Repelita Tel Aviv - Ribuan warga Israel kembali turun ke jalan di berbagai kota pada Sabtu, 28 Maret 2026, dalam aksi protes terbesar sejak perang melawan Iran dimulai, dengan demonstrasi berlangsung di sekitar 20 lokasi termasuk Tel Aviv, Haifa, dan Yerusalem.
Para demonstran yang tergabung dalam koalisi mantan anggota parlemen dan organisasi sayap kiri seperti Standing Together serta Peace Now mengecam keras kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dinilai telah memperpanjang konflik tanpa tujuan yang jelas.
ADVERTISEMENT
"Apa yang Anda lakukan? Anda menghancurkan negara ini hanya demi ego Anda sendiri. Kami tidak ingin menjadi negara yang selalu berperang," teriak seorang demonstran di Lapangan Habima, Tel Aviv, seraya mengangkat spanduk bertuliskan "Bawa Netanyahu ke Den Haag".
Protes yang berlangsung di tengah larangan berkumpul lebih dari 50 orang berdasarkan peraturan keamanan masa perang ini berujung pada bentrokan dengan aparat kepolisian, dengan sedikitnya 18 demonstran ditangkap di Tel Aviv dan Haifa.
Di Tel Aviv, polisi dilaporkan menggunakan tindakan tegas termasuk teknik jerutan leher terhadap demonstran saat membubarkan massa yang memblokade jalan-jalan utama, sementara di Haifa lima orang ditahan karena menghalangi lalu lintas.
Para pengunjuk rasa menuduh pemerintahan Netanyahu memanfaatkan keadaan darurat untuk membungkam suara kritis dan mempertahankan kekuasaan, dengan seruan pemilihan umum dini menggema di antara ribuan peserta yang hadir.
"Perdana menteri telah menjadikan keamanan nasional sebagai alat untuk kelangsungan politiknya. Inilah sebabnya kita terjebak dalam perang tanpa akhir selama dua setengah tahun," tegas pemimpin oposisi Yair Golan yang turut mengkritik kebijakan Netanyahu.
Meskipun dukungan publik terhadap perang secara keseluruhan masih tinggi, angka penolakan tercatat meningkat dari 4 persen pada awal Maret menjadi 11,5 persen pada akhir Maret, dengan kelelahan mulai tampak di kalangan warga yang merasakan beban konflik berkepanjangan.
Kelompok aktivis mengklaim pemerintah Israel sengaja mempercepat penangkapan untuk melenyapkan suara penentang karena khawatir dengan gerakan protes yang mulai meluas ke berbagai lapisan masyarakat.
"Pemerintah takut akan perluasan gerakan protes ini. Mereka menggunakan darurat militer untuk membungkam siapa pun yang berani mengkritik perang yang tidak ada ujungnya ini," kata perwakilan Standing Together dalam pernyataan resminya.
Sementara itu, beberapa demonstran juga mengecam perilaku aparat yang dinilai brutal, dengan laporan tentang warga yang dijatuhkan hingga terjatuh dan ditahan dengan kekerasan yang tidak proporsional selama aksi damai berlangsung.
Di tengah meningkatnya ketegangan, para pengunjuk rasa bersikukuh bahwa dialog dan diplomasi adalah satu-satunya jalan keluar, bukan perang yang hanya akan membawa lebih banyak penderitaan bagi rakyat biasa di kedua sisi perbatasan.
"Mereka bilang kita sedang menang, tapi bagi kami, berperang saja sudah berarti kalah. Kita seharusnya tidak berada di sini. Tidak ada strategi, tidak ada tujuan yang jelas mengapa kita kembali terlibat perang ini," ujar Joseph, seorang mantan guru piano yang ikut berdemonstrasi di Yerusalem.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan para demonstran, sementara aksi protes direncanakan akan terus berlanjut di pekan-pekan mendatang. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok