Repelita Jakarta - Direktur National Maritime Institute atau Namarin, Siswanto Rusdi, membeberkan sejumlah kekecewaan yang dirasakan oleh Iran terhadap Indonesia, yang dinilai telah menggerus hubungan persahabatan kedua negara yang sebelumnya cukup hangat.
Dari pertemuannya dengan duta besar dan atase pertahanan Iran di Jakarta, Siswanto mengungkapkan bahwa Iran menyimpan kekecewaan mendalam karena Indonesia tidak menunjukkan sikap tegas terhadap serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Minab yang menewaskan sedikitnya 168 orang.
ADVERTISEMENT
Iran itu sangat kecewa dengan Indonesia sebetulnya, ada beberapa hal, Indonesia itu tidak mengecam pembunuhan anak-anak sekolah yang masih kecil-kecil, tidak ada, sementara banyak pemimpin lain yang mengecam, demikian ujar Siswanto dalam wawancara podcast di kanal Youtube Forum Keadilan pada Jumat, 27 Maret 2026.
Kemudian keterlambatan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, juga dinilai telah mencederai hubungan emosional kedua negara yang seharusnya dapat dijaga dengan baik.
Putin saja sudah duluan, Anwar Ibrahim juga duluan, kita empat hari setelah itu, itu pun surat, apa susahnya Prabowo kalau memang dia masih melihat Iran sebagai sesama anggota Organisasi Kerja Sama Islam, gerakan non-blok, atau D8, demikian pernyataan Siswanto.
Lebih lanjut, menurut Siswanto, kedekatan Indonesia dengan Amerika Serikat membuat Iran meragukan independensi kebijakan luar negeri Indonesia, khususnya saat RI memutuskan bergabung dalam inisiatif yang dicetuskan Presiden Donald Trump yaitu Board of Peace atau BoP.
Apalagi Indonesia kan belakangan sudah berada di dalam grupnya Amerika Serikat, BoP, jadi agak sulit bagi Iran menawarkan kesempatan kepada Prabowo, ungkapnya mengungkapkan pandangan Iran terhadap posisi Indonesia saat ini.
Berkaca pada kejadian tahun lalu, Iran merasa diperlakukan tidak pantas setelah keikutsertaannya dalam ajang Multinational Naval Exercise Komodo atau MNEK di Bali pada 15 hingga 22 Februari 2025 tiba-tiba dibatalkan tanpa alasan yang jelas.
Siswanto mengatakan bahwa kejadian tersebut begitu membekas di ingatan Iran karena kapal perang Iran sempat berkomunikasi dan memperoleh izin untuk melintas, namun mendadak ditolak saat hampir tiba di perairan Indonesia.
Bergeraklah kapal ini dari Bandar Abbas menuju perairan Indonesia, nah itu ada dua kali terjadi komunikasi, pertama diizinkan, terus setengah jalan tidak diizinkan, tiba-tiba ketika sudah sedikit lagi masuk ke perairan kita tidak bisa, ditolak sama sekali, izinnya dicabut, ungkapnya.
Siswanto menilai keputusan pencabutan izin mendadak tersebut tidak lepas dari tekanan Amerika Serikat yang dikabarkan akan hengkang jika Iran tetap diizinkan untuk bergabung dalam latihan gabungan tersebut.
Presiden Prabowo ditekan oleh Amerika untuk tidak membolehkan kapal Iran terlibat dalam Komodo Exercise, kalau tetap dibiarkan ikut, Amerika akan angkat kaki bersama sekutunya dari latihan gabungan itu, paparnya mengenai dinamika yang terjadi.
Terakhir, terkait penangkapan dan rencana pelelangan tanker MT Arman 114 yang membawa 1,25 juta barel minyak mentah di dalamnya, kasus ini menjadi sumber kekecewaan serius dari pihak Iran karena dinilai tidak lazim dalam praktik internasional.
Kenapa kapal ini dilelang, kami saja yang biasa menangkap kapal di Selat Hormuz, kami tidak melelang kapal orang, demikian Siswanto mengutip pernyataan yang disampaikan oleh pihak Iran terkait kasus MT Arman 114.
MT Arman 114 sendiri disita oleh otoritas Indonesia setelah tertangkap melakukan transfer minyak ilegal antar kapal pada Juli 2023, yang kemudian memicu proses hukum yang berlangsung cukup panjang.
Proses hukum berlanjut hingga pengadilan kemudian menginstruksikan penjualan kapal, menyusul vonis bersalah secara in absentia terhadap kapten kapal yang merupakan warga negara Mesir dalam perkara pencemaran lingkungan.
Sebagai tindak lanjut dari putusan tersebut, Kejaksaan Agung Republik Indonesia sejak Desember 2025 mulai melelang MT Arman 114 dengan nilai mencapai Rp1,17 triliun serta menetapkan uang jaminan sebesar Rp118 miliar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok