Berita, Nasional

[WASPADA] Megathrust Selat Sunda M 9 Ancam Lampung, Anyer hingga Teluk Jakarta, Tsunami Bisa Tembus 10 Meter

Repelita.net

14 September 2026 14:56 WIB • 728 view

[WASPADA] Megathrust Selat Sunda M 9 Ancam Lampung, Anyer hingga Teluk Jakarta, Tsunami Bisa Tembus 10 Meter
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ancaman bencana geologi raksasa di kawasan Selat Sunda tidak hanya bersumber dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, melainkan juga dari potensi gempa Megathrust dan jaringan sesar aktif bawah laut.

Informasi mengenai potensi mega energi berbahaya ini dibahas secara mendalam melalui video yang diunggah oleh kanal YouTube iNews.

ADVERTISEMENT

Tayangan tersebut menyoroti interaksi lempeng tektonik yang dapat memicu tsunami masif, sekaligus mengkritisi minimnya dukungan riset kebencanaan di Indonesia.

Kanal YouTube iNews menyiarkan diskusi bersama Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof Dani Hilman, pada hari Senin, 14 September 2026.

Dalam perbincangan tersebut, ia membeberkan fakta bahwa setiap gunung berapi memiliki kantong magma, mekanisme, dan siklus letusan sendiri yang terpisah satu sama lain.

Meskipun bersumber dari zona subduksi yang sama, peningkatan aktivitas satu gunung tidak memicu efek berantai ke gunung api lainnya.

Prof Dani Hilman turut mengonfirmasi status wilayah Selat Sunda sebagai seismic gap, yaitu zona aktif yang sudah ratusan tahun tidak mengalami gempa besar sehingga menyimpan akumulasi energi yang sangat tinggi.

Berdasarkan simulasi ilmiah yang dilakukan timnya, jika gempa Megathrust berkekuatan magnitudo 9 terjadi di Selat Sunda, gelombang tsunami di wilayah Lampung dan Anyer bisa melampaui 10 meter.

Dampak gelombang tersebut diperkirakan dapat mencapai wilayah Teluk Jakarta dengan ketinggian sekitar 2 hingga 3 meter.

Terkait kesiapan infrastruktur menghadapi potensi bencana tersebut, Prof Dani Hilman menyatakan pandangannya secara langsung dalam video di kanal YouTube iNews.

"Oh saya pikir tidak cukup 1 jam itu Prof untuk mem saya enggak bisa membayangkan kalau itu terjadi sekarang sih ya karena itu tadi kuncinya belum banyak ee riset ya Prof yang dikembangkan," ujar pakar geologi tersebut saat merespons estimasi waktu evakuasi warga Jakarta.

Ia menyayangkan regulasi bangunan tahan gempa saat ini baru diwajibkan untuk gedung tinggi dan fasilitas umum, sementara perumahan warga belum diinspeksi secara ketat.

Kondisi riset kebencanaan di Indonesia juga dinilai sangat memprihatinkan karena alokasi dana operasional yang minim serta krisis regenerasi ilmuwan.

Menurutnya, program penelitian berskala nasional untuk gempa bumi dan gunung api hampir tidak ada di lembaga resmi maupun universitas.

Minimnya fasilitas dan ketidakjelasan jenjang karier membuat generasi muda kurang tertarik mendalami bidang vulkanologi dan kegempaan, sehingga jumlah ahli tingkat doktoral di Indonesia kini bisa dihitung dengan jari.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok



TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung