Berita, Nasional

[VIRAL] Ray Rangkuti Sindir Ucapan Prabowo Dan Gibran Soal Sekolah Serta Budaya Baca: Pasangan Serasi, Bukan?

Repelita.net

12 August 2026 14:51 WIB • 393 view

[VIRAL] Ray Rangkuti Sindir Ucapan Prabowo Dan Gibran Soal Sekolah Serta Budaya Baca: Pasangan Serasi, Bukan?
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pengamat politik Ray Rangkuti melontarkan kritik menohok terkait pandangan dua pimpinan nasional mengenai pentingnya dunia pendidikan dan minat baca.

Melalui akun media sosial milik Ray Rangkuti, ia menyandingkan dua pernyataan kontroversial dari Presiden Prabowo Subianto serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

ADVERTISEMENT

Ray Rangkuti mengunggah narasi sindiran yang menyoroti keselarasan sikap kedua pejabat publik tersebut terkait nilai literasi serta institusi pendidikan formal.

"Prabowo : Kecerdasan bukan ditentukan sekolah.

Gibran: budaya baca buku tdk ada di rumah saya.

Pasangan serasi, bukan?"

Unggahan tanggal 9 Agustus 2026 tersebut menyoroti pandangan Prabowo Subianto yang menilai tingkat intelektual seseorang tidak melulu bergantung pada tempat mereka mengenyam pendidikan.

Dalam narasi yang beredar Prabowo sempat menyinggung keberanian serta tingkat kecerdasan figur publik seperti Bahlil Lahadalia.

Di sisi lain ungkapan lama dari Gibran Rakabuming Raka mengenai ketiadaan kebiasaan membaca literatur di lingkungan keluarganya kembali dimunculkan ke publik.

Kombinasi kedua pernyataan ini langsung menjadi bahan perbincangan hangat serta menuai berbagai reaksi dari kalangan warganet di platform Facebook.

Berikut adalah beberapa komentar netizen yang dituliskan secara langsung di kolom tanggapan:

Yusuf Bubut menyampaikan tanggapannya: "Hama sawit & kutu loncat"

Lily Jumali memberikan komentarnya: "Pasangan saling melengkapi. Lengkap kacaunya."

Rayfani V Banjary menuturkan reaksinya: "Salah satu ciri manusia cerdas adalah bisa berhitung, setidaknya penjumlahan angka puluhan, setidaknya bukan 10+6= 17."

Danur Danur mengutarakan pandangannya: "Pantesan, mereka "SUPER GENI" (?)"

Mardikoen LM menuliskan analisis ringkasnya: "Prabowo: Kecerdasan bukan ditentukan sekolah. Gibran: Budaya baca buku tdk ada di rumah saya. Termul-Terwo: Mereka pasangan serasi!"

Toto Prasetyo menyampaikan tanggapannya: "Menuju kecemasan hakiki..."

Anas Amrullah memberikan pesannya: "GUNAKANLAH PENGETAHUAN ANDA YANG DI DAPAT DI BANGKU SEKOLAH AGAR DAPAT MEMBEDAKAN ANTARA KECERDASAN DAN KEPINTARAN..."

AR Agus mengutarakan pandangannya: "Perilaku pemilih itu cenderung milih yg mirip dirinya"

Aguslam N. Hampeng berkomentar singkat: "Panci dan penutup."

YS Siregar menyampaikan kritiknya: "HASIL NY 10 + 6=17,MEMALUKAN"

Masoan Kodri membeberkan pandangannya: "Betulah, kecerdasan itu bawaan dan timbul saat menemukan masalah lalu keluar solusi itulah kecerdasan, kepintaran itu diasah disekolah terkait ilmu pengetahuan."

Aco Golla Bone menuturkan tanggapannya: "Hasil produk yg sama produk lewat lorong belakang"

Kontras Tabloid memberikan analisis panjangnya: "Salus populi suprema lex esto adalah adagium atau ungkapan Latin yang berarti "keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi." Prinsip ini pertama kali dicetuskan oleh filsuf dan negarawan Romawi kuno, Marcus Tullius Cicero, dalam karya tulisnya berjudul De Legibus. Hentikan MBG. Selamatkan siswa siswi Selamatkan Indonesia."

Siti Zainabb berkomentar singkat: "Satu frequency.."

Herjanto Sitanggang memberikan sindirannya: "Pantas penjumlahan pun salah salah"

Tjakra Mihardja menyampaikan kritiknya: "Tidak ada budaya literasi adanya budaya duplikasi"

Onyah Rody menuturkan pendapatnya: "Pass saling melengkapi"

Masrudi Ahmad Sukaepa memberikan sudut pandang lain: "Itu sindiran bagi yang rajin berteori tapi malas bekerja"

Jarwo Mokondo berkomentar: "Jokwoy : " Kasmujo adalah dosen pembimbing saya.. ","

Agil Tidar menuliskan reaksinya: "Satu paket beleng beleng"

Asep Wardaya memberikan pendapatnya: "Ucapan Prabowo tidak salah juga. Karena definisi cerdas dan pintar emang beda."

Junaedy Abdullah mengutarakan kekhawatirannya: "Bangettt, menuju Indonesia suram dan gelap"

Akhmad Musta'in menyampaikan sindirannya: "Jokowi memang bijaksana, memilihkan pasangan pemimpin yang tingkat literasinya sama dengan rata-rata masyarakat Indonesia."

Suharsono menyoroti realita sosial: "Yg masuk akal itu knp "pendidikan jd bisnis tp pekerjaan jalurnya relasi" Ini realita yg di cermati rakyat bang"

Asgar Hungkul berkomentar singkat: "Parah parah ngawur"

Bernadus Jahor menuturkan opininya: "Kecerdasan ditentukan MBG"

Dedy Sulaksono menuliskan reaksinya: "Serasi untuk merusak.."

Mami Bani memberikan tanggapannya: "Sungguh Zuperrr sekali"

Elang Timur berkomentar: "Serasi bang bang ray"

Aris Gianluigii membeberkan pandangannya: "Cerdas secara intelek dibentuk disekolah,cerdas secara emosional dibentuk dilingkungan dan pengalaman..."

Agung Subroto menyampaikan kritiknya: "Tetapi bikin URI..."

Fau Zan menuturkan reaksinya: "Dan pemilihnya maksimal SMP, tambah serasi untuk Indonesia emas suk jurang."

Bonjara Panjaitan memberikan komentarnya: "Serasi bodohnya"

Heru Narsono mengutarakan pandangannya: "Satu frekuensi, serasi dalam berpacu dalam halu"

Slamet Mohammed menyampaikan analisanya: "Karena pasangan serasi.... Maka lahirlah anak-anak buah, yang kalau ngomong begitu juga"

Bambang Priyanto berkomentar singkat: "Lol semua"

Issniinur Harjanto memberikan sudut pandang pembelaan: "Jangan salah b Selvi itu wanita juara... pasti cerdas dong.. masalah kerja pimpinan itu kombinasi pengalaman..dan lingkungan... Yg butuh kecerdasan teknis ya orang orang teknis. Tapi mmg semua itu wawasan terhadap semua hal menjadi tolok ukur kemampuan kinerja pimpinan."

Dannies Adrian menuturkan: "Sungguh-sungguh serasi"

Deddy Try Wahono berkomentar: "Yg pilih dan dukung juga sama"

Awal Lauwe menyampaikan sindirannya: "Makanya 6 + 10 = 17"

Pa Chik Iskandar tertawa singkat: "Pasangan pe'a ha-ha-ha"

Irwandi mengutarakan pendapatnya: "Wapres mewarisi ilmu dari bapaknya .. Ilmu sluman slumun......."

Pagut Mulya Lubis menyindir isu ijazah: "Pantasen ijazah tsb tdk ditentutentu²kan sampai saat ini.....wkwkwkwk....."

Togar Thrash berkomentar: "di rumah saya budayanya planga plongo"

Doni R. Sabran membandingkan standar kepemimpinan: "Dulu tolak ukur kecerdasan di Indonesia adalah Habiebie, sekarang Bahlil...sungguh penurunan standar yg sangat jomplang."

IIN memberikan sindirannya: "Rakyat gak butuh pemimpin cerdas, yang penting populer dan kasih bansos."

Bejopratomo berkomentar keras: "Sama sama tol.......oll...."

Bai menuliskan singkat: "Perampok"

Remon Tts menuturkan pendapatnya: "Pasangan MENGECEWAKAN yang romantis"

Sujanarsoh Narsoh berkomentar: "Yang satu oon yang lainnya plonga plongo"

Muhammad Muslik menyampaikan tanggapannya: "Pantesan plo'on."

Sarif menyinggung kelakar lama: "Pantas TDK bisa bedakan mana asam sulfat mana asam folat untuk ibu hamil,."

Dyandra Athaya membeberkan reaksinya: "slama ini saya menganggap "Perhitungan salah Penjumlahan" sbatas candaan doank ,, stelah ada Narasi ini ... sprtinya salah penjumlahan itu FIX mode serius.."

Dedy Rahman mengutarakan kekhawatirannya: "pantesan sekarang ini indonesia tambah mundur bukanya ada kemajuan...."

Bunda Fatimah menuliskan hitungan konyol: "Bluk 10 + 2 = 13"

Andi Zansibar Arifuddin berkomentar: "Pasangan KOCAK"

Nanang Rudhianto menuturkan sindiran pendukung: "Dan pendukungnya berkata, "MBG lebih penting daripada lapangan pekerjaan"."

Anto berkomentar singkat: "Iya sama koplak nya"

Mulyono Kasmudjo menyampaikan kekesalannya: "Pasangan Beleguk"

Tepi Langit menyindir kepemimpinan: "Presiden dan wakilnya sama2 pinter krn keturunan.... Pinter #ngibul"

Slamet Budiono Budi mengutarakan ketidaksetujuannya: "Ya bukan.. amburadul"

Mokhamad Dody Haryadi memberikan peribahasa: "Hati itu seperti bala tentara, saling mengenali yang setipe."

Harlin Turiah berkomentar: "Sudah mabuk, Bang"

Usman Afandi Al Cengkok I menuturkan: "PASANGAN KARBIT"

Taharuddin Erdogan menyampaikan reaksinya: "Ternak2 mulyono kedua dua nya"

Andi Fadly Bahtiar berkomentar: "Sungguh sepaket"

Amir Anwar menuturkan: "pasangan bandit politik"

Gazza Kurniawan memberikan sindirannya: "Menuju Indonesia emas 74 kg ini mah fix"

Lek Alem berkomentar: "Sama2 hanya mengandalkan perUt dan isi perUt,."

Nuansa Atap mendoakan kesehatan pengamat: "Bukaaann Kwkwkw. sehat selalu bang ray rangkuti dan teman2."

Muslih Muslih menyoroti prioritas: "Tidak peduli dengan pendidikan. Yang penting isi perut."

Agusty Demy berkomentar: "Ke bodohan ko tetap di pelihara"

Agus Siradz menuturkan: "Panik ada sayambara"

Kasim Tsu memberikan kiasan bahasa Inggris: "TUMBU OLEH TUTUP dumb n dumber"

Zeth Marayate berkomentar singkat: "Pasangan 11:12"

Gusyarief Rahareng menuliskan: "Justru itu JD 10+2=13"

Buluk Gonzales Gonzales pasrah: "Ah sudahlah"

Fahrur Rozi memberikan pandangan politiknya: "Makanya mereka menang."

Rizal Paransa berkomentar tajam: "Serasi dalam menghancurkan republik ini"

Donyta mengutarakan reaksinya: "Kombinasi pekok dan idiot"

Jhontra Voltha berkomentar: "Dua dua ny msuk angin"

Fatih Sahil memberikan pembelaan definisi: "TERKHUSUS UNTUK YANG SUKA NYINYIR PIDATO PAK PRABOWO : Orang PINTAR menguasai banyak hal karena rajin belajar dan menghafal. Orang CERDAS memiliki kemampuan logika alami untuk cepat menangkap dan memecahkan masalah baru, bahkan tanpa harus banyak belajar lebih dulu."

Syahril Tahir Parinduri menyinggung janji kampanye: "dan kami senang memilih mereka karena gemoy dan tersedia 19 jt lapangan kerja, ya kan 58%?"

Nanang AP Bonsai berkomentar keras: "Pasangan go block"

Zainimal Said menilai kesetaraan: "Mereka nyaris selevel."

Ijanka Mil mempertanyakan fungsi sekolah: "Anaku masih belita belum sekolah udah cerdas. Tapi kenapa yg sekolah sampe perguruan tinggi gak cerdas"

Bang Gondes memberikan dukungan penuh: "Pak Prabowo harus 2 Periode, oke gas oke gas. Presiden terbaik yang di cintai rakyat."

Noor Margono menyinggung ramalan lama: "Menuju prediksi mbah wowo, 2030 indonesia bubar"

S M Malendez berkomentar: "Ya duet maut"

Yudha Andika Putra memberikan kiasan Jawa: "Tumbu oleh tutup"

Ven Venda mempertanyakan konsistensi kebijakan: "Bikin sekolah rakyat? Bikin URI ? Berarti sudah jelas itu sebuah proyek bukan lembaga pendidikan berlahan lahan Tuhan menunjukkan kuasanya terima kasih ya Allah"

Martanii Mustafaa mengkhawatirkan susunan kabinet: "Bagaimn pemerintahan mau beres klo sdh begini presidennya, baru menterinya diam"

Akank Edih berkomentar: "Dasar KUTU BUSUK"

Andhika Rouzyto menyematkan kiasan lokal: "Pepatah Jawa mengatakan: Tumbu oleh tutup. Klop! Koplaknya!"

Breno Ben mengaitkan dengan kekeliruan data: "Pasangan serasi pantasan Indonesia tambah hancur ...yg satu nama nama suku di Indonesia tidak tau ...yg satu lagi ,5+2=6 cocok suda satu paket"

Jacob Bernhard Kappuw berkomentar singkat: "Menuju Indonesia CEMAS"

Sony Copier membeberkan realita kelulusan: "Sebenarnya fakta di bilang Meraka sebanyak itu mahasiswa yg lulus yg cerdas dan sukses GK seberapa 1:100"

Achmad Haslan mengkhawatirkan masa depan: "2 periode bisa rungkat konoha di tangan mereka"

Aushaf Sharkan menilai profil pemilih: "pemimpin merupakan cerminan dari pemilih nya. udah paham kan yg pilih mereka udah pasti setipe, mohon maaf sebelumnya"

Balap Kumang berkomentar pedas: "Pasangan otak udang"

Seno Warsino menuturkan: "Sempurna cocok"

Ncing berkomentar keras: "Paket bejad Hasil pemilu biadab"

Syandi Agoesta berkomentar singkat: "Sangat"

Yuda Perwira menilai keterpaduan: "Bener-bener "pasangan serasi" Abad ini ..."

Muhammad Ikhsan membedakan orientasi: "Pak klu masalah perut itu bodoh, klu masalah otak pasti pintar"

Mudirul Markaz berkomentar singkat: "Bangettttt"

Bang Joe Karangmalang mengeluhkan kondisi kepemimpinan: "Sialan untuk negaraku... 3 periode memiliki presiden yang kacau.."

Rodhy Abarhom merasa prihatin: "wes ajur jum....."

Ali Mubarok memberikan pembelaan: "Wkwk suruh sana ke Hambalang lihat perpustakaan Beliau....di medsos gampang banget orang orang di provokasi"

Bram Allo Toding mempertanyakan pendirian lembaga baru: "Lalu ngapain buka sekolah Rakyat dan universitas Republik Indonesia?"

Muhammad Nasir menyindir kemampuan berhitung: "pantesan matimatika kelewat pinter ."

Fardi Ardi berkomentar: "Sempurna utk Konoha Hancur."

Wen Kampai memplesetkan slogan nasional: "Indonesia adalah emas jadi Indonesia CEmas ....."

Arroyan Siregar berkomentar singkat: "Hancur2an."

Banyu Asmata membeberkan kendala perpolitikan: "Banyak yg lebih pantas memimpin negri ini tapi karena tdk punya modal nekat maka yg didapat ya seperti yg sekarang"

Holis Wahyudi menuturkan ketidakpuasannya: "Buktenah makkeh dedih pejabat tak taoh acaca.knak !"

Hera Kurnia berkomentar heran: "Seperti ini, ia menjadi seorang pemimpin"

Adam Haris menilai kesalahan komunikasi: "Hehe …blunder lagi …lagi2 blunder …"

Annas Anas mengutarakan kecemasannya: "Mau omong apa lagi kita... Bencana sdh didepan mata krn ucapan & ulah pemimpinya seGOBLOK ini."

P. Bedjo Santosa menilai masa depan negara: "Kehancuran negeri ini semakin tampak nyata"

Edy Prasetyo menyindir kualifikasi: "Mulai kampanye untuk penerus yg nggak sekolah, cuma surat keterangan."

Maskur Sabeki berkomentar tajam: "Pasangan BLEKOK!"

Almaisan Athariz Nasution memberikan sebutan konyol: "Sawit men & Batre kembung"

Netty Herawati menyoroti pelanggaran aturan: "Ngankangi Culture RULES hanya ada untuk putra Presiden"

Mang Panay memberikan kiasan lucu: "Kasut sandal kiri semua"

Ahri Adi meminta kejelasan bukti: "Spil vidionya bang ....atau kasih faktanya Gibran ngomon macam itu...."

Hendry Zulkarnain berkomentar singkat: "Kereeeen.."

Johannes Swaranajaya Sinaga merasa prihatin: "Sedih!! Untung TDK byk keluarga Indonesia yg meniru pemimpinnya"

Yuli Subekhi mendukung narasi: "sepemikiran"

Almeera Hananta berkomentar: "Lawak smua"

Tanto Arshavin Jr. menyoroti peran kementerian: "dan mentri pndidikanya...cuma diem"

Djuvhets Taksetampankromeo heran pada pemilih: "Terus mayoritas GURU milih mereka kemarin..."

Wildan Usman mempertanyakan perbandingan: "Jokowi juga gitu kan?"

Benny Ahmad menilai positif: "Yang terbaik"

Husni Habibie mempertanyakan konsistensi program: "Yg suka labil kan ABG... Ini udh abah2 juga labil. Ngapain bikin sekolah Garuda, sekolah rakyat, URI, ujungnya bilang gitu..."

Ina Baiq memberikan kombinasi kata: "Zero bertemu zonkro"

Danirah Irah berkomentar pedas: "Pasangan wong Stres soak dan pongo dungu"

Adjie Mass menuturkan: "Pantesan mereka gitu"

Ellima Dipa tertawa menanggapi: "Oooo,.. tidak heran kamu sangat lucu..??!!!, ternyata kamu cocok banget..wkwkwkwkwk..."

Wheelie Hemmer Anggara Chamcau memberikan nilai: "Saya kasih nilai A+++ untuk pak wowo" (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung