat 11 September 2026.
Meskipun telah mengonfirmasi temuan positif tersebut, pejabat daerah itu enggan membeberkan secara rinci jenis bakteri maupun menu makanan spesifik yang terbukti tercemar.
Dirinya berdalih bahwa pengungkapan detail teknis laboratorium tersebut berada di luar batas kewenangan instansi pemerintahan daerah yang disampaikannya kepada publik.
Selain itu, pemerintah kabupaten juga belum dapat memastikan secara mutlak sumber utama yang menyebabkan kontaminasi berbahaya pada makanan program tersebut.
Belum bisa dipastikan apakah murni dari faktor makanan. Bisa banyak faktor, bisa dari air, bahan baku makanan, maupun kebersihan lingkungan, jelasnya merinci berbagai kemungkinan.
Seluruh dokumen hasil uji laboratorium tersebut saat ini telah diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian agar dapat ditindaklanjuti secara hukum.
Sudah diserahkan ke Polres untuk disandingkan dengan hasil pemeriksaan forensik. Lihat nanti, ini karena kelalaian, ketidakpatuhan prosedur, atau ada unsur lainnya, ucap Ainur.
Berdasarkan pemutakhiran data dari tim medis daerah, gelombang keracunan lanjutan sempat melanda ratusan santri dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam. tercatat sebanyak seratus tujuh belas santri terpaksa dilarikan kembali ke fasilitas kesehatan akibat kembali merasakan gejala gangguan pencernaan.
Dari total keseluruhan korban susulan tersebut, sebagian besar di antaranya kini telah dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang ke pondok pesantren. Sementara itu, sisa santri yang belum pulih sepenuhnya masih harus menjalani rawat inap intensif di bawah pengawasan medis.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok