Repelita [Jakarta] - Ikatan mahasiswa dari Universitas Indonesia di bawah komando Yatalathof Ma'shum Imawan bersiap merapatkan barisan guna merespons iklim demokrasi serta guncangan finansial di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Langkah awal bakal diwujudkan lewat agenda diskusi kelompok terarah yang melibatkan seluruh perwakilan mahasiswa internal sebelum diperluas ke ranah penggalangan kekuatan di tingkat pusat.
ADVERTISEMENT
“Senin kita akan ada FGD membahas masalah kebangsaan. Kemudian, Rabu ada konsolidasi nasional,” kata Yatalathof, Ahad 7 Juni 2026.
Hingga saat ini belum ada keputusan bulat dari pihak fungsionaris kampus untuk menggelar demonstrasi massa di jalanan demi menyikapi keterpurukan nilai tukar mata uang domestik.
Sebelumnya pergerakan simbolis telah dilangsungkan di kawasan ikonik Tugu Makara, Depok pada pertengahan bulan lalu guna memproklamirkan berakhirnya era reformasi.
Sejumlah masa yang mengenakan atribut gelap tampak memadati area bundaran sambil mengusung bentangan poster satir serta replika tempat pemakaman sebagai lambang duka.
Simbol berkabung kian dipertegas dengan penutupan struktur utama monumen menggunakan lembaran kain putih oleh para peserta demonstrasi.
“Kami menyatakan bahwa reformasi yang selama ini diperjuangkan kini telah mati,” ujar Hafidz selaku penanggung jawab pergerakan di lokasi.
Dirinya menambahkan indikasi tersebut diperkuat oleh banyaknya tuntutan kerakyatan yang tidak kunjung diakomodasi oleh para pemegang otoritas negara.
“Kami melihat agenda reformasi telah usai,” kata dia.
Fase krusial ini dicemaskan bakal membuka ruang bagi lahirnya sistem pemerintahan baru yang condong mengekang kebebasan berekspresi layaknya era masa lampau.
Di wilayah lain, gabungan mahasiswa dari aliansi BEM SI menggelar teatrikal membakar uang mainan di depan kantor perwakilan otoritas moneter Jawa Tengah pada akhir pekan lalu.
Aksi provokatif ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam atas terus merosotnya posisi rupiah terhadap mata uang asing yang dinilai sangat memukul ketahanan finansial masyarakat.
Berdasarkan data pasar pada medio pekan lalu, posisi rupiah kedapatan melemah hingga menyentuh level Rp18.049 per dolar AS dari penutupan hari sebelumnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa penyusutan nilai tukar ini secara otomatis bakal menambah beban liabilitas pinjaman yang ditanggung oleh kas negara.
Kendati demikian, pihak kementerian memastikan bunga obligasi negara masih berada pada skema bunga tetap yang telah masuk dalam kalkulasi risiko fiskal.
“Ini masih dalam range perhitungan kami yang sebelumnya saya sebutkan,” ujarnya ketika ditemui di Gedung DPR pada Kamis, 4 Juni 2026.
Skenario mitigasi diklaim telah dipersiapkan sejak awal oleh bendahara negara, khususnya bila terjadi lonjakan harga minyak mentah global meski asumsi awal APBN berada di angka Rp16.500.
“Penyesuaiannya cukup tinggi, tapi saya nggak sebutkan, nanti rupiah melemah signifikan. Tapi pada dasarnya fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang,” tuturnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok