Berita, Internasional

Trump Tolak Proposal Damai Iran, Negosiasi Nuklir Kembali Buntu

Repelita.net

28 April 2026 18:07 WIB • 1,002 view

Trump Tolak Proposal Damai Iran, Negosiasi Nuklir Kembali Buntu
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Jalan menuju perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali terjal setelah Presiden Donald Trump dilaporkan tidak menyukai proposal terbaru yang diajukan oleh Teheran.

Ketidakpuasan ini berpotensi memperpanjang konflik berkepanjangan yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir di kawasan Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya mengatakan kepada Reuters bahwa Trump menyatakan ketidaksenangannya terhadap usulan Republik Islam dalam sebuah pertemuan tertutup.

Pasalnya, usulan tersebut secara sengaja menghindari pembahasan program nuklir Teheran yang selama ini menjadi momok bagi Washington dan sekutunya.

"Dia tidak menyukai usulan tersebut," kata pejabat itu menirukan pernyataan Trump dalam rapat terbatas.

Penolakan tegas ini disampaikan Trump saat memimpin pertemuan dengan tim keamanan nasionalnya pada Senin, 27 April 2026.

Pertemuan tingkat tinggi itu digelar khusus untuk mengevaluasi secara mendalam proposal terbaru yang disampaikan Iran melalui Pakistan sebagai negara mediator.

Lantas, apa sebenarnya isi proposal dari Republik Islam yang membuat Trump bersikeras menolaknya dengan tegas?

Dan mengapa isu nuklir selalu menjadi titik kebuntuan yang tak kunjung usai setiap kali kedua negara mencoba berunding?

Dalam proposal terbarunya, Teheran mengusulkan pendekatan negosiasi bertahap yang cukup kontroversial di mata Washington.

Republik Islam dilaporkan menginginkan penundaan pembicaraan nuklir hingga setelah perang berakhir dan sengketa pelayaran di Teluk terselesaikan terlebih dahulu.

Mengutip laporan dari Axios dan Reuters, proposal yang disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke Islamabad selama akhir pekan lalu memiliki tiga tahapan utama.

Tahap pertama menuntut AS dan Israel menghentikan perang terhadap Iran disertai jaminan bahwa konflik tidak akan dimulai kembali di masa mendatang.

Tahap kedua membahas penyelesaian blokade laut yang dilakukan Angkatan Laut AS terhadap perdagangan Iran serta nasib Selat Hormuz yang ingin dikendalikan kembali oleh Republik Islam.

Tahap ketiga baru akan membahas isu-isu lain termasuk program nuklir Republik Islam yang selama ini menjadi sumber ketegangan.

Dalam tahap ini, Teheran masih menuntut pengakuan resmi dari Washington atas haknya untuk memperkaya uranium untuk tujuan sipil.

Dengan kata lain, Republik Islam ingin Selat Hormuz dibuka dan perang diakhiri terlebih dahulu sebelum bicara nuklir.

Negosiasi nuklir baru akan dimulai setelah situasi keamanan dinilai stabil dan kondusif oleh kedua belah pihak.

Sikap Washington bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan usulan bertahap dari Teheran.

Amerika Serikat bersikeras bahwa isu nuklir harus menjadi prioritas utama dan dibahas sejak awal perundingan tanpa penundaan.

Bagi Gedung Putih, program pengayaan uranium Iran adalah ancaman nomor satu bagi keamanan kawasan dan sekutunya termasuk Israel.

"Kami tidak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja. Kami harus memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dibuat benar-benar mencegah mereka bergerak cepat menuju senjata nuklir kapan pun," tegas Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam wawancaranya dengan Fox News.

Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales juga menegaskan bahwa AS tidak akan pernah bernegosiasi melalui media atau tekanan publik.

Menurutnya, pemerintah AS sudah sangat jelas menyampaikan garis merahnya dalam konflik ini sejak awal.

Washington secara konsisten mendesak Republik Islam untuk menghentikan program pengayaan uraniumnya setidaknya selama satu dekade penuh.

Selain itu, Amerika juga meminta Teheran bersedia memindahkan seluruh cadangan uranium yang dimilikinya ke luar negeri.

Di balik kebuntuan diplomatik ini, Selat Hormuz menjadi komoditas tawar-menawar yang sangat berharga bagi Iran.

Jalur pelayaran sempit ini merupakan salah satu chokepoint energi paling vital di seluruh dunia.

Sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dan gas global setiap harinya melintasi selat yang diapit oleh Iran dan Oman.

Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, Republik Islam telah memperketat kendali atas Selat Hormuz sebagai bentuk balasan atas serangan AS dan Israel.

Hal ini menyebabkan gangguan parah pada pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam proposalnya, Republik Islam bersedia membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri blokade yang dilakukan AS.

Sebagai imbalannya, Teheran hanya ingin negosiasi nuklir ditunda ke tahap berikutnya setelah situasi keamanan membaik.

Namun AS justru memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan tekanan diplomatik dan ekonomi.

Trump menyatakan ingin mempertahankan blokade laut atas Republik Islam sampai mereka mau tunduk pada tuntutan nuklirnya.

"Ketika Anda punya minyak yang sangat banyak dan jika salurannya ditutup, salurannya akan meledak dari dalam," kata Trump dengan nada percaya diri.

Ia mengeklaim bahwa Iran hanya punya waktu tiga hari sebelum menghadapi tekanan internal yang sangat besar akibat blokade.

Meskipun Trump secara terbuka menolak proposal Iran dan membatalkan kunjungan utusan khususnya ke Islamabad, upaya mediasi masih terus berlangsung.

Sumber dari Pakistan yang bertindak sebagai mediator menyatakan bahwa upaya untuk menjembatani perbedaan antara AS dan Iran belum sepenuhnya dihentikan.

Negosiasi masih terus berlangsung secara tidak langsung melalui jalur-jalur diplomatik yang tersedia.

Namun pertemuan tatap muka antara kedua pihak baru akan dilakukan jika mereka sudah mendekati kesepakatan akhir.

Di sisi lain, Iran tidak tinggal diam menghadapi sikap arogan Washington.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi aktif melakukan diplomasi keliling ke berbagai negara untuk mencari dukungan.

Setelah mengunjungi Pakistan dan Oman, Araghchi dilaporkan akan berkonsultasi lebih lanjut ke Rusia.

Ia dijadwalkan bertemu dengan Presiden Vladimir Putin di St. Petersburg pada Senin, 27 April 2026.

Langkah ini menunjukkan bahwa Iran sedang membangun poros diplomatik alternatif untuk melawan tekanan sepihak dari Washington.

Kegagalan mencapai kesepakatan damai ini langsung berdampak signifikan pada pasar energi global.

Harga minyak dunia mengalami kenaikan tajam pada perdagangan awal Asia, Selasa, 28 April 2026.

Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap terganggunya distribusi energi melalui Selat Hormuz yang masih diblokade.

Kebuntuan diplomasi yang berkepanjangan diprediksi akan terus memberikan tekanan pada harga komoditas energi dunia.

Bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia, situasi ini tentu menjadi kabar buruk yang sangat mengkhawatirkan.

Potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak dan lonjakan inflasi menjadi momok yang terus mengintai perekonomian nasional.

Perbedaan prinsip antara Iran dan AS saat ini terletak pada prioritas pembahasan yang sulit didamaikan.

Iran ingin menyelesaikan krisis kemanusiaan dan ekonomi terlebih dahulu dengan membuka Selat Hormuz dan mengakhiri blokade.

Sementara AS menempatkan penghentian program nuklir sebagai syarat mutlak yang tidak bisa ditawar sedikitpun.

"Pertanyaan paling kritis saat ini adalah apakah yang didahulukan, konsesi nuklir seperti yang diinginkan Washington, atau pembukaan jalur pelayaran seperti yang diminta Iran?" demikian analisis yang dimuat Al Jazeera.

Selama kedua pihak masih bersikukuh pada pendiriannya masing-masing, dan selama Trump masih menyatakan tidak menyukai proposal yang ada, perdamaian akan terus menjadi mimpi yang jauh dari jangkauan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung