Repelita Jakarta - Pegiat media sosial Nazlira Alhabsy melontarkan sindiran satir yang menyoroti kriteria figur pemimpin ideal untuk memimpin bangsa Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan dengan menyebut secara spesifik bahwa negara ini tidak cocok dipimpin oleh sosok seperti Anies Baswedan.
ADVERTISEMENT
Sebaliknya, ia justru menilai kepemimpinan Prabowo Subianto sebagai figur yang jauh lebih sesuai dengan kebutuhan Indonesia saat ini.
Jangan pernah pernah pilih Anies jadi Presiden ya. Jangan, ujar Nazlira saat menyampaikan pandangannya pada hari Minggu tanggal 27 September tahun 2026.
Bangsa ini kurang cocok punya Presiden seperti Anies. Yang paling pas itu ya seperti Prabowo, tambah pegiat media sosial tersebut.
Nazlira kemudian melanjutkan sindiran tajamnya dengan menyebutkan sejumlah nama tokoh lain yang dianggap layak meneruskan kepemimpinan di masa mendatang.
Nanti berikutnya bisa Bahlil, Raja Juli or Fahri Hamzah, keren tuh!.
Kalau mau giliran luar jawa boleh juga pilih Pigai atau Hercules, cetus tokoh tersebut dalam kesempatan yang sama.
Pernyataan satir itu merembet pada pembahasan rekam jejak kepemimpinan serta kondisi ekonomi tokoh-tokoh politik nasional yang sedang hangat diperbincangkan.
Sebelumnya, politikus sekaligus aktivis Syahganda Nainggolan pernah membagikan pandangan serupa mengenai kesederhanaan tempat tinggal Anies Baswedan.
Anies itu rumahnya di gang, saya ke rumah Anies itu mobilnya gak bisa masuk, rumah Anies Baswedan sekarang ada di gang, ucap Syahganda.
Syahganda mengungkapkan bahwa selama memimpin ibu kota selama lima tahun dengan anggaran fantastis, sang gubernur tidak memperkaya diri sendiri.
Anies tidak dapat apa-apa, dari semua pekerjaan dia lima tahun itu, dia tidak punya 500.000 hektare tanah seperti Pak Prabowo, tukasnya.
Dia itu menjadi orang miskin kembali. Tidak punya uang untuk mau kampanye dan lain-lain. Ini adalah seorang guru. Ini rakyat harus tahu, terangnya.
Perbandingan aset kekayaan dan kepemilikan lahan tersebut disampaikannya sebagai bentuk kritik atas apa yang dinilai sebagai manfaat riil bagi rakyat.
Kalau Pak Prabowo baru sebentar jadi Menhan, sudah punya 500 ribu hektare lahan, tutur Syahganda menjelaskan perbandingan tersebut.
Ini sorry ya. Ini soal rakyat dapat apa, jadi menurut saya sosok ini perlu dicatat, tambahnya mempertegas argumennya.
Selain masalah aset, aktivis senior itu juga mengenang momen ketika dirinya diajak berkeliling menggunakan sepeda di kawasan permukiman warga Jakarta.
Satu jam kita naik sepeda, ngapain ini gubernur naik sepeda asap-asap sore-sore, sampai ke sana Pak Anies itu ketemu ibu-ibu yang ngurus PAUD, ada namanya Taman RPTA, jelasnya.
Fokus kebijakan pembangunan ruang publik serta perhatian terhadap dunia pendidikan anak usia dini menjadi poin penting yang selalu ditekankan.
Pak Anies itu siang malam ngurusin pendidikan dari urusan pendidikan orang-orang kecil, orang-orang yang membutuhkan ruang publik untuk menambah, mengekstensi, imbuhnya.
Pengalaman hidup di luar negeri turut dijadikan rujukan untuk menilai pentingnya penyediaan fasilitas taman terbuka hijau bagi masyarakat lapisan bawah.
Orang-orang miskin di Eropa, saya pernah jadi orang miskin di Belanda, kenapa saya itu tetap sehat di sana?.
Karena pemerintahnya memberikan ruang publik, taman-taman besar dan lain-lain, tandas aktivis tersebut.
Komitmen menghadirkan fasilitas publik yang layak di perkotaan disebutnya terbukti nyata melalui berbagai program pembangunan selama masa kepemimpinan Anies.
Ini dilakukan Anies supaya anak-anak PAUD ini, anak-anak kecil ini tidak kehilangan ruang publik, kuncinya menutup perbincangan. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok