Repelita [Jakarta] - Kondisi terdepresiasinya nilai tukar mata uang rupiah terhadap pergerakan dolar Amerika Serikat belakangan ini mulai menarik perhatian serius dari kalangan jurnalis internasional. Salah satu pemberitaan dari negara tetangga menyoroti cara pandang eksekutif pemerintahan Indonesia dalam menyikapi kemerosotan nilai mata uang domestik tersebut.
Media tersebut mengulas kutipan dari otoritas pariwisata yang menganggap jatuhnya nilai tukar justru menjadi stimulus positif bagi sektor pelancongan. Lembaran ulasan itu menyebutkan bahwa kemerosotan instrumen finansial ini dapat memperluas keterjangkauan finansial bagi para turis asing yang berniat datang berkunjung.
ADVERTISEMENT
Saat menghadiri agenda pameran pariwisata di wilayah Badung pada hari Sabtu, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyampaikan sebuah analisis strategis mengenai dampak pergerakan valuta asing ini. Ia menjelaskan situasi volatilitas mata uang saat ini berpotensi besar memikat minat pelancong mancanegara untuk menetap lebih lama di wilayah nusantara.
Menyikapi momentum fluktuasi nilai tukar tersebut, pihak kementerian terkait dikabarkan mulai menggencarkan program pengenalan wilayah demi menangkap ceruk pasar dari keunggulan daya saing harga akomodasi. Langkah taktis ini diambil guna memastikan target kedatangan sebanyak 16 hingga 17 juta kunjungan pelancong internasional sepanjang tahun dapat terealisasi secara optimal.
Manajemen pariwisata nasional saat ini sedang berupaya keras melampaui rekor kunjungan sebelum masa krisis kesehatan dunia global yang kala itu sanggup menyentuh angka 16 juta orang. Pemerintah terus menggenjot proses pemulihan lini bisnis hiburan dan perjalanan ini sejak pertama kali mengalami kelumpuhan total akibat hantaman pandemi pada periode awal tahun 2020.
Berdasarkan pemaparan dari perwakilan kementerian, arah kebijakan pembangunan sektor hiburan ke depan tidak akan lagi bertumpu secara kaku pada kalkulasi kuantitas kunjungan semata. Pemerintah memilih untuk mengalihkan konsentrasi kerja pada pengayaan mutu kunjungan serta penguatan regulasi proteksi keselamatan bagi seluruh wisatawan internasional.
"Kita tidak hanya berbicara tentang angka. Kita ingin fokus pada kualitas pengalaman yang dirasakan wisatawan saat berwisata di negara kita. Pariwisata berbasis pengalaman adalah kunci pengembangan pariwisata kita," kata Ni Luh menjabarkan visi kementeriannya.
Sementara itu, kondisi riil pasar keuangan dalam negeri pada sesi pembukaan perdagangan hari Rabu menunjukkan pergerakan rupiah yang terus tertekan ke zona merah. Instrumen keuangan domestik dilaporkan merosot ke kisaran belasan ribu per dolar akibat kuatnya tekanan eksternal kapital global.
Berdasarkan monitoring komprehensif pada pukul 09.15 WIB, angka transaksi mata uang Garuda berada pada level Rp17.887 per dolar Amerika Serikat atau mencatatkan pelemahan sebesar 0,39 persen. Kondisi lesu ini berbanding terbalik dengan mayoritas pergerakan nilai tukar regional Asia lain yang justru menunjukkan performa penguatan secara konsisten.
Sejumlah aset moneter seperti dolar Taiwan tercatat menguat 0,05 persen, disusul oleh pergerakan dolar Singapura yang merangkak naik sebesar 0,02 persen. Tren positif juga dialami oleh won Korea serta mata uang yen Jepang, sementara pelemahan serupa di kawasan regional hanya dialami oleh instrumen baht milik Thailand.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok