Repelita [Jakarta] - Insiden perkelahian hebat antar sesama prajurit pecah di atas kapal induk USS Abraham Lincoln hingga menewaskan tujuh personel angkatan laut Amerika Serikat.
Perselisihan mematikan di atas kapal perang tersebut dipicu oleh tingginya tingkat kecemasan serta ketidakpastian nasib para awak kapal.
ADVERTISEMENT
Peristiwa bentrokan fisik meluap sesaat setelah pejabat penasihat Komando Pusat tiba di lokasi untuk meredam kekecewaan para prajurit.
Protes keras sebelumnya telah dilayangkan oleh pihak keluarga akibat masa penugasan kapal induk USS Abraham Lincoln yang terus diperpanjang.
Kapal perang tersebut tercatat telah beroperasi selama 263 hari di kawasan Samudra Hindia guna menjalankan misi pemblokadean.
Gugus tempur militer itu diketahui mulai memperkuat posisi di area Armada Kelima Amerika Serikat sejak akhir Januari 2026.
Penempatan armada ini menjadi awal peningkatan kekuatan militer sebelum pecahnya ketegangan wilayah pada akhir Februari.
Gejolak di internal militer ini sejatinya telah dibahas dalam pertemuan tertutup antara perwakilan keluarga pelaut dan pimpinan Angkatan Laut.
Kerabat para prajurit secara terbuka menyampaikan kecemasan mendalam terkait risiko kesehatan mental serta potensi tindakan melukai diri di tengah laut.
Keluhan tersebut disampaikan langsung kepada Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut Hung Cao dalam dialog tatap muka di San Diego.
Seorang istri prajurit mengisahkan pesan memilukan dari suaminya yang mengaku putus asa menghadapi tekanan penugasan tanpa kepastian.
Pihak pimpinan rapat menegaskan bahwa fasilitas konseling, dokter, serta pendeta telah disiagakan penuh untuk mendampingi para prajurit.
Tambahan tenaga medis profesional juga diupayakan untuk segera dikirimkan ke atas kapal guna memperkuat layanan kesehatan jiwa.
Isu beban psikologis ini kian menguat seiring belum adanya tanggal pasti kapan penugasan operasi tempur tersebut akan diakhiri.
Otoritas Angkatan Laut menyatakan pemantauan terhadap kesiapan mental seluruh personel terus dilakukan secara berkala.
"Pimpinan terus melakukan penilaian untuk memantau dan mempertahankan kesiapan psikologis setiap pelaut," kata Angkatan Laut.
Penelitian akademis menunjukkan bahwa keterbatasan waktu istirahat dan minimnya akses layanan medis menjadi pemicu utama tingkat stres prajurit.
Hambatan komunikasi dengan keluarga serta ketiadaan sarana pelepasan emosi turut memperburuk kondisi psikologis di atas kapal perang.
Mantan prajurit senior Thomas Nutzmann menilai ketidakpastian jadwal pulang dapat menghancurkan mental bertempur para pelaut.
"Tidak ada hari Senin, Selasa, Rabu, ini hanya satu hari," kata Thomas Nutzmann.
Ia menambahkan bahwa berada di laut dalam durasi ekstrem akan membuat upaya menjaga moral prajurit menemui titik jenuh.
"Anda mencoba untuk mempertahankan optimisme sebaik mungkin. Masalahnya adalah ketika Anda berada di laut begitu lama, Anda hanya bisa melakukan sedikit hal untuk menjaga moral tetap tinggi sebelum Anda mencapai kebuntuan dan di situlah kemerosotan terjadi," kata Thomas Nutzmann. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok