Berita, Viral Sosmed

[VIRAL] JK Difitnah soal Pernyataan Mati Syahid Poso-Ambon, Jubir: Pemotongan Konteks Parah

Repelita.net

11 April 2026 20:01 WIB • 1,036 view

[VIRAL] JK Difitnah soal Pernyataan Mati Syahid Poso-Ambon, Jubir: Pemotongan Konteks Parah
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Beberapa akun Instagram nyaris bersamaan akhir pekan ini mengunggah potongan video ceramah M. Jusuf Kalla (JK) disertai narasi yang menuduh bahwa Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI tersebut memfitnah serta menistakan ajaran Kekristenan.

Tuduhan tersebut menyusul pernyataan JK yang menyebut kedua pihak dalam konflik Poso dan Ambon menggunakan istilah mati syahid, namun setelah ditelusuri ternyata merupakan hasil pemotongan konteks (context cutting) yang parah.

ADVERTISEMENT

Juru bicara M. Jusuf Kalla, Husain Abdullah, dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan membeberkan fakta utuh di balik ceramah yang disampaikan di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Kamis (5/3/2026) malam.

Dalam video viral tersebut, hanya ditampilkan potongan kalimat JK yang berbunyi: “Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti.”

Sejumlah akun Instagram lalu menarasikan bahwa JK telah berbohong karena Kristen tidak mengenal mati syahid untuk membunuh musuh, sementara ajaran Kristus adalah mengasihi musuh.

Husain Abdullah menjelaskan bahwa JK sedang berbicara dalam konteks sejarah konflik Poso dan Ambon pada masa awal reformasi yang bernuansa SARA atau menggunakan simbol-simbol agama sebagai alasan pembenar.

JK bukan sedang berkhotbah mengajarkan teologi Kristen, melainkan menggambarkan usahanya kepada civitas akademika UGM saat meluruskan keyakinan kedua kelompok yang bertikai yang telah bertindak keliru.

“Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat konflik pecah. Pada masa itu, benar terjadi bahwa baik kelompok Islam maupun kelompok Kristen sama-sama menyerukan perang suci dan mengklaim bahwa membunuh pihak lawan atau mati dalam pertempuran adalah syahid. Itu fakta sejarah, karena itu baik konflik Poso maupun Ambon disebut bernuansa SARA,” ujar Husain di Jakarta, Sabtu (10/4/2026).

Fakta sejarah ini dapat dikonfirmasi kepada tokoh-tokoh perundingan damai baik untuk Poso maupun Ambon yang masih hidup hingga saat ini.

Husain juga menegaskan bahwa tujuan utama ceramah JK justru untuk membongkar pemahaman sesat tersebut, dan terbukti berkat usaha JK melakukan pelurusan panduan kedua pihak yang bertikai.

Usaha pelurusan tersebut membuat baik pihak Islam maupun Kristen bersedia ke Malino, Sulawesi Selatan, untuk berunding membicarakan perdamaian.

“Pada banyak kesempatan Pak JK selalu menjelaskan tentang pernyataannya yang saat itu bagaimana mengubah pemahaman kedua pihak: bahwa yang mereka lakukan bukan perang suci, tidak akan masuk surga, melainkan neraka bagi mereka yang membunuh tanpa alasan yang jelas. Karena apa yang dilakukan pihak-pihak yang bertikai sudah melampaui batas kemanusiaan: membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua. Perbuatan yang jelas melanggar nilai-nilai cinta kasih. Artinya, Pak JK justru meluruskan pemahaman keliru ini,” tegas Husain.

Atas kritik keras JK terhadap klaim syahid atau martyr dalam konflik Poso-Ambon, kedua pihak yang larut dalam konflik bernuansa SARA bersedia berunding di Malino.

Konflik Poso dan Ambon yang terjadi sekitar 27 tahun lalu mengakibatkan korban jiwa 2.000 orang tewas di Poso dan 5.000 orang tewas di Ambon hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun.

Kedua konflik ini berhasil didamaikan oleh M. Jusuf Kalla selaku mediator melalui Perundingan Malino I untuk Poso tahun 2001 dan Perundingan Malino II untuk Konflik Ambon tahun 2002.

Saat itu JK melibatkan tokoh agama Islam dan Kristen, panglima lapangan kedua pihak yang bertikai, tokoh masyarakat dari kedua pihak, dan pemerintah sehingga dicapai kesepakatan damai yang dikenal dengan nama Deklarasi Malino.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok



TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung