Berita, Nasional

[WASPADA] Ancaman Megatrust Nyata Masyarakat Diminta Bangun Rumah Tahan Gempa dan Siapkan Tas Siaga

Repelita.net

15 September 2026 12:54 WIB • 452 view

[WASPADA] Ancaman Megatrust Nyata Masyarakat Diminta Bangun Rumah Tahan Gempa dan Siapkan Tas Siaga
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Wilayah Indonesia secara geografis berada di zona tektonik yang sangat aktif dan kompleks karena terkompresi oleh dorongan lempeng Australia dari selatan, lempeng Pasifik dari timur, lempeng Filipina dari utara, serta tekanan Asia escape tectonic.

Kondisi tersebut menyebabkan terbentuknya banyak zona tunjaman lempeng aktif yang dikenal sebagai megathrust, yang terbagi dalam 14 segmen dari Sumatra hingga Papua, termasuk wilayah Sulawesi Utara, Laut Maluku, Sumba, Andaman, Aceh Barat, Sumatra Selatan, dan Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

Tekanan dari berbagai lempeng aktif di dalam lempeng Eurasia ini juga memicu keretakan tanah yang menjadi patahan besar di daratan, seperti patahan besar Great Sumatra Fault yang merobek wilayah Aceh hingga Lampung.

Di Pulau Jawa sendiri terdapat sejumlah sesar aktif seperti sesar Cimandiri, sesar Lembang, serta sesar Baribis yang membentang dari utara dan selatan Jakarta hingga mencapai wilayah Surabaya, ditambah sesar Opak di Yogyakarta.

Wilayah lain juga dibelah oleh patahan aktif, seperti sesar naik Flores di bagian utara Bali hingga Nusa Tenggara Timur yang sempat memicu guncangan kuat, sesar Palukoro di Palu, serta sesar Sorong di utara Papua hingga Sulawesi.

Terlepas dari potensi bencana yang ada, aktivitas tektonik ini dinilai sebagai karunia karena memberikan pemanasan bawah permukaan tanah yang menghasilkan kekayaan mineral berharga seperti bijih besi, baja, timah, nikel, emas, hingga gas bumi.

Berdasarkan tayangan di kanal YouTube Nusantara TV yang diunggah pada bulan Agustus 2024, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, dr. Daryono, menegaskan bahwa gempa bumi merupakan peristiwa alam yang tidak melukai manusia melainkan kelemahan struktur bangunan yang menjadi penyebab utamanya.

Dalam diskusi tersebut, dr. Daryono memberikan pernyataan resmi yang menegaskan, "Tuhan memberi kita akal budi kepantaian kecerdasan yang itu inherent bawaan dari lahir agar kita bisa pintar dan menyelamatkan diri Nah di kita itu ibarat hanya numpang tinggal di Nusantara ini di atas ee tanah yang dinamis".

Beliau melanjutkan penjelasannya mengenai langkah adaptasi bangunan dengan menyatakan, "Artinya kadang megatras dan sesar itu aktif bumis gempa kan bergojang tuh ya tinggalnya buat bangunan yang kokoh Rumah kalau berani membuat rumah tembok harus dilengkapi besi tulangan".

Terkait detail teknis struktur rumah yang aman, dr. Daryono memaparkan, "Ini kolom Kalau yang dasar di atas di atas pondasi itu anu slope bark yang di atas itu harus ada besi tulangannya dan dibungkus beton Baru kemudian dipasang batu bata atau kalau belum mampu menyediakan ini bangunlah rumah ringan dari kayu dan bambu yang didesain menarik".

Lebih lanjut, dr. Daryono menggarisbawahi pilihan bagi masyarakat demi keselamatan dengan menyebutkan, "Pilih itu aja kalau pengin selama sebenarnya ya dimiliki oleh tidak pernah membunuh dan melukai Ingat Oke Oke Yang melakukan itu adalah bangunan rubuh ke strukturnya lemah".

Melalui video di kanal Nusantara TV tersebut, dipaparkan pula pemetaan wilayah aman di Indonesia di mana daerah yang tidak rawan terhadap guncangan gempa bumi hanyalah Riau dan Merauke, sementara seluruh provinsi di Pulau Kalimantan dipastikan memiliki sumber gempa.

Untuk potensi bencana tsunami, wilayah perairan yang dinyatakan bebas dari ancaman tersebut hanya berada di antara Kalimantan Barat dan Sumatra bagian timur, sedangkan wilayah pesisir Indonesia lainnya secara keseluruhan sudah terpapar risiko tsunami.

Upaya mitigasi bencana di Indonesia ke depan dinilai perlu memprioritaskan shifting paradigma dengan fokus menempatkan anggaran pra-bencana sebagai bentuk investasi struktural maupun non-struktural guna menekan besarnya alokasi biaya tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.

Pemerintah dipandang perlu memperkuat sistem peringatan dini yang mencakup bencana tsunami, cuaca ekstrem, iklim ekstrem, aktivitas gunung api melalui sistem Magma PVMBG, banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran hutan beserta pemeliharaan sensornya.

Terkait maraknya prediksi kebencanaan oleh pihak amatir di media sosial, dr. Daryono memberikan lima parameter penting untuk menguji keabsahan sebuah ramalan bencana agar masyarakat luas tidak menjadi panik oleh informasi yang bias.

Seseorang yang mengeluarkan prediksi harus memiliki latar belakang pendidikan formal kegempaan yang mendalam, menggunakan metode riset ilmiah yang jelas, menyertakan data pendukung yang sahih, serta hasil kajiannya wajib diverifikasi dan mendapatkan persetujuan dari lembaga kegempaan resmi negara.

Hingga saat ini, perkembangan sains dan teknologi di seluruh dunia termasuk di negara-negara maju belum mampu mendedikasikan sistem untuk mendeteksi secara pasti mengenai kapan, di mana, serta berapa besaran magnitudo suatu gempa bumi sebelum peristiwa itu terjadi.

Selain kesiapan infrastruktur dan regulasi tata ruang berbasis risiko, langkah krusial yang harus diwujudkan adalah pemahaman tanggap darurat di tingkat keluarga melalui penyusunan rencana darurat keluarga atau family emergency planning.

Setiap keluarga wajib menentukan titik kumpul bersama apabila terjadi krisis serta menyiapkan tas siaga bencana berisi surat-surat berharga, bahan makanan kering untuk tiga hari, pasokan air minum, obat-obatan penting, baterai, serta alat komunikasi radio.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung