Berita, Timur Tengah

Selat Hormuz Kembali Ditutup Iran di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh, Trump Sebut Teheran Kurang Ajar, India Tarik Dubes usai Kapal Kena Tembak

Repelita.net

19 April 2026 16:56 WIB • 956 view

Selat Hormuz Kembali Ditutup Iran di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh, Trump Sebut Teheran Kurang Ajar, India Tarik Dubes usai Kapal Kena Tembak
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Ketegangan di Teluk kembali naik satu tingkat bukan lewat ledakan besar, tetapi lewat keputusan sunyi Iran untuk kembali menutup Selat Hormuz hanya beberapa hari sebelum batas waktu gencatan senjata dengan Amerika Serikat mencapai titik kritis.

Langkah ini bukan sekadar manuver taktis karena ia terasa seperti pesan keras yang dilempar ke meja perundingan bahwa kepercayaan di antara kedua pihak sudah retak tak tersisa.

ADVERTISEMENT

Teheran menuduh Washington melanggar komitmen selama masa jeda konflik, sementara di sisi lain Gedung Putih justru menyiratkan kekecewaan mendalam terhadap perilaku Iran.

Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi masih berjalan namun menilai Iran bertindak agak kurang ajar, sebuah frasa yang mencerminkan hubungan yang kian menegang bukannya mereda.

Di tengah tarik-menarik itu, suara dari parlemen Iran menambah lapisan realitas yang lebih dingin karena Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa kedua negara masih jauh dari kesepakatan akhir.

Kalimat ini seperti menutup rapat harapan bahwa gencatan senjata dua pekan yang berlaku akan otomatis berujung pada perdamaian permanen antara Iran dan Amerika Serikat.

Sementara itu, laut yang biasanya menjadi jalur logistik berubah menjadi ruang ancaman karena laporan otoritas maritim menyebut kapal perang Iran melepaskan tembakan ke sebuah kapal tanker yang mencoba melintas.

Dua kapal berbendera India turut terseret dalam eskalasi ini, memaksa Pemerintah India memanggil duta besar Iran sebagai tanda bahwa konflik mulai menjalar melampaui dua aktor utama.

Selat Hormuz sendiri bukan sekadar perairan sempit karena ia adalah simpul yang mengalirkan hampir seperlima pasokan minyak dunia ke berbagai negara.

Ketika jalur ini terganggu, efeknya tidak berhenti di kawasan tetapi menjalar ke harga energi, logistik global, hingga dapur rumah tangga di berbagai belahan dunia.

Para pakar bahkan mengingatkan bahwa gangguan distribusi bisa berlangsung berbulan-bulan, jauh melampaui durasi konflik itu sendiri yang mungkin berakhir lebih cepat.

Yang tampak sekarang bukan lagi sekadar perang terbuka melainkan perang saraf di mana kapal, pernyataan politik, dan keputusan ekonomi menjadi senjata yang sama tajamnya.

Gencatan senjata yang semestinya menjadi jembatan damai justru terlihat rapuh seperti jeda napas di antara dua gelombang besar yang belum benar-benar reda.

Di titik ini, dunia tidak hanya menunggu apakah kesepakatan akan tercapai tetapi juga menghitung seberapa besar harga yang harus dibayar jika ia gagal total.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung