Berita, Nasional

Tom Lembong: May Day 2026 Sinyal Darurat Lapangan Kerja, Daya Beli Dan Mega Proyek Tak Jawab Masalah Pekerja

Repelita.net

02 May 2026 13:15 WIB • 1,024 view

Tom Lembong: May Day 2026 Sinyal Darurat Lapangan Kerja,  Daya Beli Dan Mega Proyek Tak Jawab Masalah Pekerja
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ekonom nasional bernama Tom Lembong menilai peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day tahun 2026 memiliki makna yang jauh lebih dalam bagi kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Menurutnya, momentum tersebut bukan sekadar ajang perayaan tahunan melainkan sebuah sinyal keadaan darurat yang sedang dihadapi oleh para pekerja di tanah air.

ADVERTISEMENT

Dalam keterangan resmi yang disampaikan pada Sabtu, 2 Mei 2026, Tom mengingatkan bahwa istilah May Day juga dikenal sebagai kode panggilan darurat di dunia pelayaran dan penerbangan.

“May Day adalah Hari Buruh Dunia tapi juga standar kode atau panggilan untuk kondisi darurat – misalnya antar pelaut atau awak pesawat,” ujar Tom.

Makna ganda dari kata tersebut dinilai sangat relevan dengan situasi saat ini di mana para pekerja mengalami tekanan berat dari sisi ketersediaan lapangan kerja maupun daya beli.

“Tahun ini yang rasanya tepat adalah memperingati makna ganda May Day: mengapresiasi buruh dan pekerja, dan sekaligus mengakui darurat lapangan kerja dan hantaman keras terhadap daya beli pekerja kita,” lanjut Tom Lembong.

Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal itu kemudian menyoroti arah kebijakan ekonomi nasional yang dinilai belum tepat sasaran.

Tom menegaskan bahwa solusi atas persoalan struktural ini sejatinya tidak pernah berubah dalam tiga tahun terakhir.

“Untuk Indonesia, solusinya tidak berubah sejak 3 tahun lalu: harus ada pergeseran kebijakan dari yang mengutamakan mega-proyek yang padat modal, ke program dan kebijakan yang fokus ke sektor yang padat karya,” tegasnya.

Strategi pembangunan yang terlalu berfokus pada proyek-proyek raksasa berintensitas modal tinggi dinilai belum mampu menyerap tenaga kerja secara optimal.

Selain itu Tom juga mengidentifikasi adanya tantangan baru yang harus segera direspons oleh pemerintah yaitu pergeseran dari kebijakan populis ke peningkatan produktivitas tenaga kerja.

“Namun sekarang ada tantangan baru, yaitu perlu pergeseran kebijakan dari program yang populis-konsumtif, ke program yang langsung meningkatkan produktivitas pekerja formal dan non-formal kita dalam jangka pendek,” jelas Tom Lembong.

Ia menekankan bahwa kebijakan yang mendorong produktivitas akan memberikan dampak yang jauh lebih berkelanjutan dibandingkan dengan program-program yang hanya bersifat konsumtif sesaat.

Pernyataan dari ekonom senior ini menjadi pengingat bahwa peringatan May Day seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan melainkan momentum refleksi terhadap kondisi riil pekerja Indonesia.

Dengan tekanan ekonomi global dan domestik yang masih terus berlangsung, isu lapangan kerja serta daya beli dinilai akan tetap menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi melalui kebijakan yang lebih tepat sasaran.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung