Repelita [Jakarta] - Perlombaan berhadiah uang tunai bernilai seratus juta rupiah yang diinisiasi oleh seorang guru besar hukum tata negara terkait dokumen kelulusan sekolah menengah wakil presiden menuai sorotan pengamat.
Analisis dari pengamat politik lokal menunjukkan bahwa aksi sayembara tersebut telah sukses mencapai target utamanya dalam memicu kehebohan di ruang publik.
ADVERTISEMENT
Besaran nominal dana yang dijanjikan dinilai bukan semata-mata upaya mencari bukti autentik, melainkan memiliki muatan kepentingan politik yang sangat kental.
Geliat perbincangan hangat di tengah masyarakat tercatat langsung mendominasi diskursus publik sejak pertama kali sayembara tersebut digulirkan.
"Selama dua hari ini, tawaran dari Denny Indrayana Rp100 juta sudah berhasil membuat kegaduhan di masyarakat," ujar Heru Subagia.
Dinamika kontroversi ini diyakini bukan sebuah kebetulan alamiah, melainkan sudah dirancang secara sistematis oleh pihak tertentu.
Target politis dinilai jauh lebih mendominasi ketimbang sekadar niatan menegakkan verifikasi keilmuan secara objektif.
"Dan tentu sudah menjadi target utama bahwa Denny ingin sebuah penetapan yang sifatnya lebih politis dan teknis daripada pendekatan akademis," tukasnya.
Umpan dana tunai yang digelontorkan dipandang sebagai trik efektif untuk menarik minat serta menyeret atensi publik secara luas.
Cara-cara semacam itu bahkan dikritik tidak mencerminkan sikap seorang cendekiawan terdidik yang menjunjung tinggi etika moral.
"Karenanya secara prinsip, betul sayembara ini didesain sedemikian rupa sehingga pancingan uang Rp100 juta telah sukses," jelasnya.
Penggunaan gimik angka finansial dalam pusaran isu strategis nasional memperlihatkan kuatnya orkestrasi skenario politik praktis.
"Melihat trik dan menipulasi angka Rp100 juta yang dijadikan umpan, perbuatan seorang politisi. Bukan bagian dari tingkah laku dan perilaku dari seorang Profesor," ucapnya.
Masyarakat diimbau agar tidak terjebak dalam pusaran opini yang sengaja dibentuk melalui rekayasa sayembara bernuansa politis tersebut.
"Sudah jelas mempertontonkan ke publik bahwa orkestrasi ijazah Gibran ini dikemas sedemikian rupa," imbuhnya.
Dugaan kuat mengarah pada upaya penggiringan opini publik bahwa polemik ijazah ini sudah bergeser jauh dari koridor pembuktian ilmiah.
"Masyarakat semakin meyakini bahwa apa yang dilakukan dalam sayembara Rp100 juta ini, semata-mata politik yang identik dengan rekayasa," tegasnya.
Menanggapi aksi tersebut, pihak pengamat justru melayangkan tantangan balik dengan kisaran nominal dana yang jauh lebih besar.
Tawaran dana segar senilai dua ratus lima puluh juta rupiah disiapkan apabila inisiator sayembara benar-benar berniat menegakkan kebenaran secara objektif.
"Berbarengan dengan pro kontra termasuk pihak mereka yang menawarkan bilamana memang Denny ini bersungguh-sungguh untuk mencari kebenaran, dan uang Rp100 juta itu memang kiranya menjadi insentif, tentu kita justru akan memberikan uang yang nilainya lebih dahsyat, Rp250 juta," ungkapnya.
Kendati demikian, keraguan mendalam disuarakan terkait niat tulus di balik penyelenggaraan lomba pencarian dokumen tersebut.
Pendekatan akademis yang semestinya dikedepankan justru dinilai tertutup oleh ambisi kepentingan golongan tertentu.
"Akan tetapi, saya sudah pesimis bahwasanya Denny memang betul mempunyai kemauan politik etika akademi dan tanggungjawab moral," katanya.
Penyelesaian masalah administrasi pendidikan kenegaraan semestinya ditempuh melalui jalur metodologi ilmiah yang dapat diuji keabsahannya.
Publik kembali diingatkan agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai trik sensasional yang mencederai marwah dunia pendidikan tinggi.
"Saya melihat konteks politik lebih dominan. Selayaknya masyarakat saat ini jangan terpancing oleh sayembara Rp100 juta yang ditawarkan Denny," Heru menuturkan.
Syarat mutlak diajukan apabila pihak penantang ingin membuktikan keseriusan moral dalam membongkar persoalan tersebut secara transparan.
"Apa yang menjadi tantangan saya yang akan memberikan uang Rp250 juta ketika Denny betul bersungguh-sungguh mencari kebenaran ijazah SMA Gibran," tandasnya.
Pembuktian ilmiah dengan metodologi riset yang valid menjadi tolok ukur utama bagi keabsahan sebuah gerakan intelektual.
"Juga Denny harus bersungguh-sungguh melakukan pendekatan ilmiah dan melahirkan metodologi penelitian yang bsia dipertanggungjawabkan secara akademik," kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok