Repelita Jeneponto - Buntut dari sajian menu ikan yang diduga busuk dan membuat puluhan murid sekolah dasar keracunan, dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Rumbia Kabupaten Jeneponto ditutup sementara.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi penyuplai makanan tersebut dihentikan operasionalnya hingga hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan keluar secara resmi.
ADVERTISEMENT
Koordinator Wilayah SPPI Kabupaten Jeneponto, Nur Ikhsan, mengatakan bahwa penutupan ini dilakukan karena kondisi saat ini dinilai tidak memungkinkan untuk melanjutkan kegiatan distribusi makanan.
"Mulai besok kami kasih berhenti operasional dulu karena dilihat kondisi sekarang tidak memungkinkan," ujar Nur Ikhsan kepada awak media pada Kamis (23/4/2026).
Nur Ikhsan menegaskan bahwa pemberhentian operasional dapur MBG tersebut sesuai dengan instruksi resmi dari pihak Provinsi setelah melakukan koordinasi lintas instansi.
"Ditutup sampai keluar hasil uji lab dari dinas kesehatan. Iya betul ini bagian dari sanksi kepada SPPG," tegasnya menjelaskan bahwa penutupan adalah bentuk sanksi tegas.
Lanjut Nur Ikhsan, ketika mendapatkan informasi pertama tentang adanya siswa keracunan, pihaknya langsung bergerak cepat menuju lokasi sekolah.
Tim SPPG langsung menarik kembali makanan atau ompreng yang masih tersisa di sekolah dan mengambil sampel makanan untuk pengujian laboratorium.
"Kami menuju ke sekolah juga, ompreng masih ada di sana dan kami meminta untuk dibawa ke SPPG. Untuk tindak lanjutnya itu Dinas Kesehatan bersama kami tadi ke TKP langsung ambil sampel," tandasnya.
Mengenai hasil uji laboratorium nantinya, Nur Ikhsan menyebut bahwa hal tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan dan wewenang Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto.
"Informasi (lanjutannya) kami tunggu dari Dinas Kesehatan terkait masalah uji labnya," ucap Nur Ikhsan menutup pernyataannya.
Sebelumnya, puluhan murid dari UPT SDN 7 Rumbia yang berlokasi di Desa Ujungbulu Kecamatan Rumbia harus dilarikan ke Puskesmas setelah diduga mengalami keracunan menu MBG pada Kamis (23/4/2026).
Kepala Puskesmas Tompobulu, Sudarmi Salawaty, membenarkan kejadian tersebut ketika dikonfirmasi oleh awak media di lokasi kejadian.
Ia mengatakan bahwa saat ini pihaknya masih fokus pada penanganan medis terhadap para pasien serta melakukan pendataan secara akurat.
Tercatat sebanyak 23 orang siswa sempat dibawa ke Puskesmas Tompobulu untuk mendapatkan pertolongan medis darurat dan perawatan intensif.
"10 orang telah dipulangkan setelah menjalani observasi. Sebanyak 13 orang sempat diinfus, hingga tersisa 7 orang yang masih dirawat inap dan enam lainnya dirujuk ke Rumah Sakit Pratama Rumbia," ujar Sudarni pada Kamis malam.
Sudarni menjelaskan bahwa mereka yang dirujuk ke rumah sakit mengalami gejala yang lebih serius seperti sesak napas, kejang, hingga badan lemas akibat diare.
Rasa sakit perut yang tidak tertahankan juga menjadi keluhan utama dari para siswa yang harus mendapatkan perawatan intensif lebih lanjut.
Terpisah, Kepala Sekolah UPT SDN 7 Rumbia, Hj Siti Muliati, mengatakan bahwa murid-muridnya mengalami sejumlah gejala alergi setelah menyantap menu MBG.
"Terindikasi gatal-gatal setelah menyantap MBG yang lauknya dari ikan layang digoreng tepung," ucap Hj Siti Muliati menjelaskan jenis ikan yang disajikan.
"Ada beberapa orang siswa termasuk seorang guru yang gatal-gatal di daerah bibirnya, sekitar mulutnya, juga ada sampai ke telinganya, ke daerah lehernya, lengan-lengannya, sampai kaya bisul-bisul begitu kemerahan," tambahnya merinci gejala yang muncul.
Lanjut Hj Siti Muliati, makanan tersebut dikonsumsi oleh para siswa sekitar pukul 09.30 Wita saat waktu istirahat sekolah tiba.
Reaksi alergi dan keracunan pun muncul begitu cepat kepada beberapa murid setelah menyantap makanan yang diduga mengandung ikan basi.
"Tidak sampai satu jam, ada sementara menyantap sudah langsung kena gatal-gatal," imbuhnya menggambarkan cepatnya reaksi yang timbul.
Baginya, hampir seluruh kelas di sekolah tersebut terdampak oleh insiden ini meskipun mayoritas korban berasal dari murid kelas 6.
Salah satu murid bahkan sempat pulang sekitar pukul 10.45 Wita dalam kondisi terlihat baik-baik saja di sekolah.
Namun setelah sampai di rumahnya, tiba-tiba muncul berbagai gejala seperti bisul-bisul dan bentol kemerahan di sekujur tubuh.
"Muncul bisul-bisul jadi langsung dikasi minum air kelapa sama nenek dan orang tuanya baru dibawa ke Puskesmas," terang Kepala Sekolah menceritakan kronologi salah satu korban.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok