Berita, Ekonomi

Rupiah ambrol, Ferry Latuhihin sampaikan surat terbuka untuk Prabowo: Pemerintah bikin blunder

Repelita.net

05 June 2026 15:48 WIB • 1,115 view

Rupiah ambrol, Ferry Latuhihin sampaikan surat terbuka untuk Prabowo: Pemerintah bikin blunder
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Kondisi ekonomi nasional kini menjadi sorotan tajam setelah ekonom senior Ferry Latuhihin melayangkan kritik keras kepada Presiden Prabowo Subianto.

Melalui unggahan video di kanal YouTube pribadinya pada 4 Juni 2026, ia menyoroti tren pelemahan mata uang rupiah serta kondisi pasar modal yang memprihatinkan.

ADVERTISEMENT

Ferry memperingatkan risiko depresiasi lebih lanjut pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang saat ini berada di atas level Rp18.000.

"Saya tetap konfirmasi, ya. Saya tetap sangat yakin bahwa dolar berpotensi ke arah Rp20.000. Mungkin bulan ini," ujarnya dalam unggahan tersebut.

Ia menilai berbagai kebijakan yang diambil pemerintahan saat ini justru tidak bersahabat bagi investor dan pelaku usaha di tanah air.

"Yang menyebabkan tekanan begitu bertubi-tubi terhadap rupiah maupun harga saham adalah kebijakan-kebijakan pemerintah yang sama sekali tidak welcome terhadap para pelaku pasar. Pemerintah bikin banyak sekali blunder," ungkap Ferry yang merupakan mantan anggota Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran.

Salah satu kebijakan yang dipersoalkan adalah pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang dikhawatirkan memicu praktik moral hazard dalam aktivitas ekspor komoditas strategis.

Ferry juga menyoroti keraguan pasar terhadap angka pertumbuhan ekonomi 5,61 persen yang dirilis pemerintah karena dinilai didorong oleh lonjakan pengeluaran negara yang masif.

Selain itu, ia memberikan catatan kritis terhadap program Makan Bergizi Gratis yang dikelola Badan Gizi Nasional karena dianggap rawan penyimpangan anggaran.

"Kalau mau [MBG] diteruskan, dirasionalkan anggarannya, daerah-daerah mana yang membutuhkan MBG. Enggak semua 83 juta siswa itu," sarannya.

Menurut Ferry, akar permasalahan saat ini adalah krisis kepercayaan publik terhadap arah kebijakan pemerintah yang dinilai condong pada sistem ekonomi terpusat.

Ia menutup pesannya dengan menyarankan pemerintah agar memperbaiki komunikasi kebijakan serta menciptakan regulasi yang mendukung penciptaan lapangan kerja dan ramah bisnis.

"Masalah kita adalah masalah distrust, masalah ketidakpercayaan terhadap rezim ini. Kita lihat misalnya kemarin dari hal-hal kecillah, bagaimana kurban sapi yang dilakukan Pak Presiden itu jadi disputed," pungkasnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung