Repelita Jakarta - Tidak munculnya salah satu tersangka dugaan fitnah ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo, Dokter Tifauzia Tyassuma, di publik memunculkan banyak spekulasi di tengah keputusan rekannya Rismon Hasiholan Sianipar yang mengajukan permohonan Restorative Justice (RJ) di Polda Metro Jaya.
Banyak pihak yang menuding bahwa Tifa telah mengikuti langkah Rismon serta dua pendahulunya, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis, yang lebih dulu berdamai dengan pihak pelapor dalam kasus serupa.
ADVERTISEMENT
Namun pakar telematika Roy Suryo memastikan bahwa hal itu tidak terjadi, dengan menyebut dr Tifa tetap konsisten dengan pernyataan awalnya dan tidak berubah sikap meskipun sempat dikhawatirkan karena tidak terlihat di ruang publik.
“Alhamdulillah kemarin dr Tifa sudah muncul kembali. Memang sempat dikhawatirkan karena diam, tapi akhirnya tetap bersama para lawyer dan tetap kekeh dengan pernyataan awal,” ujar Roy dalam tayangan YouTube Forum Keadilan TV pada Senin (30/3/2026).
Roy menegaskan bahwa isu tentang perubahan sikap Tifa tidak benar dan justru merupakan bagian dari upaya sistematis untuk memecah belah kelompok yang masih terlibat dalam polemik hukum tersebut.
“Yang tersisa sekarang lima orang. Ini yang justru diupayakan agar terpecah,” tukas Roy, merujuk pada jumlah tersangka yang masih bertahan dalam kasus tersebut.
Roy juga mengungkap adanya pola adu domba yang dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui penyebaran pesan WhatsApp palsu yang mengatasnamakan Tifa dengan format menyerupai komunikasi asli lengkap ucapan Idul Fitri dan ajakan pertemuan tertutup.
“Penulisan nama saja salah, lokasi pertemuan juga tidak sesuai. Setelah saya telusuri, nomor itu memang dibuat khusus dan baru diaktifkan untuk tujuan ini. Padahal itu tidak benar sama sekali. Ini jelas siasat licik untuk memecah belah,” tegasnya.
Roy turut menyinggung kelompok pendukung Jokowi yang ia sebut sebagai Ceboker Nusantara dengan pola yang relatif seragam, yaitu memperbesar isu, menggunakan framing bombastis, lalu menyerang secara serempak di berbagai platform tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Ia juga mengecam narasi mengenai dugaan dana Rp50 miliar yang dikaitkan dengan polemik tersebut karena menyeret sejumlah tokoh nasional seperti Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Luhut Binsar Pandjaitan, Jusuf Kalla, hingga Mahfud MD.
“Ini menurut saya sangat kurang ajar. Nama-nama besar diseret untuk membuat seolah-olah informasi itu valid. Tidak ada video asli, tidak ada pernyataan langsung. Semua hanya narasi,” tegas Roy.
Roy menilai pola penyebaran isu tersebut memiliki karakter yang sama, biasanya muncul menjelang momentum tertentu, menyebar lebih dulu di media sosial, menggunakan akun dengan pola serupa, serta mengaitkan nama besar untuk membangun legitimasi.
Ia menegaskan bahwa jejak digital dari pola penyebaran tersebut sebenarnya dapat ditelusuri secara teknis, termasuk kapan nomor telepon dibuat, di mana diaktifkan, dan untuk apa digunakan.
Roy juga mengingatkan publik untuk semakin kritis terhadap potensi eskalasi hoaks yang lebih canggih seperti penggunaan deepfake dan manipulasi berbasis kecerdasan buatan (AI) di masa mendatang.
“Publik harus semakin kritis karena bukan tidak mungkin ke depan akan muncul video atau audio palsu yang dibuat seolah-olah berasal dari tokoh tertentu,” kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok