Berita, Viral Sosmed

[VIRAL] Lambe Saham: Kritik Ginting Ungkap Promosi Kilat Teddy Ancam Kepemimpinan Prabowo Subianto

Repelita.net

04 May 2026 14:03 WIB • 902 view

[VIRAL] Lambe Saham: Kritik Ginting Ungkap Promosi Kilat Teddy Ancam Kepemimpinan Prabowo Subianto
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Akun Lambe Saham (@LambeSahamjja) menyoroti analisis mendalam dari analis intelijen militer Selamat Ginting yang dinilai sebagai kritik paling substansif terhadap kasus promosi cepat Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya.

Selamat Ginting mengungkapkan bahwa lulusan Akademi Militer tahun 2011 seharusnya baru bisa menjadi Letkol setelah 23 tahun masa dinas atau sekitar tahun 2034.

ADVERTISEMENT

Saat ini tahun 2026 dan Teddy sudah menjadi Letkol, lebih cepat 8 tahun dari yang seharusnya menurut Peraturan Panglima TNI 2022.

Ini bukan pertama kalinya karena kenaikan dari Kapten ke Mayor Teddy juga melebihi teman seangkatannya.

Semua kenaikan menggunakan mekanisme yang menurut Selamat Ginting tidak ada dalam aturan TNI yaitu istilah kenaikan pangkat reguler dipercepat.

Kenaikan Pangkat Luar Biasa pun sudah diberikan kepada Teddy dua kali sebelumnya tanpa ada prestasi tempur yang setara dengan pengorbanan seperti biasanya.

Soal posisi Sekretaris Kabinet, UU TNI Nomor 34 Tahun 2004 Pasal 47 menyebut ada 10 posisi sipil yang boleh diduduki perwira aktif TNI.

Daftarnya adalah Kemenko Polhukam, Kemenhan, Lemhannas, Wantanas, BIN, BSSN, Basarnas, BNN, Mahkamah Agung kamar militer, dan Sekretaris Militer Presiden.

Sekretaris Kabinet tidak ada dalam daftar tersebut sehingga secara hukum Teddy seharusnya pensiun atau mundur dari dinas militer dulu.

Namun Teddy tetap aktif di TNI sambil menjabat Sekretaris Kabinet tanpa mengikuti aturan yang berlaku.

Keanehan lain adalah jika Sekretaris Kabinet setara eselon 2 maka pangkat yang sesuai adalah Brigadir Jenderal bukan Letnan Kolonel.

Artinya Teddy sekarang sebagai Letkol bahkan belum memenuhi syarat pangkat untuk jabatan yang sedang dipegangnya.

Selamat Ginting memproyeksikan bahwa Teddy bisa naik pangkat menjadi Kolonel pada 2027 dan Brigadir Jenderal pada 2028.

Jika itu terjadi Teddy akan melompati 6 angkatan senior di atasnya yang belum Letkol sampai sekarang.

Ginting mengaku menerima banyak pesan WhatsApp dari perwira tinggi bintang 1 sampai 4 yang resah dengan kasus Teddy.

Seorang perwira lulusan 2006 yang sudah Seskoad dan Diklatpim 2 serta semua syarat terpenuhi belum jadi Letkol.

Sementara Teddy lulusan 2011 tanpa syarat pendidikan yang sama sudah jadi Letkol karena dekat dengan Presiden.

Ginting memberi contoh kegagalan militer Mesir di mana panglima yang hanya berpengalaman sampai Mayor di lapangan tiba-tiba jadi Jenderal dan hasilnya memalukan.

Di dalam negeri ada preseden dari zaman Soekarno ketika Presiden menempatkan tokoh yang tidak layak sebagai Kepala Staf AD.

TNI menolak hadir pada pelantikan dan panglima tidak bisa masuk Markas Besar karena dikuasai yang menentang.

Peristiwa itu berujung pada peristiwa 17 Oktober 1952 sebagai bentuk penolakan institusi militer.

Ginting merekomendasikan agar Teddy dipensiunkan jika ingin tetap menjadi Sekretaris Kabinet.

Jika masih aktif di TNI, Teddy harus dikembalikan ke Kopassus dan dikirim ke Papua memimpin kompi menghadapi Organisasi Papua Merdeka.

"Kopassus bukan tugasnya buka tutup pintu. Seharusnya buka tutup pertempuran," tegas Ginting.

Peringatan paling keras dari Ginting adalah bahwa Presiden Prabowo bisa diproses hak angket di DPR karena melanggar UU TNI.

Akun Lambe Saham mengakhiri analisisnya dengan mengatakan bahwa ini bukan soal Teddy sebagai pribadi.

Ini soal sistem militer yang dirusak ketika loyalitas personal mengalahkan mekanisme yang sudah dibangun bertahun-tahun.

TNI bukan perusahaan keluarga di mana bos bisa mempromosikan siapapun yang dia mau kapanpun dia mau.

TNI adalah institusi dengan hierarki dan aturan yang dibangun bukan untuk menghalangi tetapi untuk memastikan pemimpin yang siap.

Ketika aturan itu dilanggar karena kedekatan dengan presiden, pesan yang diterima prajurit adalah bahwa kerja keras tidak penting.

Dan ketika TNI mulai berpikir seperti itu, maka seluruh rakyat Indonesia yang akan rugi di masa depan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung