Repelita Jeneponto - Sejumlah video yang memperlihatkan kondisi murid Sekolah Dasar usai menyantap makanan program unggulan Presiden Prabowo Subianto yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial.
Rekaman yang beredar luas itu memicu perhatian publik setelah beberapa anak terlihat mengalami gangguan kesehatan serius dan harus dilarikan ke Puskesmas.
ADVERTISEMENT
Dalam video yang beredar, sejumlah siswa tampak menangis histeris sambil menggaruk-garuk tubuh mereka yang kemerahan akibat rasa gatal yang luar biasa.
Beberapa siswa lainnya terlihat didampingi orang tua masing-masing saat menjalani penanganan medis darurat di fasilitas kesehatan setempat.
Suasana panik dan mencekam terlihat jelas saat para siswa yang masih polos itu dibawa menuju Puskesmas dengan tergesa-gesa.
Dalam rekaman tersebut, seorang perempuan dengan nada panik menyebut bahwa anak-anak mengalami reaksi alergi usai menyantap menu MBG.
"Gara-gara MBG, anak-anak alergi. Bengkak-bengkak semua, dibawa ke Puskesmas anak-anak, bengkak-bengkak semua," kata seorang perempuan dalam video tersebut.
Ia juga menduga bahwa lauk ikan yang disajikan menjadi penyebab utama keluhan alergi yang dialami oleh para siswa.
"Gara-gara makan ikan semua, biar ikan kalau sehat. Tapi ini ikan bo'no (busuk). Sudah banyak anak-anak dibawa ke Puskesmas," lanjutnya dengan nada kesal.
Video lain yang juga beredar memperlihatkan sejumlah siswa terbaring lemah di atas tempat tidur Puskesmas sambil menunggu penanganan lebih lanjut.
Orang tua siswa terlihat duduk di samping anak masing-masing dengan wajah penuh kecemasan dan kekhawatiran yang mendalam.
"Keracunan MBG anak-anak, gatal-gatal ki," ucap seorang pria dalam video tersebut mengonfirmasi apa yang terjadi pada anak-anak.
Peristiwa nahas itu diketahui terjadi di SD Negeri 07 Rumbia yang berlokasi di Kabupaten Jeneponto pada Kamis (23/4/2026).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jeneponto, Alamsyah, membenarkan adanya informasi tersebut meskipun dirinya mengaku masih melakukan pengecekan di lapangan.
"Iya daerah Rumbia kejadiannya, saya belum kroscek juga kebenarannya karena sebenarnya ini dapur (SPPG) tidak pernah juga dikomunikasikan di Dinas," ujar Alamsyah dengan jujur.
Alamsyah mengungkapkan bahwa selama ini distribusi makanan dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak pernah dikoordinasikan dengan dinas pendidikan.
Akibatnya, pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG menjadi tidak maksimal baik dari sisi distribusi maupun mutu makanan.
"Jadi susah juga bagaimana pemantauannya, pengaturannya. Ini dapur langsung ke sekolah masing-masing, tidak disampaikan ke dinas dulu," ucapnya mengeluh.
Ia menilai pola distribusi tanpa koordinasi lintas instansi ini sangat berisiko menimbulkan berbagai persoalan di kemudian hari.
Terutama menyangkut aspek keamanan pangan yang dikonsumsi oleh peserta didik yang masih sangat rentan terhadap gangguan kesehatan.
Di tengah kejadian yang memprihatinkan tersebut, pihak sekolah bersama tenaga kesehatan disebut bergerak cepat memberikan penanganan optimal.
"Iya sudah penanganan Puskesmas dengan kepala sekolah, dengan korwil juga, sudah bawa ke puskesmas juga, antisipasinya," katanya menjelaskan respons cepat yang dilakukan.
Alamsyah juga menyampaikan bahwa dirinya telah memerintahkan pengawas wilayah atau korwil untuk turun langsung ke lokasi kejadian.
"Saya juga sudah perintahkan ke situ, pengawas Korwil, saya sudah komunikasikan juga antisipasinya," jelasnya tentang langkah cepat yang diambil.
Hingga saat ini, para siswa yang terdampak masih menjalani serangkaian pemeriksaan dan pengobatan intensif dari pihak Puskesmas setempat.
Namun Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto masih menunggu laporan rinci dari kepala sekolah terkait jumlah pasti siswa yang terdampak.
"Dalam kondisi pengobatan dari puskesmas saya dengar informasinya, tapi saya tunggu laporannya juga kepala sekolah secara detailnya (untuk jumlah siswa yang diduga keracunan atau reaksi alergi)," ungkapnya.
Alamsyah menambahkan bahwa hingga kini pihaknya belum menerima penjelasan resmi dari penyedia makanan program MBG terkait insiden tersebut.
Ia memastikan akan segera menghubungi koordinator tingkat kabupaten untuk menelusuri akar penyebab kejadian dan menentukan langkah antisipasi ke depan.
"Belum saya dapatkan komunikasinya, nanti saya telepon koordinator Kabupatennya (terkait kejadian ini)," pungkas Alamsyah mengakhiri pernyataannya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok