Repelita Jakarta - Narasi kritis mengenai dinamika internal Partai Solidaritas Indonesia atau PSI beredar luas di media sosial X melalui sebuah unggahan opini.
ADVERTISEMENT
Informasi tersebut sebelumnya diunggah oleh akun @LiterasiRakyat pada tanggal 20 Oktober 2026 yang mengkritik keras langkah pragresif organisasi tersebut dalam penunjukan pemimpin.
Pernyataan tajam mengenai kondisi internal partai berlambang mawar tersebut dituangkan secara lugas oleh pengunggah di ruang digital.
Akun @LiterasiRakyat menulis, "Pragmatisme Pemilu PSI, Sebuah Prostitusi Politik dalam Lokalisasi Demokrasi yang Cabul. Analoginya seperti Cabe-Cabean tanpa kualitas kecerdasan dari mereka yang rela tidur dengan paman-paman Bangka tua yang kaya dan mesum, hanya demi hak istimewa untuk berkendara dengan mobil mewah, iPhone terbaru, barang-barang desainer, dan kartu kredit untuk belanja di mal tanpa henti. Sebagai partai politik, PSI membutuhkan figur pemimpin yang kuat untuk bertahan dan mengamankan kursi di parlemen. Karena kekurangan kader internal yang cukup populer dan kredibel untuk langsung meningkatkan suara, elit PSI memilih jalan pintas (pragmatis) dengan mengeksploitasi hak istimewa—atau hak istimewa khusus—putra presiden. Dua hari setelah mendaftar sebagai anggota, boom: langsung menjadi ketua partai. Bagi PSI, menyerahkan jabatan ketua umum kepada Kaesang adalah "penjualan diri politik" yang disamarkan dengan sampul "Investasi Pemilu" agar partai mereka yang compang-camping, kotor, dan bau ketiak tidak tenggelam ke dasar selokan."
Unggahan opini tersebut langsung memicu perhatian serta memancing beragam komentar dari para pengguna platform media sosial X lainnya.
Tanggapan pertama muncul dari akun @ownerWhosTheB yang menuliskan komentarnya singkat, "...silobahutang ⤵️ 🗿"
Melihat respons dari netizen tersebut, akun @LiterasiRakyat kemudian membalas kembali dengan menulis, "Pas..👍"
Komentar bernada penolakan dan perlawanan juga ikut dilayangkan oleh netizen lain di dalam kolom interaksi percakapan tersebut.
Akun @bajingan_DAT menyampaikan pandangannya dengan menulis secara tegas, "Saya akan LAWAN !!! 🤣🤣🤣"
Tidak hanya itu, sorotan mengenai aktivitas digital partai tersebut dalam sepekan terakhir turut dibahas oleh warganet lainnya.
Akun @midhangste memaparkan hasil pengamatannya dengan menulis, "Perhatikan postingan2 @psi_id dlm 1 minggu terakhir Minggu ini 2 th pemerintahan @prabowo, tp yg diposting PSI bkn capaian PS, malah Jokowi Di tengah anjloknya tk kepuasan thd Prabowo, PSI seolah katakan PIYE .. PENAK ZAMANKU TOH"(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Pragmatisme Elektoral PSI, Sebuah Prostitusi Politik Dalam Lokalisasi Demokrasi Mesum. Analoginya mirip Cabe-Cabean minus kualitas isi kepala yg rela ditiduri Om-Om Tua Bangka Cabul kaya raya, demi previlage naik mobil mewah, IPhone teranyar, barang branded dan kartu kredit buat shoping keluar masuk mal. PSI sebagai partai politik membutuhkan figur kuat agar bisa bertahan hidup dan lolos ke parlemen. Karena mereka tidak memiliki kader internal yg cukup populer dan kredibel untuk mendongkrak suara secara instan, para elite PSI memilih jalur pintas (pragmatis) dengan memanfaatkan privilege atau hak istimewa anak presiden. Dua hari daftar anggota, langsung jadi Ketum. Bagi PSI, menyerahkan kursi ketua umum kepada Kaesang adalah “jual diri politik” dengan cover keren “Investasi Elektoral” agar partai mereka yg sudah lusuh, dekil dan bau ketiak tidak karam didasar comberan.
— 𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾ (@LiterasiRakyat) October 20, 2026