Berita, Nasional

Serangan Houthi Guncang Riyadh, Ketegangan Timur Tengah Meluas hingga Teluk Oman

Repelita.net

12 October 2026 13:44 WIB • 145 view

Serangan Houthi Guncang Riyadh, Ketegangan Timur Tengah Meluas hingga Teluk Oman
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta – Kelompok Houthi dari Yaman dilaporkan melancarkan serangan yang menghantam ruang tunggu penumpang di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi.

Insiden yang terjadi tanpa peringatan tersebut memicu kepanikan di area terminal. Sejumlah jemaah umrah yang tengah bersiap untuk terbang dilaporkan berlarian menyelamatkan diri akibat guncangan yang terjadi.

ADVERTISEMENT

Menurut laporan jurnalis Pram Senjaya di kanal YouTube OfficialSINDOnews pada 11 Oktober 2026, serangan rudal tersebut menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai 300 orang lainnya.

Para korban dilaporkan berasal dari berbagai negara, termasuk Bangladesh, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, hingga India.

Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas peluncuran dua rudal balistik tersebut. Mereka menyebut serangan itu sebagai aksi balasan atas serangan udara Arab Saudi ke Yaman.

Ledakan rudal juga memicu kebakaran besar dan kepulan asap hitam setelah menghantam sebuah pesawat di area bandara hingga mengalami kerusakan parah.

Kelompok tersebut bahkan mengklaim telah menargetkan kawasan Bandara Riyadh sebanyak tiga kali dalam kurun waktu satu hari.

Akibat insiden tersebut, operasional penerbangan sempat dihentikan. Ratusan jadwal penerbangan dilaporkan dibatalkan atau dialihkan.

Situasi keamanan di Riyadh juga berdampak pada sektor pendidikan. Sejumlah sekolah setempat terpaksa mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke sistem pembelajaran jarak jauh.

Menanggapi meningkatnya ketegangan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh mengeluarkan imbauan resmi kepada warga negara Indonesia (WNI) agar meningkatkan kewaspadaan.

KBRI Riyadh meminta seluruh WNI menjauhi titik-titik rawan konflik dan membatasi perjalanan yang tidak mendesak ke kawasan sekitar Bandara Internasional King Khalid.

Masyarakat Indonesia di Arab Saudi juga diminta terus memantau arahan resmi pemerintah setempat dan KBRI.

Di sisi lain, konflik tersebut mendapat perhatian serius dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB.

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Jeff Bartos, mendesak kelompok Houthi segera menghentikan serangan terhadap Arab Saudi dan pemerintah Yaman.

Jeff Bartos menyampaikan keprihatinan atas kerusakan parah yang menimpa infrastruktur sipil dan fasilitas penerbangan akibat serangan tersebut.

Dalam forum internasional itu, Jeff Bartos menyatakan:

“Pola yang terjadi tetap terlihat jelas. Houthi bertindak sebagai alat Teheran untuk mengancam kebebasan navigasi, merusak stabilitas kawasan, dan meneror warga sipil yang tidak bersalah. Kami menuntut Houthi menghentikan serangan terhadap pemerintah Yaman dan Arab Saudi yang sah. Kami juga menuntut Iran menghentikan seluruh dukungannya kepada Houthi.”

Pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk mendukung Arab Saudi dan pemerintah Yaman dalam menjaga kedaulatan serta memulihkan stabilitas kawasan.

Sementara itu, ketegangan di perairan Timur Tengah turut meningkat setelah militer Amerika Serikat dilaporkan menyerang sebuah kapal kargo komersial di kawasan Teluk Oman.

Serangan tersebut berlangsung di tengah penerapan blokade maritim ketat terhadap Iran.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa kapal yang menjadi sasaran adalah MV Ocean Molica, yang juga dikenal dengan nama Arikasan dan berbendera Panama.

CENTCOM menjelaskan bahwa kapal niaga tersebut sebelumnya berangkat dari pelabuhan Iran dan mengabaikan sejumlah peringatan dari pasukan Amerika Serikat untuk menghentikan pelayaran.

Kapal kargo itu disebut sebagai kapal komersial keempat yang dilumpuhkan militer Amerika Serikat sejak blokade laut kembali diberlakukan pada 14 Juli. Dalam periode tersebut, sekitar 135 kapal dilaporkan telah dipaksa berbalik arah.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, dalam keterangannya menilai Iran telah kehilangan kendali atas Selat Hormuz.

Marco Rubio mengatakan:

“Bahkan media di Amerika Serikat mulai memberitakan betapa buruknya situasi yang dihadapi Iran. Selat Hormuz terbuka. Hampir sebanyak sebelum konflik dimulai, minyak kini mengalir keluar melalui jalur tersebut. Artinya, mereka telah kehilangan kendali penuh atas selat itu. Perekonomian mereka bukan hanya sedang terjun bebas, tetapi juga akan mencapai kondisi yang sangat buruk, setara dengan situasi yang pernah dialami oleh sangat sedikit negara di dunia. Dan semua ini merupakan kesalahan mereka sendiri, sepenuhnya akibat tindakan kelompok radikal tersebut.”(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung