Repelita Jakarta - Kasus dugaan korupsi pengadaan kendaraan dinas operasional pada lembaga pemenuhan gizi nasional kini memasuki babak baru setelah nilai kerugian keuangan negara resmi diumumkan.
Pihak Kejaksaan Agung mengonfirmasi adanya penyimpangan anggaran bernilai fantastis berdasarkan hasil pemeriksaan auditor eksternal.
ADVERTISEMENT
Keterangan mengenai rincian kerugian besar tersebut pertama kali disampaikan melalui unggahan oleh akun @ahkarinn pada 12 Oktober 2026.
Akun tersebut menuliskan, "Jujur angka ini bikin aku berhenti scroll. Kejagung menyatakan kasus pengadaan motor listrik Badan Gizi Nasional merugikan negara Rp863.846.166.953, hampir Rp864 militar, berdasarkan laporan audit tertanggal 5 Oktober 2026. Kapuspenkum Anang Supriatna mengumumkannya Sabtu 10 Oktober, sehari setelah lima tersangka dilimpahkan ke Kejari Jakarta Pusat."
Penyidikan mendalam mengungkap modus pemalsuan dokumen penyelesaian pekerjaan yang tidak sesuai dengan fakta riil di lapangan.
Ribuan unit kendaraan roda dua bertenaga baterai yang diserahkan penyedia jasa swasta tersebut ditemukan dalam kondisi tidak lengkap dan tidak layak beroperasi.
Dalam unggahan lanjutan dari akun @ahkarinn pada tanggal yang sama, dipaparkan komparasi data unit riil dengan isi berkas laporan administrasi.
Ia menyatakan, "Dari 19.269 unit yang dikerjakan PT Yasa Artha Trimanunggal dengan anggaran sekitar Rp1,05 triliun, 5.585 unit dilaporkan tanpa baterai, yaitu 5.355 motor trail dan 230 motor bebek. Lebih parah, seluruh motor yang diserahkan tidak punya pelat nomor kendaraan dinas, jadi tidak bisa dipakai dan tidak bisa dicatat sebagai barang milik negara. Padahal sampai akhir Maret 2026 realisasi fisik baru 2.117 unit, tapi berita acara dibuat seolah 21.800 unit selesai."
Korps Adhyaksa bergerak cepat dengan menetapkan serta menahan sejumlah oknum internal lembaga negara beserta pihak eksekutif perusahaan rekanan.
Para pelaku kini ditempatkan di rumah tahanan negara guna mempermudah proses penuntutan di pengadilan tindak pidana korupsi.
Unggahan ketiga dari akun @ahkarinn menguraikan secara rinci identitas para tersangka yang terlibat dalam pemufakatan jahat tersebut.
Ia menuliskan, "Tersangkanya Kolonel Cpl Budi Utomo sebagai pejabat pembuat komitmen BGN, Andri Mulyono, Yenna Yuniana, serta AA dan GB dari PT YAT dan PT ASE. Mereka ditahan 20 hari menunggu sidang di Tipikor Jakarta Pusat. Sumber: VIVA, IDN Times, Bitv, Kompas, CNN – segel gudang Sentul, detik – modus 2.117 unit"
Kerugian masif yang menimpa proyek strategis instansi baru ini memicu gelombang kemarahan dari kalangan warganet di ruang digital.
Seorang pengguna media sosial dengan nama akun _amnoneem mempertanyakan mekanisme pertanggungjawaban atas hilangnya dana publik.
Warganet tersebut menuliskan, "Yang ganti rugi siapa itu. Uang segitu dibuang gitu aja"
Tidak lama setelah itu, akun _amnoneem kembali mengekspresikan kekesalan mendalamnya terhadap perbuatan para koruptor.
Ia menuliskan, "Bajingan bener para Koruptor"
Kebingungan atas buruknya sistem pengawasan proyek berskala besar ini juga diutarakan secara singkat oleh pengguna digital lain.
Komentar bernada keheranan tersebut disampaikan secara spontan oleh akun nekadwriting_.
Ia menuliskan, "Lah gimana"
Selain kekecewaan, sebagian publik juga mengaitkan kelonggaran pengawasan ini dengan penegakan hukum yang dinilai belum memberikan efek jera yang nyata.
Sindiran mengenai eksistensi para pelaku kejahatan keuangan negara tersebut dituliskan oleh akun garis_luru5.
Ia menuliskan, "Allah SWT pun takut sama pelaku korupsi nya,,, krn sampe saat ini pelaku nya masih bernafas dan tak ada laknat utk mereka"
Kritik tajam pun langsung diarahkan kepada pucuk pimpinan pemerintahan baru yang dinilai gagal menjaga efisiensi anggaran sejak awal menjabat.
Kekecewaan terhadap pemborosan alokasi dana negara tersebut disampaikan secara lugas oleh akun mondanil.
Ia menuliskan, "terimakasih prabowo..900M cuma jd sampah"
Sentimen negatif terhadap jalannya roda pemerintahan saat ini ditutup dengan penilaian buruk mengenai arah masa depan tata kelola administrasi nasional.
Pernyataan pesimistis mengenai kemunduran situasi dalam negeri tersebut ditegaskan oleh akun setyabudi_klaten.
Ia menuliskan, "Era pemerintahan wowo memang koplak , bikin hancur indonesia" (*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads