Berita, Nasional

[VIRAL] Gus Hilmi Sorot Dugaan Markup Program Prabowo: Rp24,6 T Pickup India, Rp1,39 T Motor Cina, Galaxy Tab Rp17 Juta per Unit

Repelita.net

12 April 2026 20:30 WIB • 946 view

[VIRAL] Gus Hilmi Sorot Dugaan Markup Program Prabowo: Rp24,6 T Pickup India, Rp1,39 T Motor Cina, Galaxy Tab Rp17 Juta per Unit
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Cendekiawan Nahdlatul Ulama Gus Hilmi Firdausi angkat bicara terkait dugaan markup dalam sejumlah pengadaan yang berkaitan dengan program unggulan Presiden Prabowo Subianto, di mana ia memaparkan sejumlah angka pengadaan yang menjadi perhatian publik.

"105 ribu pickup dari India nilainya Rp24,6 T," ujar Gus Hilmi dikutip pada Minggu (12/4/2026).

ADVERTISEMENT

"Lalu Motor MBG cina sejumlah 21 ribu senilai Rp1,39 T. Ditambah 20.600 truk KMP senilai Rp10,8 T," tambahnya.

Ia menegaskan bahwa besarnya angka-angka tersebut perlu dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat karena menyangkut urgensi dan efisiensi anggaran.

"Dimana letak urgensi dan efisiensinya?," timpalnya.

Gus Hilmi juga menaruh perhatian pada dugaan selisih harga pengadaan perangkat elektronik di mana Galaxy Tab yang di pasar seharga Rp9 jutaan disebut membengkak menjadi Rp17 juta dalam anggaran.

"Belum lagi Galaxy Tab yang di pasar harga Rp9jtan tapi di anggaran jadi Rp17 juta," jelasnya.

Selain itu ia menyinggung pengadaan atribut seperti kaos kaki dan perlengkapannya yang disebut turut menghabiskan anggaran besar dan luar biasa.

"Juga pengadaan kaos kaki dan printilannya yang luar biasa," terang Gus Hilmi.

Lebih jauh, Gus Hilmi berharap seluruh pengadaan dapat dijelaskan secara transparan dan akuntabel serta bebas dari korupsi dan markup.

"Semoga semua dapat dijelaskan, transparan, tidak ada korupsi, tidak ada markup dan tidak dibiayai dari nambah hutang," tandasnya.

Gus Hilmi menegaskan bahwa komentarnya tersebut merupakan suara hati dari rakyat pembayar pajak yang ikut menanggung beban negara.

"Tertanda rakyat pembayar pajak," kuncinya.

Sebelumnya, konten kreator Aryo Pamungkas mengungkap dugaan markup dalam pengadaan motor listrik untuk operasional SPPG yang disebut memiliki selisih harga cukup jauh dari harga pasar.

"Nah, ini baru kasus markup, guys. Kasus Amsal Sitepu yang viral kemarin, nggak ada apa-apanya," ujar Aryo dikutip dari videonya pada Minggu (12/4/2026).

"Ternyata, motor listrik Trail MBG yang katanya dibanderol Rp42 juta, netizen udah nemu motor aslinya di Alibaba, impor dari Cina dengan harga Rp10 jutaan saja," tambahnya.

Ia bahkan menyebut nama produk yang diduga identik dengan motor tersebut yaitu Kolter ES1 X Pro yang setelah dicek memiliki banyak spesifikasi yang identik.

"Hebat! Nama motornya, Kolter ES1 X Pro. Dan setelah saya tanyakan ke AI untuk perbandingan speknya, dua-duanya banyak yang identik," tukasnya.

Aryo juga menghitung potensi selisih harga jika dikalikan dengan jumlah pengadaan 21 ribu motor dikali margin profit sekitar Rp30 jutaan.

"Ini asli gila, bener-bener. Bayangin, 21 ribu motor kali margin profit Rp30 jutaan. Rp600 miliar," bebernya.

Selain motor, ia juga menyinggung dugaan markup pada pengadaan tablet Samsung aktif seharga Rp9 jutaan yang dibanderol Rp18 juta atau diambil untung dua kali lipatnya.

"Ini belum ngomongin pengadaan tablet Samsung aktif seharga Rp9 jutaan yang dibanderol Rp18 juta. Diambil untung dua kali lipatnya," Aryo menuturkan.

"Belum kaos kaki dan baju atribut yang harganya miliaran. Padahal sama sekali bukan esensial untuk program gisi penuntasan stunting anak," sambung dia.

Aryo turut mengkritik respons pihak terkait yang disebut tidak memberikan penjelasan memadai dan mendorong adanya audit menyeluruh terhadap program MBG dan Badan Gizi Nasional.

"Mana nih jaksa yang kemarin keluar-keluar markup biaya edit harusnya nol? Apa cukup bilang, udah sesuai anggaran 2021? Terus kemudian jadi kebal hukum," imbuhnya.

"Bahkan waktu wartawan pas nanyain ke Menteri Purbaya aja cuma cengengesan. Ini miskom. Terus lempar tanggung jawab," tandasnya.

"Guys, kita harus viralkan ini. Untuk minta segera audit BGN dan MBG ini. Siapa yang mengajukan, siapa yang menyetujui, siapa yang mencairkan, siapa pemilik perusahaan-perusahaan rekanan, pengadaan, dan lain-lain," tandas Aryo.

"Ini ya, kalau gini-gini terus, jangan salahkan rakyat. Nanti kalau misalkan ganti BGN ini dari Badan Gizi Nasional jadi Badan Garok," kuncinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung