Berita, Timur Tengah

Trump Kembali Berulah, Pengawalan Kapal dengan Dalih Kemanusiaan Iran: Masuk Selat Hormuz Berarti Perang?

Repelita.net

04 May 2026 20:11 WIB • 805 view

Trump Kembali Berulah, Pengawalan Kapal dengan Dalih Kemanusiaan Iran: Masuk Selat Hormuz Berarti Perang?
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali berulah kali ini dengan alasan kemanusiaan untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.

Militer Iran langsung merespons dengan peringatan keras bahwa setiap pasukan AS yang memasuki selat tersebut berarti menyatakan perang.

ADVERTISEMENT

Menanggapi pernyataan Trump yang berencana melakukan pengawalan dengan dalih keamanan, militer Iran mengingatkan bahwa mereka akan melakukan penyerangan jika pasukan AS masuk.

"Kami memperingatkan bahwa setiap pasukan bersenjata asing terutama militer AS yang agresif, jika mereka bermaksud mendekati atau memasuki Selat Hormuz akan menjadi sasaran dan diserang," ungkap Mayor Jenderal Ali Abdollahi, komandan pusat militer Iran, dalam siaran televisi pemerintah IRIB pada Senin (4/5/2026).

"Kami telah berulang kali menyatakan bahwa keamanan Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran dan dalam keadaan apapun setiap jalur aman harus dikoordinasikan dengan pasukan tersebut," sambungnya.

Pertanyaan besar pun muncul apakah langkah Trump ini akan berujung pada perang terbuka di perairan strategis tersebut.

Sebelumnya Presiden Trump menyebut bahwa militer AS akan membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz atas dasar kemanusiaan.

Pembebasan kapal-kapal tersebut akan mulai dilakukan pada Senin (4/5/2026) pagi waktu setempat.

Trump memastikan bahwa AS akan menjamin keamanan kapal-kapal tersebut selama melintasi Selat Hormuz yang rawan konflik.

"Saya telah memberitahu perwakilan saya untuk memberitahukan mereka bahwa kami akan menggunakan upaya terbaik untuk mengeluarkan kapal dan awak mereka tetap aman dari Selat," kata Trump.

Kemudian Trump memperingatkan bahwa segala bentuk gangguan akan ditanggapi dengan tegas terutama jika berasal dari Iran.

Keputusan ini merupakan respons cepat terhadap eskalasi di wilayah vital perdagangan dunia yang terus memanas.

Selat Hormuz yang lebarnya hanya 33 kilometer di titik tersempit mengalirkan 21 persen pasokan minyak dunia setiap hari.

Data terbaru dari U.S. Energy Information Administration menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak melewati jalur tersebut setiap harinya.

Trump menyampaikan pengumuman tersebut melalui akun X (sebelumnya Twitter) pada malam Minggu (3/5/2026).

"Kami lindungi jalur perdagangan bebas. Iran jangan coba-coba," tulisnya.

Di tengah ketidakpastian perundingan dengan AS dan konflik di Selat Hormuz, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengeluarkan pernyataan mengejutkan.

Dalam pesan tertulis yang dibacakan televisi pemerintah, Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa satu-satunya tempat yang pantas untuk Amerika di Teluk Persia adalah di dasar perairannya.

Pernyataan tersebut menandai babak baru dalam sejarah kawasan dan menegaskan sikap keras Iran di tengah gencatan senjata yang rapuh.

Mojtaba Khamenei juga menegaskan bahwa Iran tidak akan berkompromi terkait kemampuan nuklir yang disebut sebagai aset nasional.

"Dengan pertolongan Tuhan, masa depan Teluk Persia adalah masa depan tanpa Amerika dan kemakmuran bagi rakyat kawasan," ungkap Khamenei seperti dilansir Tasnim.

Sebelumnya Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran itu menegaskan bahwa negaranya tidak akan mundur menghadapi tekanan Amerika.

Sikap tegas itu sekaligus menjadi jawaban atas ketidakpuasan Trump terkait proposal negosiasi yang diajukan Teheran.

"Hari ini kebangkitan luar biasa bangsa Iran, tidak hanya terbatas pada puluhan juta orang yang siap berkorban dalam perjuangan melawan zionisme dan Amerika yang haus darah," katanya.

Lebih lanjut Mojtaba Khamenei menekankan bahwa seluruh kemampuan strategis Iran mulai dari teknologi nuklir hingga misil merupakan aset yang akan dijaga sepenuhnya.

"Dengan seluruh identitas mereka, baik spiritual kemanusiaan, ilmu pengetahuan, industri, hingga teknologi dasar dan modern, mulai dari nano, bio, hingga nuklir dan misil, semuanya dianggap sebagai aset nasional dan akan dijaga sebagaimana mereka menjaga perbatasan laut darat dan udara mereka," tegasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung