Berita, Timur Tengah

Trump Ngamuk Teheran Ogah Negosiasi, Ngancam Akan Lakukan Bombardir, Iran : Kami Juga Siap!!

Repelita.net

20 April 2026 17:28 WIB • 822 view

Trump Ngamuk Teheran Ogah Negosiasi, Ngancam Akan Lakukan Bombardir, Iran : Kami Juga Siap!!
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman keras kepada Iran menjelang negosiasi jilid II yang dikabarkan bakal segera berlangsung.

Trump mendesak agar Iran menyepakati kesepakatan yang ditawarkan oleh Washington sebelum masa gencatan senjata yang rapuh berakhir.

ADVERTISEMENT

"Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal dan saya berharap mereka menerimanya dengan baik, jika tidak, maka AS akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran, Tidak ada Tuan Baik Hati Lagi," tegas Trump dalam unggahan Truth Social dikutip Minggu (19/4).

Sementara itu, Washington mengumumkan pengiriman tim negosiator ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan Iran.

Trump menyebut bahwa delegasi Amerika Serikat akan bertolak ke Islamabad pada Senin untuk mengikuti putaran kedua negosiasi.

"Perwakilan saya akan pergi ke Islamabad Pakistan, Mereka akan berada di sana besok malam untuk negosiasi," kata Trump.

Menurut dua pejabat senior, delegasi AS ke Pakistan disebut kembali dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance.

Namun pernyataan ini bertolak belakang dengan komentar Trump yang sebelumnya menyebut bahwa Vance tidak akan memimpin delegasi.

Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan klarifikasi resmi atas perbedaan informasi yang simpang siur tersebut.

Sementara itu, Iran justru meningkatkan tekanan retorika balik kepada Amerika Serikat.

Sehari setelah menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, Teheran menegaskan bahwa mereka siap melanjutkan konflik jika diperlukan.

Ketua parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa kesiapan militer tetap menjadi prioritas utama.

"Bukan berarti kami berpikir hanya karena kami sedang bernegosiasi, angkatan bersenjata tidak siap," katanya dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.

"Sebaliknya, seperti halnya rakyat berada di jalanan, angkatan bersenjata kami juga siap."

Ghalibaf juga memperingatkan bahwa Iran dapat kembali membatasi lalu lintas di Selat Hormuz jika Amerika Serikat tidak menghentikan blokade lautnya.

"Mustahil pihak lain bisa melewati Selat Hormuz sementara kami tidak. Jika Amerika Serikat tidak menghentikan blokade, lalu lintas di Selat Hormuz pasti akan dibatasi," ujarnya dengan tegas.

Selain soal jalur pelayaran, isu program nuklir tetap menjadi sumber ketegangan utama antara kedua negara.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menolak keras tuntutan AS terkait hak nuklir negaranya.

"Trump mengatakan Iran tidak boleh menggunakan hak nuklirnya, tetapi tidak mengatakan untuk kejahatan apa. Siapa dia sehingga bisa mencabut hak sebuah bangsa?" ujarnya.

Republik Islam Iran dengan tegas menolak segala bentuk negosiasi yang dilakukan di bawah tekanan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut langsung disampaikan oleh anggota Parlemen Iran, Rouhollah Izadkhah, yang merujuk pada arahan sang pemimpin tertinggi Sayyed Mojtaba Khamenei.

"Jika negosiasi terjadi, kita akan memasukinya dari posisi yang kuat dan keyakinan penuh pada angkatan bersenjata kita," ujarnya seperti dilansir Al Mayadeen, Senin (20/4).

Ia juga menyampaikan bahwa Iran siap menghadapi Presiden Donald Trump dan sekutunya di kawasan.

Menurutnya, tujuan negosiasi bukan untuk mengalah, melainkan agar Washington memahami posisi Teheran.

Lebih lanjut, Izadkhah menegaskan sikap tegas negaranya terkait berbagai kepentingan strategis.

“Kami tidak akan berkompromi dengan siapa pun, dan kami bersikeras pada hak-hak kami di Selat Hormuz.”

"Kami akan menetapkan kerangka kerja khusus untuk mengaturnya sesuai dengan hukum internasional,” ujarnya.

Ia juga mengejek kebijakan blokade yang diberlakukan Trump di Selat Hormuz sebagai sebuah pertunjukan yang gagal.

Izadkhah menilai bahwa Amerika Serikat sebenarnya tidak berani melakukan serangan langsung terhadap wilayah Iran.

Sementara itu, kantor berita resmi Iran (IRNA) membantah laporan mengenai adanya putaran kedua negosiasi di Islamabad.

IRNA menegaskan bahwa laporan tersebut “tidak benar” dan bersifat menyesatkan publik internasional.

Hingga kini, tegas IRNA, belum ada keputusan apa pun untuk melanjutkan dialog dengan Washington.

IRNA juga menyoroti sikap AS yang dinilai tidak konsisten dalam setiap proses perundingan.

Maksimalisme dan tuntutan yang berlebihan serta tidak realistis menjadi penghambat utama.

Selain itu, perubahan posisi yang terus terjadi di pihak Washington semakin mempersulit terciptanya suasana kondusif.

Dalam kondisi seperti itu, IRNA menegaskan bahwa tidak ada prospek yang jelas untuk negosiasi yang membuahkan hasil.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung