Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini benar-benar pusing dan terjebak dalam pusaran perang melawan Iran yang tak kunjung usai, di mana Negeri Paman Sam itu terancam mengalami kekalahan terbesar sepanjang sejarah militernya .
Alih-alih berhasil menundukkan Teheran dengan cepat, Trump justru harus berhadapan dengan batas waktu konstitusional yang semakin mendekat tanpa ada rencana penyelesaian yang jelas .
ADVERTISEMENT
Disitat dari kanal YouTube Kompas, tepat pada tanggal 1 Mei 2026 akan menjadi hari terakhir bagi Trump untuk secara legal mempertahankan pasukan AS dalam perang tanpa persetujuan dari Kongres .
Berdasarkan resolusi kekuatan perang tahun 1973, seorang presiden hanya diizinkan mengirim pasukan ke luar negeri selama 60 hari tanpa restu kongres, dan batas waktu itu akan habis dalam hitungan hari .
Trump baru secara resmi memberitahukan operasi militer ke Iran kepada Kongres pada 2 Maret 2026 sehingga perhitungan 60 hari dimulai dari tanggal tersebut hingga 1 Mei 2026 .
Jika batas waktu terlampaui tanpa adanya otorisasi resmi dari Kongres, maka Trump harus segera menarik seluruh pasukannya dari kawasan Timur Tengah dengan tangan hampa .
Meskipun Partai Republik sejauh ini mendukung penuh operasi tersebut, sinyal penolakan dari internal partai mulai bermunculan karena sejumlah politisi enggan memberikan cek kosong bagi perang tanpa tujuan yang jelas .
Keretakan mulai terlihat ketika Senator Republik dari Utah John Curtis dan perwakilan Florida Brian Mast secara terbuka mempertanyakan tujuan akhir dari perang yang tak kunjung selesai ini .
Jika dukungan internal ini runtuh, Trump akan dipaksa untuk mengakhiri konflik atau menghadapi krisis konstitusi yang jauh lebih berbahaya bagi masa jabatannya .
Di sisi lain, Amerika Serikat juga dilaporkan tengah mengalami krisis rudal yang sangat serius akibat perang yang intens melawan Iran .
Berdasarkan laporan terbaru per April 2026, stok rudal strategis AS khususnya jenis Patriot dan THAAD telah berkurang secara drastis hingga mencapai 50 persen .
Tingginya penggunaan rudal untuk menghadapi serangan Iran dari berbagai lini membuat persediaan utama AS terkuras dalam waktu yang relatif singkat .
Sejumlah analis militer memperkirakan bahwa dibutuhkan waktu hingga 5 tahun bagi AS untuk memulihkan stok rudal mereka kembali ke tingkat normal sebelum perang .
Penipisan stok rudal ini menimbulkan kekhawatiran besar mengenai kesiapan tempur AS jika terjadi konflik lain di wilayah lain seperti kawasan Laut China Selatan atau Eropa Timur .
Sementara itu di sisi lain Iran justru mengklaim memiliki stok amunisi rudal yang sangat melimpah dan siap untuk meladeni perang jangka panjang melawan Amerika Serikat .
Komandan IRGC Brigadir Jenderal Majid Mousavi mengatakan bahwa pasukannya dengan cepat membangun kembali cadangan rudal dan drone setiap saat, bahkan lebih cepat dari sebelum perang .
Dampak ekonomi dari perang ini juga mulai terasa sangat menyakitkan bagi rakyat Amerika dengan harga bensin yang menembus 4 dolar per galon tertinggi dalam 4 tahun terakhir .
Senator Patty Murray murka dengan kebijakan Trump yang dianggapnya ugal-ugalan dalam mengelola anggaran negara di tengah gejolak perang yang berkepanjangan .
Ia menyoroti lonjakan anggaran militer yang mencapai 1,5 triliun dolar sementara program bantuan energi untuk rakyat justru dihapuskan .
Dengan semua tekanan yang menghimpit dari berbagai arah, Amerika Serikat kini terancam mengalami kekalahan terbesar sepanjang sejarah jika Trump gagal menemukan jalan keluar sebelum batas waktu 1 Mei 2026 .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok